Guratan Pena
Thursday, July 02, 2009
SYUKUR - Sebuah Rasa Di Hati
Entah kenapa tiba-tiba keinginan untuk menulis kembali menggelorakan jiwa yang lagi gundah gulana ini *halah!*, gara-garanya tadi siang meeting dengan Poet dan teman-teman dari Gram. Tapi yang ingin ditulis sekarang tidak ada hubungannya dengan apa yang tadi di-meeting-kan. Hanya sebuah pemikiran yang entah kok tiba-tiba saja keep bumping in my head.
Ketika kita bertanya pada kehidupan dimanakah letak keadilan, pada saat itu kita semestinya menyadari bahwa kita sedang marah, kesal dan mungkin kecewa atas apa yang terjadi pada kehidupan kita.
Saya pernah ada pada masa itu, masa dimana saya mempertanyakan letak keadilan dalam kehidupan saya karena saya melihat begitu banyak orang yang seolah-olah lebih beruntung daripada saya.
Banyak contoh kasus. Semisal saya sedang dalam status lajang dan tak punya pasangan sementara itu teman-teman saya yang notabene punya pasangan merasa tidak puas dengan pasangannya atau mungkin berselingkuh atau mungkin diluar dari hubungannya dengan pasangannya dia dengan seenaknya bisa tidur dengan orang lain tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun.
Ada juga teman yang kehidupannya sebegitu indahnya walaupun saya tahu bahwa semua fasilitas yang dia punya adalah bukan miliknya namun pemberian dari pasangannya, segala kemewahan, liburan dan juga apa yang selama ini diimpikannya bisa terwujud, itu semua berkat pasangannya. Terkadang saya bertanya, adakah cinta disana ? Atau sekedar kamuflase saja ?
Belum lagi teman yang sebenarnya hidupnya sudahlah sangat mapan karena tanpa bekerja pun pasangannya sudah memberikan segala apa yang dia mau tapi tampaknya hal itu pun belum cukup untuk dirinya.
Betapa saya melihat ketidakadilan seolah menghantui setiap langkah saya.
Sampai kemudian saya duduk terdiam dan merenungkan semua ini pada satu titik di satu malam ketika saya bersimpuh pada-Nya.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Adil, Dia tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya dan yang paling penting kita tahu bagaimana kita bersyukur atas segala yang diberi oleh-Nya.
Apakah teman saya yang punya pasangan ataupun yang berselingkuh atau pun yang bisa seenaknya tidur sana sini walaupun sudah punya pasangan, bahagia ? Belum tentu! Kadar kebahagiaan setiap orang berbeda tentunya. Kita akan mampu bahagia kalau kita tahu bagaimana bersyukur atas segala yang kita punya dan tak merasa kekurangan.
Apakah teman saya yang acap kali terbang sana sini untuk liburan sudah merasakan bahagia ? Belum tentu! Karena mungkin dia sekarang dibutakan oleh kesenangan dan hidup mewah dan dia tidak bisa membedakan mana teman yang sesungguhnya dan mana teman yang menemaninya hanya karena dia sekarang terlihat senang.
Apakah teman saya yang hidupnya sudahlah sangat mapan, bahagia ? Belum tentu! Karena saat ini dia lupa untuk bersyukur, dia lupa untuk mengingat siapa yang memberi semua yang dia miliki sekarang. Apa jadinya jika semua keadaan menjadi berbalik ?
Semua ini saya tulis bukan karena saya iri atau saya cemburu atas apa yang mereka miliki, mereka punyai dan mereka jalani, tapi ini semua semata karena saya ingin agar mereka mau membuka mata untuk lebih sadar akan kehidupan bahwa tidak selamanya roda itu selalu diatas dan tidak selamanya mereka memiliki apa yang mereka miliki sekarang.
Saya pernah berada di posisi puncak dan saya tahu bagaimana rasanya memiliki semua fasilitas tanpa perlu berpikir besok harus bagaimana, tapi saat itu saya lupa untuk bersyukur sehingga ketika saya ditegur saya menjadi gelagapan, tak bisa berpikir jernih namun satu hal bahwa semua itu membawa hikmah banyak. Saya tahu sekarang siapa teman yang sesungguhnya, yang mau menemani saya walaupun uang di kantong hanya tinggal lima ribu rupiah, saya tahu sekarang siapa teman yang sesungguhnya, yang mengundang saya makan siang dan tidak pernah meminta bayaran kembali atas makanan yang dia belikan untuk saya, saya tahu sekarang siapa teman yang sesungguhnya, yang mau mengajak saya tanpa memandang status yang saya miliki sebagai orang tak punya, ...
Saat ini saya mengakui bahwa saya berada pada titik terendah dalam kehidupan saya. Untuk makan pun bisa sehari sekali saya mengucap syukur Alhamdulillah. Untung ada teman baik yang berbaik hati mau menampung saya tinggal di tempatnya sehingga sedikitnya saya bisa bernapas lega dan masih bisa menikmati kemewahan internet ini.
Semua ini membuat saya sekarang selalu menundukkan kepala mengucap syukur kepada ALLAH SWT atas segala yang telah diberikan oleh-Nya.
Semoga nanti ketika roda berputar dan kondisi saya beranjak naik, saya bisa membantu orang-orang yang kesulitan dengan ikhlas. Amin!
Posted by -dimas hary- ::
22:44 ::
0 Comments:
Post / Read Comments
---------------oOo---------------
Tuesday, June 16, 2009
Awal dan Akhir 1 - Sebuah Cerita Cinta
Lagi-lagi dilibatkan dengan cerita cinta. Mungkin karena memang bulan Juni ini dipenuhi dengan banyak hal yang berbau cinta, seolah-olah meng-amin-i sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni yang konon kabarnya diinspirasikan oleh cintanya kepada seseorang.
Dipikir-pikir lama sekali saya tidak pernah meng-update apa yang menjadi cerita cinta milik saya sendiri, I prefer to keep it for myself but somehow entah kenapa kok rasanya sekarang malah ingin curhat, ingin cerita supaya tidak ada beban.
Yang pertama adalah ketika beberapa waktu yang lalu saya diundang makan malam dalam rangka ulang tahun salah satu sahabat baik saya, Fa, seorang penulis yang telah menerbitkan dua buah bukunya dan sekarang lagi kasmaran dan berbahagia karena pada hari ulang tahunnya tersebut dia sudah didampingi seseorang, even a piece of cake-nya saja sudah diberikan kepada orang tersebut, officially mereka sudah menjadi love-bird (lhoo kok iri ? hihihi ...).
Dalam makan malam tersebut ketika acara sudah hendak berakhir saya baru melihat seseorang yang somehow sangat menarik dan orangnya pendiam. Saya bertanya kepada Ant siapa orang itu dan Ant menjelaskan bahwa orang itu adalah Alx mantannya Fa. Kemudian saya duduk didekatnya dan mulai berbincang-bincang, well, sebuah perbincangan ringan dan apa adanya, sekedar bertanya tentang ini dan itu. Sayang sekali saya waktu itu harus pergi untuk menghadiri resepsi pernikahan kakak dari sahabat saya. Sempat menanyakan kepadanya nomor telepon tangan miliknya dan saat ini hubungan pertemanan kami hanya sebatas sms saja.
Saya sempat mengajaknya untuk makan malam bersama saat sahabat saya dari Kuala Lumpur datang tapi dia tidak bisa. Waktu dia libur saya ingin mengajaknya nonton film tapi sayang dia sudah nonton lebih dulu dengan para sepupu-nya.
Saya tidak mau membohongi diri saya sendiri bahwa saya suka dengannya tapi mungkin dia tidak memiliki perasaan yang sama terlebih lagi bahwa saya mendengar kalau dia saat ini sedang menjalani Long Distance Relationship.
Well, ... Life is about a choice. Do I have to continue or stop ? I can't decide.
Posted by -dimas hary- ::
00:01 ::
1 Comments:
Post / Read Comments
---------------oOo---------------
Tuesday, June 02, 2009
ODE MALAM - Sebuah Keluh Kesah Semata
Sebenarnya ada banyak keinginan untuk menulis. Banyak sekali hal yang ingin disampaikan, dikemukakan, diwartakan namun entah kenapa belakangan ini hal tersebut hanya sekedar dalam buaian pikiran semata, tak lagi kemudian memiliki semangat untuk menulis.
Setelah sekian lama vakum, baru kali ini saya kembali menyambangi blog saya. Melihat, membaca ulang semua tulisan-tulisan saya satu demi satu.
Saya baru saja mengalami sebuah peristiwa besar dalam kehidupan saya. Kembali saya harus berjuang untuk memulai semuanya dari awal namun bagi saya hal ini bukan semata ucapan, saya harus bisa dan mampu untuk berbuat lebih bagi saya sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar dan juga orang banyak.
Usia yang semakin mendekati usia tidak produktif membuat saya berpikir dan mengkaji ulang, apa yang sudah saya lakukan selama ini. Betapa banyak waktu terbuang hanya untuk urusan kesenangan semata. Begitu sulit untuk fokus pada hal-hal yang sekiranya penting dalam kehidupan saya. Tapi satu hal yang pasti dan yakin bahwa ALLAH tidak pernah ingkar janji. ALLAH akan merubah nasib kaum-NYA jika memang kaum-NYA mau membuka diri, usaha dan berusaha untuk menjadi yang terbaik. Suratan ALLAH tidak pernah salah, apa yang sudah digariskan dijalankan dan semua pasti ada hikmah terkandung didalamnya, itu semua menjadi rahasia ALLAH.
Pengalaman batin saya mengajarkan banyak hal dan saya semakin menyadari bahwa saya bukanlah siapa-siapa. Saya beruntung masih diberi kepercayaan, masih diberi kenikmatan, masih diberi senang meskipun setumpuk dosa masih dilakukan.
Hari ini saya lalui dengan penuh kebimbangan, emosi yang turun naik, persoalan yang kerap kali muncul dan penyelesaiannya yang tidak pernah bisa dalam waktku singkat. Sabar adalah kunci utama dan saya berusaha untuk bisa menjadi orang yang penyabar, trust me! it's not an easys thing to do / to become.
Belajar untuk bisa menghargai orang, menghargai orang apa adanya adalah makanan sehari-hari yang sekarang makin saya dalami. Semoga langkah tersebut bisa membuat saya menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin.
Jakarta, 02.06.09 / 04.35 wib
Rumah Syenang
Posted by -dimas hary- ::
03:49 ::
0 Comments:
Post / Read Comments
---------------oOo---------------
Friday, May 15, 2009
BUSWAY - Sebuah Cerita Lagi
Tadi setelah selesai meeting di Grand Indonesia dan bermaksud untuk terus melanjutkan ke Plaza Semanggi, saya akhirnya memutuskan untuk kembali naik busway.
Setelah berjalan kaki ke shelter busway di Tosari, akhirnya sampailah ke depan pintu masuk menunggu busway datang.
Satu busway datang dan rombongan di depan saya memasuki busway, jam tujuh kurang dan busway cukup penuh dengan orang-orang yang baru saja pulang dari kantor. Ketika busway hendak berangkat lagi tiba-tiba pintu terbuka dan seorang wanita bule keluar lagi dari busway. Sang penjaga pintu hanya menunjuk ke arah Thamrin. Wanita tersebut tampak agak bingung.
Saya berada di antrian terakhir. Di sebelah saya ada dua orang pemuda berpakaian layaknya anak kuliahan dan asyik bercakap-cakap. Tak lama setelah bingung, wanita bule itu menghampiri dua anak tersebut dan kemudian bertanya,
"Do you speak English ?"
dan dengan serta mertanya salah satu dari anak muda tersebut menjawab,
"Yes, I AM" ..
Errr ... Antara ingin tenggelam, ketawa dan mulut ini rasanya udah gatal ingin komentar tapi saya hanya menundukkan kepala tanpa mengatakan apa-apa.
Wanita bule itu meneruskan pertanyaannya,
"Do you know where Harmony is ?"
Salah satu anak muda yang tadi menjawab kemudian bertanya pada temannya,
"Duuuh, gimana ngomongnya sich ? Harmony itu ada disebelah sana"
Semakin gatal mulut ini untuk berkomentar, untungnya busway yang saya tunggu sudah keburu datang.
Kalau saja busway itu belum datang mungkin mulut ini sudah berteriak,
"Yes, attack! attack!" .. dengan sebal dan murka ..
Hahahahahaha, ...
Aduuh entah ada apa dengan saya dan busway :-)
Posted by -dimas hary- ::
04:56 ::
1 Comments:
Post / Read Comments
---------------oOo---------------
Thursday, January 01, 2009
TAHUN BARU - Sebuah Bentuk Pengharapan
Tadi malam ketika semua orang asyik sibuk berpesta atau setidaknya mencari tempat keramaian untuk mengadakan pergantian tahun, saya dan Hally teman satu rumah asyik duduk di depan TV menikmati film Harry Potter dan Da Vinci Code.
Sudah tiga tahun terakhir ini saya tak lagi berusaha untuk bergabung dengan keramaian pada saat pergantian tahun, entah kenapa, mungkin seperti yang dibilang salah seorang teman masa SMP dulu, "Geus kolot ayeuna mah, mendingan di imah tinimbang abus angin", well, saya pikir ada benarnya pernyataan itu.
Sesaat ketika pergantian tahun berlangsung, yang saya lakukan hanya berdoa dalam hati, memohon kepada-Nya untuk segala kebaikan dan kelancaran di tahun yang baru saja tiba dan mengucap syukur atas segala yang telah diberikan-Nya.
2008 adalah tahun yang penuh dengan dinamika kehidupan yang sangat menarik buat saya. Membuat saya belajar banyak hal, membuat saya mampu untuk melihat sisi lain dari diri saya yang selama ini mungkin tidak saya sadari dan juga membuat saya tersenyum atas banyak kejadian baik itu sedih ataupun kejadian yang menggembirakan.
Tahun 2008 ditutup dengan berbagai hal yang seolah mampu membuat saya selalu menyunggingkan senyum bila mengingatnya. Pertemuan dengan sahabat baik masa SMP membuat hari-hari saya semakin penuh arti. Dikabarkan sakit gejala typhus oleh salah seorang sahabat saya yang kemudian membuat orang lain bertanya apakah benar atau juga bertanya apakah sudah sehat kembali, buat saya bukan menimbulkan kemarahan tetapi malah membuat saya tersenyum senang, ... ternyata saya masih punya sahabat-sahabat yang begitu perduli, dikabarkan seperti itu buat saya adalah tanda bahwa dia masih ingat akan saya.
Pagi ini saya menyambut matahari pertama di tahun yang baru dengan satu senyuman besar di wajah saya. Berharap bahwa hari-hari ke depan akan penuh dengan kesukacitaan, kesuksesan dan kebahagiaan lahir dan batin.
Semoga teman-teman pun merasakan hal yang sama.
Selamat Tahun Baru 2009!
Posted by -dimas hary- ::
12:32 ::
1 Comments:
Post / Read Comments
---------------oOo---------------
Sunday, October 26, 2008
JENG JONI - Sebuah Cerita Masa Lalu
Cerita ini dikirim oleh Hera, sahabat baik dan teman ngobrol Bunda. She told me that she has written something about story that my mom told her few weeks ago. Hera went to my house with Ata.
Thanks to Hera.
Bunda is the best woman I ever know in my life. Love you so much, Bun.
JENG JONI
Cerita Singkat Jeng Joni...
Entah mengapa hari itu tiba-tiba mendung, padahal kami berdua baru saja menapakan kaki di rumah kavaleri yang kerap kami kunjungi itu.
Niat hanya berhalal bi halal ternyata berlanjut menjadi Nostalgia-nya Jeng Joni, dan beberapa pelajaran bagi kami berdua (dua mahkluk yang selalu dirundung pertanyaan...4W + 1H -who,when,where,why dan how).
Mendadak saja pembicaraan tentang lebaran bergeser 180 derajat menjadi cakap-cakap bertopikkan : "Eyang pernah pacaran berapa kali?"
Eyang atau yang dia kerap memanggil dirinya Jeng Jon itu hanya mengacungkan jari telunjuknya saja...yah berarti 1...hanya 1 kali.
Bukan bohong, bukan membesar-besarkan. LANGIT mendadak seperti tak berujung...hitam...terdengar gelegar petir dikejauhan, "belum hujan, teman", mata aku dan sahabat aku bertatapan takut.
Lanjut kata, Jeng Jon menceritakan kehidupan dia yang tampak sangat ia nikmati, mulai dari Perjalanan Dansa yang menjadi hobinya ketika sekitar tahun 1940-an...
Kami berdua terperangah...DANSA .. okey ...TAHUN 1940 .. okey...di BANDUNG .. wow... Dia berkata hobi dansa itu memang sudah turunan dari kakak lelakinya, yang selalu mengajak dia untuk dansa setiap "Saturdah Avon" – malam minggu, jam 18.00 di tempat dansa teman kakaknya, jam 21.00 mereka pindah ke Hotel Homan, dan lanjut ke Hotel Lembang sampai jam 5.00 subuh.
Bukankah itu ketika masa-masa para pejuang terbirit-birit ingin berkata MERDEKA...(hanya itu yang tampaknya kami tahu setelah mengenyam pendidikan pelajaran sejarah lebih dari 10 tahun) kami tiba-tiba merasa tersaingi secara KO...tahun 1940-an!!! Senang merasa ada teman seperjuangan yang berbeda jaman.
Mata kami saling bertatapan...air mulai mengucur dari atap yang disambung canopi berwarna putih itu...Yah sudahlah, memang positf hujan semakin membesar...namun Jeng Jon tetap bercerita.
Masih bersikukuh dengan pertanyaan kami...Bagaimana Jeng Jon bertemu Suami?
Saat ini Jeng Jon memiliki 7 orang anak yang sudah menyebar dimana-mana...Namun suami Jeng Jon wafat pada tahun 2001, entah tepatnya bulan apa.
Jeng Jon...menatap foto, foto itu setia menyambut kami dalam setiap pertemuan yang memang berposisi di tembok ruang tengah...hujan sangat lebat dan angin mendadak masuk ke rumah bergaya kolonial Belanda itu karena memang kami tidak pernah menutup jendelanya.
Jeng Jon bilang, pertemuan ia dengan Joni sangatlah aneh...
Pertemuan itu dimulai ketika Sri, Sahabatnya ketika masih muda, menitipkan surat untuk kekasihnya yang memang anggota militer bernama Yavni Lubis. Jeng Jon muda pun tanpa keberatan pergi ke daerah barak Kavaleri dari kediamannya sekitar jalan Pasirkaliki - yang kami kenal saat ini.
Pertemuan Jeng Jon muda dan Joni pun hanya sebatas perbincangan menunggu waktu saja sambil Yavni mempersiapkan diri untuk menengok Sri bersama Jeng Jon muda.
Lanjut cerita, suatu hari Sri mengajak Jeng Jon muda untuk menonton di Concordia - saat ini, Gedung Merdeka. Sri tentu datang bersama Yavni dan Yavni membawa serta Joni untuk menemani Jeng Jon muda. Dipertengahan pemutaran film, Jeng Jon muda merasa mual...akhirnya Joni lah yang terpaksa mengantarkan Jeng Jon muda ke rumahnya menaiki becak.
Jeng Jon, mengambil nafas sebentar sambil berdiri mengambil beberapa toples kue untuk kami berdua.
Ia tertawa seketika ketika bercerita soal becak yang ia tumpangi, tampaknya Joni muda ini memang benar-benar militer sejati yang jarang bertemu orang sipil dan bersosialisasi dengan perempuan. Joni muda duduk di becak mendahului Jeng Jon muda, Jeng Jon muda berkata : "lho gimana aku bisa duduk kalo kamu duduk duluan disitu, gimana sih?"...dengan lurus, Joni muda turun kembali dan duduklah mereka berdua di becak itu.
Jeng Jon muda lari mendahului Joni memasuki rumah, terbirit menuju kamar mandi...Mami Jeng Jon melirik aneh, lalu dia melihat sesosok pria di depan pintu yang hanya berkata : "Iya nih dari tadi aku suruh pulang," Mami Jeng Jon dan Jeng Jon terhenyak dengan nada yang terhempas dari bibir lelaki muda ini.
Jeng Jon dan maminya membahas ucapan Joni muda yang cukup tegas untuk seukuran orang yang baru sekali itu bersandang ke rumahnya. Mami Jeng Jon berpendapat, tampaknya lelaki itu baik, tegas, dan tidak macam-macam. Lalu Jeng Jon muda melanjutkan kisah hidupnya menjadi kekasih Joni...kalau memang ada istilah seperti itu di masa tersebut.
Hujan berhenti dengan tiba-tiba, tapi angin malah semakin menusuk rusuk rasanya. ehh benar saja, hanya sekitarr lima kedipan mata ternyata hujan sudah tak kuasa lagi ingin membasahi bumi. Jeng Jon berlanjut dengan kisahnya.
Suatu hari, setelah pertemuan mereka yang kedua kali tersebut, Jeng Jon mendapatkan teguran dari Sri, teguran titipan dari Joni yang berkata bahwa Jeng Jon muda itu sombong benar, seringkali bertemu di Pasar Kosambi, eh kok tampaknya cuek saja.
Lalu kami berdua bertanya, "lho kok bisa eyang?"
Ia hanya menjawab singkat, "yah...aku sih emang kaya gini, suka lupa sama muka orang..." jawaban modern yang keluar dari penghuni dunia yang sudah tiga perempat abad hidup di dunia.
Suatu kali, Jeng Jon tambahkan, ketika mereka sudah menjadi kekasih Jeng Jon bercerita kalu mereka memiliki prinsip : Kamu bebas dengan temanmu siapa pun, urusanmu yah urusanmu, yang penting kami satu sama lain mengerti, dan kalau jodoh tidak akan kemana.
Sebenarnya itu merupakan satu pernyataan yang aku dan sahabat aku bikin ngeri. Kami terlanjur haus belaian kasih akung dan perhatian yang senantiasa menyerap energi kami berlebihan. tapi kami tiba-tiba menunduk...kok eyang bisa seperti itu...
Lanjut kata, Jeng Joni muda pernah bertemu Joni sedang berduaan nonton film di Alun-Alun Bandung. Jeng Jon muda sedang bersepeda, "Mas lagi apa?" Joni muda, "Baru nonton ni, eh aku anter dulu dia yah nanti aku kerumahmu." Jeng Jon, "Ok sampai ketemu". Joni berlalu dan Jeng Jon muda pun kembali mengayuh sepedanya ke arah kota. Tak ada rasa jengkel atau cemburu atau apapun yang tersirat dimukanya.
Kami berdua angkat bicara, "lho kok eyang diem aja?" setengah ingin tahu dan setengah lagi membayangkan kecengan masing-masing *yang dalam tanda kutip sangat sulit dan tidak ada kabar secuil apapun. stres mulai menggema dalam dada.."Eit belum selesai" tambah Eyang.
"Ngapain musti cape-cape cemburu, wong belum tentu dia juga berselingkuh, mungkin perempuan itu temannya, daripada habis energi eyang mikir mending, santei"
Kedua alis kami mendadak beradu seperti banteng edan yang meronta tapi buta arah.
"Eyang Joni juga ga komentar tuh kalau Eyang pergi main sama cowo lain, sahabat Eyang, suruh siapa dia telat nyamper ke rumah...kan waktu itu ga ada telepon...yah wayah na aja (yah terima aja)..." memang benar, hobi Jeng Jon muda adalah jalan-jalan, jadi siapapun yang mengajaknya pergi dan diperbolehkan maminya, pasti dia pergi. Adalah resiko bagi Joni muda jika dia telat datang, pilihannya adalah menunggu di ruang tamu sambil membaca atau pulang dan kembali lagi sore harinya. Joni muda tidak pernah juga mengeluh atau bertanya mengapa Jeng Jon muda pergi bersama pria lain, toh dia hanya berprinsip, jika jodoh pasti takan kemana, mungkin pria itu temannya Jeng Jon, karena memang hobinya bersosialisasi.
Sahabat aku dan aku kembali melihat LANGIT, berharap reda...tapi entah kenapa, tampaknya Eyang harus menyelesaikan ceritanya baru LANGIT mengijinkan kami berangkat.
Pernah suatu saat ketika mereka sudah menikah, Jeng Joni didatangi oleh sahabat Joni muda yang sedang ada di luar kota. Abdullah datang dengan berita bahwa Joni muda sedang Haberhoven – Jalan-jalan ke puncak/daerah atas dengan perempuan lain. Jeng Joni hanya tersenyum dan berkata, "Oh bukannya dia lagi dinas jaga yah di Jakarta, ooo kalo dia memang main ke puncak yang ndak apa-apa toh, mungkin perempuan itu temannya." Abdullah mati-matian berkata kalo Joni muda berbohong dan Jeng Jon dengan muka lurus hanya tersenyum dan berkata, "yah...ngapain buang energi marah, nanti saja tanya sama Mas Jon kalau pulang."
Beberapa hari kemudian Joni muda pulang dari tugas dan langsung menyodori amplop yang dipenuhi uang pada Jeng Jon. Jeng Jon yang memang jujur bertanya, "Ini uang apa? Dari mana?" Joni muda menjawab, "ini uang kamu", "kok banyak sekali, dari mana ini?" sanggah Jeng Jon. Joni pun bertanya apakah Abdullah temannya mampir ke rumah beberapa hari lalu dan menjelaskan kalau mereka berdua taruhan untuk membuat Jeng Jon cemburu. Abdullah tidak percaya dengan kata-kata Joni muda bahwa Jeng Jon bukanlah perempuan biasa yang pencemburu dan akhirnya Abdullah menelan ludahnya sendiri, maka satu bulan gaji pun harus dia relakan pada Joni muda. Jeng Jon menolak setelah tahu uang itu adalah uang Abdullah, namun Abdullah dan Joni bersikukuh dengan taruhan mereka dan akhirnya Jeng Jon hanya kipas-kipas dan tersenyum.
Jam handphone kami menunjukan waktu pukul 20.00 wib, sudah sangat telat untuk pergi sebenarnya, karena kami berniat untuk membeli dua mangkuk bubur hangat spesial di jalan Burangrang dan melanjutkan perjalanan ke TOBUCIL untuk membeli benang rajut untuk sahabat aku ini.
Percakapan pun kami tutup karena waktu sudah sedikit larut untuk melanjutkan perjalanan.
Jeng Joni...
Perempuan berusia 74 tahun ini tetap sederhana, hidup sendiri di rumahnya dan berprinsip tidak mau menyusahkan anak-anaknya dengan menemaninya di hari tua. Jeng Jon tetap memandang foto Joni dan terlihat sangat tegar bercerita semua kepada kami, padahal air mata kami sama derasnya dengan hujan di luar sana. Karena dia terlahir yatim sejak berusia belia dan terpaksa harus mau dijadikan anak angkat oleh keluarga tak beranak dan akhirnya berakhir dengan menjadi separuh pekerja buruh tani untuk menghidupi keluarganya dan membiayai sekolahnya.
Banyak hal yang kami dapat tidak hanya dari cerita Jeng Jon dimasa muda dengan pengalaman dansanya, tapi juga menyikapi hidup ini dengan sederhana saja dan yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah yang terbaik untuk kita.
Joni dan Jeng Jon menikah diatas prinsip saling mempercayai satu sama lain dan berusaha untuk fokus dengan hal yang harus mereka lakukan sesuai dengan porsinya.
Semangat dan cinta Jeng Jon tiba-tiba saja melingkupi aura kami berdua, entah mengapa udara dingin bekas hujan itu tidaklah terlalu menusuk seperti yang kami kira.
Boleh dibilang, kami kagum dengan kekuatan hati Jeng Jon melihat Joni sebagai sebuah kepercayaan. Sedang kami berdua menghela nafas di sisa perjalanan kami menuju warung bubur untuk sekedar mengisi kekosongan perut kami.
Lima menit perjalanan dipenuhi dengan kekaguman pada Jeng Jon dan sisa perjalanan itu tanpa sadar kami tujukan pada persemedian masing-masing.
Tiba-tiba kami berkata sesuatu berbarengan "Haberhoven" Bahasa Belanda yang berarti jalan-jalan ke daerah atas. Kami tertawa terbahak-bahak sambil berucap ala menir dan nyonya Belanda. mendadak dada kami terasa sesak dan bertanya mengapa kami tidak sabar dan sulit menumbuhkan rasa percaya atau sikap positif pada keadaan kami saat ini, sulit memang, sulit, lebih sulit dari pelajaran statistik karena tidak ada data yang bisa dihitung atau diolah.
Aura Jeng Jon memudar, kami mulai kembali bias dengan rasa yang kami selalu pertanyakan. Mengapa tidak ada kabar...sahabat aku angkat bicara, "aku rindu dia..." aku menyambung kata sambil tangan kanan memegang helm proyek putih yang mulai merosot, "sama...ga ada kabar..." Teringat betapa gundah gulana nya kami jika hidup di masa Jeng Jon yang tidak ada telepon untuk mengabari, handphone membuat kami menjadi budak...yah kami tiba-tiba menjadi budak seperti di jaman Fir'aun...yang rakus akan kekuasaan...namun kita haus akan kasih sayang.
Kehangatan rasa Jeng Jon yang sederhana menusuk mata hati, mengapa kami tidak bisa seperti dia...memang orang berbeda, tapi betapa murninya dan sederhananya pemikiran dia. Jujur, aku merasa merangkak di atas belukar dengan pasir hisap ketika harus memikirkan-nya...
Sahabat aku berkata "aku pasrah...nyerah..."
LANGIT, entah mengapa tampak cerah di daerah atas...namun tidak di daerah bawah Bandung tadi, seakan memberikan kesempatan bagi Eyang untuk memberikan kami kehangatan dan jawaban ditengah kerinduan kami dengan merumahkan kami selama kurang lebih dua jam di rumah Kavaleri itu dengan cerita-cerita tentang kesederhanaan dan percaya pada kondisi.
Seperti biasa, ketika kami mulai terdesak, kami bernyanyi...kami mencari soundtrack yang tepat dengan perasaan kami...akhirnya tersenandunglah lagu
kau boleh acuhkan diri ku
membuat ku terluka
tapi takan merubah perasaanku kepada mu
aku mau mendampingi dirimu
aku mau cintai kekurangan mu
aku yang rela terluka untuk masa lalu...uuuu
Alhasil dua bait itu membuat kami terjepit diantara dua angkot yang mengebut dari arah yang sama...jeritan pun keluar...mengeluarkan nama masing-masing yang tentunya dirindukan di dalam dalam dalam nya hati.
"_ _ _ _" dan "_ _ _ _" sahabatku menjerit sambil tertawa dan aku pun demikian...sampai kami saling bertatapan dan merasa bodoh.
Honda Revo pun kembali memancangkan gasnya....
Lalu kami berteriak bersamaan "Hidup Jeng Joni...."
*Malam itu, buat ku pribadi, adalah malam yang tak pernah terlupakan...karena Perjalanan cerita Jeng Joni membuahkan limpahan kebahagiaan tak terduga. Beberapa jam kemudian di tempat yang lebih tinggi dengan udara yang lebih menusuk rusuk, semangat Jeng Jon kembali muncul...walaupun LANGIT kembali meminta aku untuk bersabar dan yakin - dengan mengambil balon merah ku...entah sampai kapan...:)
Posted by -dimas hary- ::
15:45 ::
0 Comments:
Post / Read Comments
---------------oOo---------------
Monday, September 22, 2008
TTM - sebuah langkah kebodohan
Beberapa waktu lalu ketika lagi asyik bersantai di Rumah Syenang, Hal, seorang teman baik pecinta lagu-lagu 80an memasang lagu-lagunya almarhum Chrisye. Saya agak tergelitik dengan satu lagu yang saat itu lagi dinyanyikan oleh almarhum Chrisye.
"Sejak jumpa kita pertama
kulangsung jatuh cinta
walau kutahu kau ada pemiliknya
tapi ku tak dapat membohongi hati nurani
ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini
Maka ijinkanlah aku mencintaimu
atau bolehkah ku sekedar sayang padamu
Memang serba salah rasanya
tertusuk panah cinta
apalagi juga ada pemiliknya
tapi ku tak mampu membohongi hati nurani
ku tak mampu menghindari gejolak cinta ini
Maka maafkan jika ku mencintaimu
atau biarkan ku mengharap kau sayang padaku"
It was back then few months ago when I was single (and yet now still remaining single) lalu saya terlibat hubungan dengan seseorang, kategori yang saya jalani dapat saya katakan adalah TTM menurut istilah sekarang (Teman Tapi Mesra), tidak pernah ada komitmen diantara kita plus juga tidak pernah ada kata untuk memutuskan jalan bersama, all happened just like that. You want to believe it or not, it's up to you.
Hubungan yang buat saya pada saat itu adalahmenjadikan diri naik turun dalam hal emosional dan lainnya. Entah kenapa di satu sisi terkadang rasa sebal muncul dengan status yang hanya seperti itu tapi terkadang di sisi lain muncul rasa senang dan membayangkan bahwa jika saja hubungan itu kemudian menjadi resmi dan happily ever after like in a fairy tales story. How I wish.
Sudah beberapa kali saya mengalami hal seperti itu sampai kemudian ketika saya ngobrol dnegan salah satu sahabat baik saya dan kemudian kami menyimpulkan bahwa it is my destiny untuk selalu terlibat dengan seseorang yang sudah punya pasangan. DAMN!!! Though I was so hard try to deny but still could not. The fact was I did it!.
Tentunya ketika menjalani hubungan TTM ini sebagai individu yang sadar akan segala risiko yang ditempuh, saya menyadari sepenuhnya konsekuensi yang saya ambil atas jalan yang saya jejakkan ini. Bahwa tidak bisa menuntut lebih atas apa yang terjadi di dalam hubungan, bahwa tidak bisa mengatakan apa pun atas status yang biasanya selalu dikatakan dalam ruang lingkup pergaulan, bahwa tidak bisa ini, tidak bisa itu, dan banyak tidak bisa lainnya. Belum lagi availabilitas atas kapan bisa bertemu dan kapan tidak bisa bertemu, itu semua adalah bentuk toleransi dan pengertian ketika kita menjalani apa yang disebut dengan status TTM.
Kebodohan itu berulang dan berulang kembali dan entah kenapa saya tidak kuasa untuk menolaknya atau mungkin saya tidak punya keteguhan hati untuk tidak melakukannya lagi. Yang pasti saya menikmati setiap waktu, setiap moment bersama TTM saya tersebut. I know it's wrong but again ... I just can't help it.
Seperti semua orang bilang bahwa ketika kita taruhlah belum jatuh cinta tapi dalam masa pendekatan, segala sesuatu terasa menjadi bermakna dan memiliki arti tersendiri. Every single conversation, every single message, every single gesture, every single words spoken ... semua menjadi bahan pemaknaan tersendiri dan terkadang tanpa kita sadari kita salah dalam menilainya, but hey! it's normal.. (mungkin).
Pernah dalam satu percakapan dengan seseorang dia bilang begini:
"Tau nggak ? gue itu yaa paling pantang ngejar orang yang udah punya pacar"
BANG!!! .. it's a big slap in my face and I was stunned and speechless. Kalau ditanya apakah ada yang salah dengan melakukan itu ? tentunya iya, well, namanya juga menganggu rumah tangga orang masak sich ngga salah ?
Teori pembenarannya adalah kembali ke syair lagu diatas, mungkin yang bisa dilakukan adalah hanya sekedar sayang tanpa mengharapkan balasan atas rasa sayangnyaitu. Bukan hal yang mudah untuk dilakukan tapi, well, mungkin itu adalah hal yang paling baik yang bisa dilakukan dengan catatan tentunya tak boleh lagi ada pengharapan-pengharapan walaupun itu sekedar pengharapan semu.
Tapi yang paling baik mungkin adalah memberhentikannya. Tokh hal itu tidak akan bisa berjalan kemana-mana. Pertanyaannya adalah apakah sudah siap untuk berhenti ? apakah sudah bisa untuk melepas dengan rasa ikhlas dan tidak lagi membebani pemikiran-pemikiran tersebut dengan hal itu ?
Well, setiap jejak langkah pasti ada konsekuensinya, ada risiko yang harus diambil dan ditempuh dan dirasakan.
Seperti tadi malam ketika saya dikirim sms oleh salah seorang teman baik saya untuk minum kopi dan saya membalas bahwa saya akan menyusul kemudian, tiba-tiba dia membalas sms saya itu dengan:
".. things are not the same when you are not single"
Teman baik saya itu berpikir bahwa karena saya dengan seseorang lalu saya telah menjadi seseorang yang berubah. The fact is that I just want to have time for myself.
Saya hanya tertawa miris membaca kalimat itu, I do wish that I am not single but the fact is that I am single!
Well, I am writing down all this that-so-called "menyek-menyek" stuff just wants to clear up things that bothering my mind. Mau dikomentarin drama atau apa pun, terserah, but I just am being honest to myself.
Posted by -dimas hary- ::
11:08 ::
1 Comments:
Post / Read Comments
---------------oOo---------------