Sunday, October 26, 2008

JENG JONI - Sebuah Cerita Masa Lalu

Cerita ini dikirim oleh Hera, sahabat baik dan teman ngobrol Bunda. She told me that she has written something about story that my mom told her few weeks ago. Hera went to my house with Ata.

Thanks to Hera.

Bunda is the best woman I ever know in my life. Love you so much, Bun.


JENG JONI


Cerita Singkat Jeng Joni...

Entah mengapa hari itu tiba-tiba mendung, padahal kami berdua baru saja menapakan kaki di rumah kavaleri yang kerap kami kunjungi itu.

Niat hanya berhalal bi halal ternyata berlanjut menjadi Nostalgia-nya Jeng Joni, dan beberapa pelajaran bagi kami berdua (dua mahkluk yang selalu dirundung pertanyaan...4W + 1H -who,when,where,why dan how).

Mendadak saja pembicaraan tentang lebaran bergeser 180 derajat menjadi cakap-cakap bertopikkan : "Eyang pernah pacaran berapa kali?"

Eyang atau yang dia kerap memanggil dirinya Jeng Jon itu hanya mengacungkan jari telunjuknya saja...yah berarti 1...hanya 1 kali.

Bukan bohong, bukan membesar-besarkan. LANGIT mendadak seperti tak berujung...hitam...terdengar gelegar petir dikejauhan, "belum hujan, teman", mata aku dan sahabat aku bertatapan takut.

Lanjut kata, Jeng Jon menceritakan kehidupan dia yang tampak sangat ia nikmati, mulai dari Perjalanan Dansa yang menjadi hobinya ketika sekitar tahun 1940-an...

Kami berdua terperangah...DANSA .. okey ...TAHUN 1940 .. okey...di BANDUNG .. wow... Dia berkata hobi dansa itu memang sudah turunan dari kakak lelakinya, yang selalu mengajak dia untuk dansa setiap "Saturdah Avon" – malam minggu, jam 18.00 di tempat dansa teman kakaknya, jam 21.00 mereka pindah ke Hotel Homan, dan lanjut ke Hotel Lembang sampai jam 5.00 subuh.

Bukankah itu ketika masa-masa para pejuang terbirit-birit ingin berkata MERDEKA...(hanya itu yang tampaknya kami tahu setelah mengenyam pendidikan pelajaran sejarah lebih dari 10 tahun) kami tiba-tiba merasa tersaingi secara KO...tahun 1940-an!!! Senang merasa ada teman seperjuangan yang berbeda jaman.

Mata kami saling bertatapan...air mulai mengucur dari atap yang disambung canopi berwarna putih itu...Yah sudahlah, memang positf hujan semakin membesar...namun Jeng Jon tetap bercerita.

Masih bersikukuh dengan pertanyaan kami...Bagaimana Jeng Jon bertemu Suami?

Saat ini Jeng Jon memiliki 7 orang anak yang sudah menyebar dimana-mana...Namun suami Jeng Jon wafat pada tahun 2001, entah tepatnya bulan apa.

Jeng Jon...menatap foto, foto itu setia menyambut kami dalam setiap pertemuan yang memang berposisi di tembok ruang tengah...hujan sangat lebat dan angin mendadak masuk ke rumah bergaya kolonial Belanda itu karena memang kami tidak pernah menutup jendelanya.

Jeng Jon bilang, pertemuan ia dengan Joni sangatlah aneh...

Pertemuan itu dimulai ketika Sri, Sahabatnya ketika masih muda, menitipkan surat untuk kekasihnya yang memang anggota militer bernama Yavni Lubis. Jeng Jon muda pun tanpa keberatan pergi ke daerah barak Kavaleri dari kediamannya sekitar jalan Pasirkaliki - yang kami kenal saat ini.

Pertemuan Jeng Jon muda dan Joni pun hanya sebatas perbincangan menunggu waktu saja sambil Yavni mempersiapkan diri untuk menengok Sri bersama Jeng Jon muda.

Lanjut cerita, suatu hari Sri mengajak Jeng Jon muda untuk menonton di Concordia - saat ini, Gedung Merdeka. Sri tentu datang bersama Yavni dan Yavni membawa serta Joni untuk menemani Jeng Jon muda. Dipertengahan pemutaran film, Jeng Jon muda merasa mual...akhirnya Joni lah yang terpaksa mengantarkan Jeng Jon muda ke rumahnya menaiki becak.

Jeng Jon, mengambil nafas sebentar sambil berdiri mengambil beberapa toples kue untuk kami berdua.

Ia tertawa seketika ketika bercerita soal becak yang ia tumpangi, tampaknya Joni muda ini memang benar-benar militer sejati yang jarang bertemu orang sipil dan bersosialisasi dengan perempuan. Joni muda duduk di becak mendahului Jeng Jon muda, Jeng Jon muda berkata : "lho gimana aku bisa duduk kalo kamu duduk duluan disitu, gimana sih?"...dengan lurus, Joni muda turun kembali dan duduklah mereka berdua di becak itu.

Jeng Jon muda lari mendahului Joni memasuki rumah, terbirit menuju kamar mandi...Mami Jeng Jon melirik aneh, lalu dia melihat sesosok pria di depan pintu yang hanya berkata : "Iya nih dari tadi aku suruh pulang," Mami Jeng Jon dan Jeng Jon terhenyak dengan nada yang terhempas dari bibir lelaki muda ini.

Jeng Jon dan maminya membahas ucapan Joni muda yang cukup tegas untuk seukuran orang yang baru sekali itu bersandang ke rumahnya. Mami Jeng Jon berpendapat, tampaknya lelaki itu baik, tegas, dan tidak macam-macam. Lalu Jeng Jon muda melanjutkan kisah hidupnya menjadi kekasih Joni...kalau memang ada istilah seperti itu di masa tersebut.

Hujan berhenti dengan tiba-tiba, tapi angin malah semakin menusuk rusuk rasanya. ehh benar saja, hanya sekitarr lima kedipan mata ternyata hujan sudah tak kuasa lagi ingin membasahi bumi. Jeng Jon berlanjut dengan kisahnya.

Suatu hari, setelah pertemuan mereka yang kedua kali tersebut, Jeng Jon mendapatkan teguran dari Sri, teguran titipan dari Joni yang berkata bahwa Jeng Jon muda itu sombong benar, seringkali bertemu di Pasar Kosambi, eh kok tampaknya cuek saja.

Lalu kami berdua bertanya, "lho kok bisa eyang?"

Ia hanya menjawab singkat, "yah...aku sih emang kaya gini, suka lupa sama muka orang..." jawaban modern yang keluar dari penghuni dunia yang sudah tiga perempat abad hidup di dunia.

Suatu kali, Jeng Jon tambahkan, ketika mereka sudah menjadi kekasih Jeng Jon bercerita kalu mereka memiliki prinsip : Kamu bebas dengan temanmu siapa pun, urusanmu yah urusanmu, yang penting kami satu sama lain mengerti, dan kalau jodoh tidak akan kemana.

Sebenarnya itu merupakan satu pernyataan yang aku dan sahabat aku bikin ngeri. Kami terlanjur haus belaian kasih akung dan perhatian yang senantiasa menyerap energi kami berlebihan. tapi kami tiba-tiba menunduk...kok eyang bisa seperti itu...

Lanjut kata, Jeng Joni muda pernah bertemu Joni sedang berduaan nonton film di Alun-Alun Bandung. Jeng Jon muda sedang bersepeda, "Mas lagi apa?" Joni muda, "Baru nonton ni, eh aku anter dulu dia yah nanti aku kerumahmu." Jeng Jon, "Ok sampai ketemu". Joni berlalu dan Jeng Jon muda pun kembali mengayuh sepedanya ke arah kota. Tak ada rasa jengkel atau cemburu atau apapun yang tersirat dimukanya.

Kami berdua angkat bicara, "lho kok eyang diem aja?" setengah ingin tahu dan setengah lagi membayangkan kecengan masing-masing *yang dalam tanda kutip sangat sulit dan tidak ada kabar secuil apapun. stres mulai menggema dalam dada.."Eit belum selesai" tambah Eyang.

"Ngapain musti cape-cape cemburu, wong belum tentu dia juga berselingkuh, mungkin perempuan itu temannya, daripada habis energi eyang mikir mending, santei"

Kedua alis kami mendadak beradu seperti banteng edan yang meronta tapi buta arah.

"Eyang Joni juga ga komentar tuh kalau Eyang pergi main sama cowo lain, sahabat Eyang, suruh siapa dia telat nyamper ke rumah...kan waktu itu ga ada telepon...yah wayah na aja (yah terima aja)..." memang benar, hobi Jeng Jon muda adalah jalan-jalan, jadi siapapun yang mengajaknya pergi dan diperbolehkan maminya, pasti dia pergi. Adalah resiko bagi Joni muda jika dia telat datang, pilihannya adalah menunggu di ruang tamu sambil membaca atau pulang dan kembali lagi sore harinya. Joni muda tidak pernah juga mengeluh atau bertanya mengapa Jeng Jon muda pergi bersama pria lain, toh dia hanya berprinsip, jika jodoh pasti takan kemana, mungkin pria itu temannya Jeng Jon, karena memang hobinya bersosialisasi.

Sahabat aku dan aku kembali melihat LANGIT, berharap reda...tapi entah kenapa, tampaknya Eyang harus menyelesaikan ceritanya baru LANGIT mengijinkan kami berangkat.

Pernah suatu saat ketika mereka sudah menikah, Jeng Joni didatangi oleh sahabat Joni muda yang sedang ada di luar kota. Abdullah datang dengan berita bahwa Joni muda sedang Haberhoven – Jalan-jalan ke puncak/daerah atas dengan perempuan lain. Jeng Joni hanya tersenyum dan berkata, "Oh bukannya dia lagi dinas jaga yah di Jakarta, ooo kalo dia memang main ke puncak yang ndak apa-apa toh, mungkin perempuan itu temannya." Abdullah mati-matian berkata kalo Joni muda berbohong dan Jeng Jon dengan muka lurus hanya tersenyum dan berkata, "yah...ngapain buang energi marah, nanti saja tanya sama Mas Jon kalau pulang."

Beberapa hari kemudian Joni muda pulang dari tugas dan langsung menyodori amplop yang dipenuhi uang pada Jeng Jon. Jeng Jon yang memang jujur bertanya, "Ini uang apa? Dari mana?" Joni muda menjawab, "ini uang kamu", "kok banyak sekali, dari mana ini?" sanggah Jeng Jon. Joni pun bertanya apakah Abdullah temannya mampir ke rumah beberapa hari lalu dan menjelaskan kalau mereka berdua taruhan untuk membuat Jeng Jon cemburu. Abdullah tidak percaya dengan kata-kata Joni muda bahwa Jeng Jon bukanlah perempuan biasa yang pencemburu dan akhirnya Abdullah menelan ludahnya sendiri, maka satu bulan gaji pun harus dia relakan pada Joni muda. Jeng Jon menolak setelah tahu uang itu adalah uang Abdullah, namun Abdullah dan Joni bersikukuh dengan taruhan mereka dan akhirnya Jeng Jon hanya kipas-kipas dan tersenyum.

Jam handphone kami menunjukan waktu pukul 20.00 wib, sudah sangat telat untuk pergi sebenarnya, karena kami berniat untuk membeli dua mangkuk bubur hangat spesial di jalan Burangrang dan melanjutkan perjalanan ke TOBUCIL untuk membeli benang rajut untuk sahabat aku ini.

Percakapan pun kami tutup karena waktu sudah sedikit larut untuk melanjutkan perjalanan.

Jeng Joni...
Perempuan berusia 74 tahun ini tetap sederhana, hidup sendiri di rumahnya dan berprinsip tidak mau menyusahkan anak-anaknya dengan menemaninya di hari tua. Jeng Jon tetap memandang foto Joni dan terlihat sangat tegar bercerita semua kepada kami, padahal air mata kami sama derasnya dengan hujan di luar sana. Karena dia terlahir yatim sejak berusia belia dan terpaksa harus mau dijadikan anak angkat oleh keluarga tak beranak dan akhirnya berakhir dengan menjadi separuh pekerja buruh tani untuk menghidupi keluarganya dan membiayai sekolahnya.

Banyak hal yang kami dapat tidak hanya dari cerita Jeng Jon dimasa muda dengan pengalaman dansanya, tapi juga menyikapi hidup ini dengan sederhana saja dan yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah yang terbaik untuk kita.

Joni dan Jeng Jon menikah diatas prinsip saling mempercayai satu sama lain dan berusaha untuk fokus dengan hal yang harus mereka lakukan sesuai dengan porsinya.

Semangat dan cinta Jeng Jon tiba-tiba saja melingkupi aura kami berdua, entah mengapa udara dingin bekas hujan itu tidaklah terlalu menusuk seperti yang kami kira.

Boleh dibilang, kami kagum dengan kekuatan hati Jeng Jon melihat Joni sebagai sebuah kepercayaan. Sedang kami berdua menghela nafas di sisa perjalanan kami menuju warung bubur untuk sekedar mengisi kekosongan perut kami.

Lima menit perjalanan dipenuhi dengan kekaguman pada Jeng Jon dan sisa perjalanan itu tanpa sadar kami tujukan pada persemedian masing-masing.

Tiba-tiba kami berkata sesuatu berbarengan "Haberhoven" Bahasa Belanda yang berarti jalan-jalan ke daerah atas. Kami tertawa terbahak-bahak sambil berucap ala menir dan nyonya Belanda. mendadak dada kami terasa sesak dan bertanya mengapa kami tidak sabar dan sulit menumbuhkan rasa percaya atau sikap positif pada keadaan kami saat ini, sulit memang, sulit, lebih sulit dari pelajaran statistik karena tidak ada data yang bisa dihitung atau diolah.

Aura Jeng Jon memudar, kami mulai kembali bias dengan rasa yang kami selalu pertanyakan. Mengapa tidak ada kabar...sahabat aku angkat bicara, "aku rindu dia..." aku menyambung kata sambil tangan kanan memegang helm proyek putih yang mulai merosot, "sama...ga ada kabar..." Teringat betapa gundah gulana nya kami jika hidup di masa Jeng Jon yang tidak ada telepon untuk mengabari, handphone membuat kami menjadi budak...yah kami tiba-tiba menjadi budak seperti di jaman Fir'aun...yang rakus akan kekuasaan...namun kita haus akan kasih sayang.

Kehangatan rasa Jeng Jon yang sederhana menusuk mata hati, mengapa kami tidak bisa seperti dia...memang orang berbeda, tapi betapa murninya dan sederhananya pemikiran dia. Jujur, aku merasa merangkak di atas belukar dengan pasir hisap ketika harus memikirkan-nya...

Sahabat aku berkata "aku pasrah...nyerah..."

LANGIT, entah mengapa tampak cerah di daerah atas...namun tidak di daerah bawah Bandung tadi, seakan memberikan kesempatan bagi Eyang untuk memberikan kami kehangatan dan jawaban ditengah kerinduan kami dengan merumahkan kami selama kurang lebih dua jam di rumah Kavaleri itu dengan cerita-cerita tentang kesederhanaan dan percaya pada kondisi.

Seperti biasa, ketika kami mulai terdesak, kami bernyanyi...kami mencari soundtrack yang tepat dengan perasaan kami...akhirnya tersenandunglah lagu

kau boleh acuhkan diri ku
membuat ku terluka
tapi takan merubah perasaanku kepada mu

aku mau mendampingi dirimu
aku mau cintai kekurangan mu
aku yang rela terluka untuk masa lalu...uuuu


Alhasil dua bait itu membuat kami terjepit diantara dua angkot yang mengebut dari arah yang sama...jeritan pun keluar...mengeluarkan nama masing-masing yang tentunya dirindukan di dalam dalam dalam nya hati.

"_ _ _ _" dan "_ _ _ _" sahabatku menjerit sambil tertawa dan aku pun demikian...sampai kami saling bertatapan dan merasa bodoh.

Honda Revo pun kembali memancangkan gasnya....

Lalu kami berteriak bersamaan "Hidup Jeng Joni...."


*Malam itu, buat ku pribadi, adalah malam yang tak pernah terlupakan...karena Perjalanan cerita Jeng Joni membuahkan limpahan kebahagiaan tak terduga. Beberapa jam kemudian di tempat yang lebih tinggi dengan udara yang lebih menusuk rusuk, semangat Jeng Jon kembali muncul...walaupun LANGIT kembali meminta aku untuk bersabar dan yakin - dengan mengambil balon merah ku...entah sampai kapan...:)