Wednesday, March 09, 2005

VISA, PINTU, MAKAN SIANG

Tadi malam susah sekali untuk bisa tidur. Setelah bekerja hampir seharian dan dalam rangka libur pula. Tapi mostly the most important adalah menikmati kehidupan itu sendiri sehingga ketika kita menjalankan sesuatu yang tidak seharusnya [seperti libur tapi harus bekerja], kita dapat menjalaninya dengan hati terang, tenang dan senang.

Seperti juga pagi ini ketika ketenangan saya dalam menyambut pagi dengan ritual mendengarkan musik-musik lembut terusik oleh bunyi telpon tangan saya yang berdering berulang-ulang. Salah satu Home Staff yang menelpon ternyata, Mr. Economic Counsellor mengatakan bahwa Excellency HOR Namhong, the Minister of Foreign Affair baru saja menghubungi beliau dari Singapura dan mengatakan bahwa beliau tidak diperkenankan masuk ke Indonesia dan meminta Mr. Ambassador untuk menelpon beliau.

GUBRAAAKKSSS ... !!! ..

That's not a good sign. Maka dengan berat hati namun mengucap Bismillah, saya menelpon Mr. Ambassador kemudian mem-brief beliau dengan kasus yang sedang terjadi. I pass all the messages including nomor telpon H.E. Mr. Minister.

Dan dimulailah kesibukan hari ini. I did not enjoy the music at all karena tiba-tiba saja suasana kedutaan yang biasanya aman, damai, tentram dan sentosa tiba-tiba berubah menjadi tense dan segala sesuatunya dilakukan tanpa senyum. Dooohhh ... another day in paradise :p

Belum selesai urusan visa, tiba-tiba saja urusan pintu kembali mencuat ke permukaan. Nampaknya semua orang tidak ambil pusing dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Mr. Ambassadornya sendiri. I was so angry, buat saya pribadi berarti hal tersebut adalah indikasi dari tidak menaruh hormatnya para orang-orang yang protes tersebut kepada Mr. Ambassador. Mulai dari pintu toilet ruang tamu, pintu masuk ruang tamu, pintu tangga Mr. Ambassador sampai dengan pintu keluar dari ruang saya menuju ruang tamu, menjadi satu permasalahan dengan masing orang yang berbeda.

Dan kejadian pagi ini ditutup dengan telatnya jam makan siang. Biasanya paling lambat pukul satu Mr. Ambassador sudah meninggalkan tempat namun tampaknya hari ini menjadi berbeda karena terusnya orang yang dipanggil bergiliran datang ke ruang beliau, so beliau baru saja pulang pukul dua siang untuk makan siang.

Sementara saya ? .. menikmati nasi goreng that supposed to eat on Breakfast. What can I do ? *sigh* .. memang sudah menjadi konsekuensinya namun buat saya dan saya menerima hal tersebut dengan baik. What do you expect more ?

No comments: