Monday, March 25, 2013

CINTA - Dalam sebuah perspektif rasa dan kecewa


Bicara tentang cinta tidak akan pernah ada habisnya. Bicara tentang cinta terkadang membuat kita tersenyum, terkadang membuat kita kemudian terdiam dan merasakan ulu hati seperti ditusuk perlahan-lahan, terkadang juga membuat kita menitikkan air mata dan terkadang membuat kita menyesal mengapa kita melakukan hal bodoh yang sepatutnya tidak kita lakukan.

Sebuah perjalanan cinta seperti layaknya sebuah permainan jaman dulu yang bernama Jailangkung. Datang tidak diundang dan pulang tidak diantar. Karena ketika kita bicara tentang cinta dan perjalanannya, kita bicara tentang jatuh cinta, sebuah kondisi yang kita tidak pernah tahu kapan terjadinya. Namanya juga jatuh, pernahkah kita tahu kapan kita jatuh? Tahu-tahu kita sudah ada dalam kondisi terjatuh dan mencoba untuk bangkit. Ya, bangkit dari keterpurukan kalau memang urusan cinta itu tidak berjalan dengan apa yang kita inginkan atau rencanakan.

Empat bulan belakangan ini saya ada dalam kondisi keterpurukan. Keterpurukan akan cinta. Terkadang ketika sekarang melihat kembali garis perjalanan cinta saya empat bulan belakangan ini saya rasanya menjadi manusia bodoh dan menjadi manusia yang keras hati dan juga keras kepala. Saya telah jatuh cinta pada seseorang yang mungkin tidak akan pernah kesampaian. Ini bukan pertama kalinya saya mengalami hal ini . Ini bukan pertama kalinya saya terpuruk karena seseorang dan ini bukan pertama kalinya saya jatuh hati pada orang yang salah.

Ketika kemudian sekarang memasuki bulan kelima, saya mulai menyadari bahwa saya telah banyak membuang waktu saya untuk sesuatu yang boleh dikatakan tidak menghasilkan seperti yang saya inginkan. Saya mulai menyadari bahwa langkah-langkah yang saya ambil adalah langkah-langkah yang mungkin tidak seharusnya dilakukan. Saya banyak berpikir dan mengkaji semuanya. Ada keinginan untuk menyerah, ada keinginan untuk bisa lebih berjalan maju tanpa harus kembali mengingat apa yang sudah dilakukan.

Niat yang kita miliki terkadang sebegitu kuat tapi tak jarang niat yang kuat kemudian perlahan luntur oleh hal-hal kecil yang seolah membangkitkan semangat lama akan sebuah motivasi yang kita ingin lupakan. Itulah yang terjadi saat ini.

Kekerasan hati memang menolong sedikit banyaknya niatan kita untuk melupakan dan tidak lagi mengingat tapi kemudian kejadian-kejadian datang justru ketika kita tidak ingin lagi terlibat. Lalu seberapa keraskah niatan dan hati kita bisa bertahan?

Saya mungkin termasuk dalam kategori orang yang mudah untuk suka kemudian jatuh cinta pada seseorang, saya sering sekali bertemu dengan orang dan kemudian memiliki pemikiran bahwa orang ini adalah “the one” yang saya inginkan, “the one” yang mungkin akan mengisi hari-hari saya. Sayangnya hal itu selalu gagal, selalu tidak berhasil karena pada akhirnya saya hanya menjadi “teman baik.”


Saya sudah sampai pada satu titik dimana saya tak lagi akan mencari dan mencoba untuk mendapatkan “love of my life” karena apa yang telah saya alami selama lima bulan belakangan ini cukup membuat saya memiliki satu keputusan untuk tidak lagi menyakiti hati sendiri dan mengalami kekecewaan. Agaknya memang belum waktunya atau memang belum ada yang akan datang dan menjadi partner dalam kehidupan percintaan saya.



No comments: