Thursday, June 02, 2005

TAHUKAH ANDA ?

Dialog ini dikutip dari tulisan yang berada di Rumah Perundingan Hindia Belanda – Jepang

Dialog ini sendiri terjadi pada tanggal 8 Maret 1942 antara Panglima Imamura, Gubernur Jenderal Tjarda van Stackenborough Stackhouwer dan Panglima Tentara Ter Poorten.

Panglima Imamura :
“Apakah Gubernur Djenderal dan Panglima Tentara mempunyai wewenang untuk perundingan ini ?”

Gubernur Jenderal Tjarda :
“Saja tidak mempunjai wewenang untuk berbitjara sebagai panglima Tentara.”

Panglima Imamura :
“Bila Tuan tidak dapat berbitjara sebagai panglima, mengapa Tuan datang kemari ?”

Gubernur Djenderal Tjarda :
“Tuan meminta saja datang dan atas permintaan itu saja memenuhinja dengan harapan dapat membitjarakan dengan Tuan tentang pemerintahan sipil di Djawa” .. “Maaf kalau boleh, orang jang berdiri di pintu, apakah ia djuru potret atau djuru pelapor, saja ingin Tuan mengusirnja.”

Panglima Djepang itu kini menoleh ke Panglima Ter Poorten.

Panglima Imamura :
“Apakah Tuan menjerah tanpa sjarat ?”

Panglima Ter Poorten :
“Saja hanja dapat menjampaikan kapitulasi Bandung.”

Panglima Imamura :
“Kapitulasi Bandung ? Itu tidak menarik perhatian kami.”

Berulang-ulang Panglima Imamura menanjakan penjerahan Hindia-Belanda tetapi berulang-ulang pula Panglima Ter Poorten hanja berbitjara tentang kapitulasi Bandung

Panglima Imamura :
“Tida ada gunanja mengemukakan pertanjaan ini. Bila Tuan tidak menjerah tanpa sjarat, tidak ada djalan lain selain daripada meneruskan pertempuran. Tuan akan dapat dengan segera sekarang pun kembali ke Bandung. Saja akan memerintahkan mengawal Tuan sampai ke pertahanan terdepan, dan pada saat Tuan melewati pertahanan itu, Bandung akan dihudjani bom oleh kapal-kapal terbang jang sudah siap di lapangan terbang ini. Walaupun begitu saja masih memberikan kesempatan terachir untuk mempertimbangkan pertanjaan saja, untuk ini saja beri waktu 10 menit.”

Setelah mengatakan ini, Imamura berdiri dan keluar. Setelah waktu 10 menit berlalu, Imamura kembali ke dalam ruangan perundingan dan terdjadilah dialog berikutnja.

Panglima Imamura :
“Saja tidak akan membitjarakan pemerintah karena njatanja Tuan tidak mempunjai wewenang tertinggi untuk mendjawab pertanjaan aja, sedjak ini saja larang Tuan berbitjara dan akan saja tudjukan kepada Panglima Tentara. Kembali kepada pertanjaan semula, apakah Tuan bersedia menjerah tanpa sjarat ?”

Panglima Ter Poorten :
“Saja menerima untuk seluruh wilajah Hindia-Belanda.”

Gubernur Djenderal Tjarda :
“Oleh karena saja tidak mempunjai wewenang untuk mengambil keputusan itu, saja akan pergi.”

Setelah mengutjapkan kata-katanja, Gubernur Djenderal berdiri dan kemudian meninggalkan medja perundingan. Sebelum Gubernur Djenderal meninggalkan medja perundingan, ia masih sempat mengeluarkan kata-katanja jang terachir : “Saja harap Tuan mengusir djuru potret itu.” Sesudah itu Panglima Ter Poorten menandatangani penjerahan Hindia-Belanda tanpa sjarat kepada Djepang dengan naskah jang sudah disiapkan oleh Djepang sendiri. Sedjak peristiwa itu berachirlah kekuasaan Hindia-Belanda.

Kalidjati mendjadi saksi.

3 comments:

Anonymous said...

gue rasa perbincangan itu nggak ada di buku 30 tahun indonesia merdeka dey :D

hebat, sumber lo darimana har ?

bowo

Avin said...

*applauding*
Emang kalo urusan sejarah, elu gak ada duanya deh Har!! :)

Haucuen a.k.a Moi said...

Kang Mas Dimas, kamu dapat dari mana dialogue ini? Aku terperangah, terpesona, tak bisa berkata-kata!!!

"Kamoe haibadth"