Monday, June 13, 2005

SEPUTAR SEPTEMBER 1965 - I

Ini merupakan salah satu sejarah hitam dalam urutan sejarah Indonesia tercinta. Gue ngga ada maksud apa - apa dengan mosting mengenai Tragedi September 1965 jadi mohon jangan disalah artikan ... mohon untuk tidak memakai topik ini sebagai propaganda politik dan lain sebagainya karena dalam topik ini gue hanya berbagi cerita mengenai apa yang gue ketahui dari petikan sejarah September 1965. Kalau ada kesalahan dalam penyajian (udah kayak nulis buku ) mohon dimaafkan dan mohon dimaklumi ..

Kesaksian para pelaku gerakan september 65 ini merupakan hal yang penting bagi jalannya proses rekonstruksi sejarah Orde Baru. Sayangnya, sangatlah disayangkan ada yang tercecer dari kesaksian para tokoh kunci gerakan tersebut hingga terjadilah missing link yang masih misterius sampai dengan sekarang. Akibat yang paling fatal adalah pertanyaan yang paling mendasar dan legendaris sampai dengan saat ini yaitu : siapakah dalang dan otak sesungguhnya dari gerakan 30 September tersebut ? Ketidakjelasan nasib para tokoh PKI dan juga para pelaku langsung G 30 S, ikut menambah rumit konspirasi yang terjadi. Beberapa dari tokoh inti sudahlah jelas dan terang nasibnya dengan mengalami eksekusi secara resmi di depan regu tembak seperti eks Kol. Untung, eks Brigjen Sopeardjo, Sudisman yang anggota Politbiro PKI dan Dipa Nusantara Aidit yang menjadi Ketua PKI. Sementara itu Nyoto tidak diketahui sampai sekarang rimbanya. Alkisah tanggal 11 Maret 1966 sepulangnya dari sidang kabinet (Nyoto adalah salah satu mentri di kabinet soekarno), ia diculik oleh sekelompok orang yang tidak diketahui identitasnya dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di Jl. Tirtayasa. Ada beberapa tapol yang pernah melihatnya di Rutan Salemba tapi setelah itu mereka tidak melihat lagi karena kemudian terhembus kabar burung bahwa Nyoto sudah dieksekusi di salah satu kepulauan Seribu di Teluk Jakarta. Yang menjadi suatu fenomena menarik adalah perlakuan ekstra judistrial bagi para elite politik PKI. Jika ditelaah dan diperhatikan, mereka tidak pernah diadili secara hukum dan menjalani tahap persidangan.

Letkol Untung bin Syamsuri, tokoh kunci Gerakan September 1965 adalah salah satu lulusan terbaik Akmil. Pada masa pendidikan ia bersaing dengan Benny Moerdani, perwira muda yang sangat menonjol dalam lingkup RPKAD (kelak Benny Moerdani menjadi tokoh legendaris dalam Misteri Tragedi Tanjung Priok). Mereka berdua sama-sama bertugas dalam operasi perebutan Irian Barat dan Untung merupakan salah satu anak buah Soeharto yang dipercaya menjadi Panglima Mandala. Sebelum ditarik ke Resimen Cakrabirawa, Untung pernah menjadi Komandan Batalyon 545/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang. Batalyon ini memiliki kualitas dan tingkat legenda yang setara dengan Yonif Linud 330/Kujang dan Yonif Linud 328/Kujang II. Kelak dalam peristiwa G 30 S ini, Banteng Raiders akan berhadapan dengan pasukan elite RPKAD dibawah komando Sarwo Edhie Wibowo (Pak Sarwo ini adalah mertua dari Presiden kita yang sekarang Pak Susilo Bambang Yudhoyono). Setelah G 30 S meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan menghilang beberapa bulan lamanya sebelum kemudian ia tertangkap secara tidak sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. Ketika tertangkap, ia tidak mengaku bernama Untung. Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G 30 S. Setelah mengalami pemeriksaan di markas CPM Tegal, barulah diketahui bahwa yang bersangkutan bernama Untung. Setelah melalui sidang Mahmilub yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1969, 4 thn setelah G 30 S mengobarkan pemberontakannya. Bagi Soeharto, Untung bukanlah orang lain. Hubungan keduanya cukup erat apalagi dulunya Soeharto pernah menjadi atasan Untung di Kodam Diponegoro. Indikasi kedekatan tersebut terlihat pada resepsi pernikahan Untung yang dihadiri oleh Soeharto beserta Ny. Tien Soeharto. Pernikahan tersebut berlangsung di Kebumen beberapa bulan sebelum G 30 S meletus. Kedatangan Komandan pada resepsi pernikahan anak buahnya adalah hal yang jamak, yang tidak jamak adalah tampak ada hal khusus yang mendorong Soeharto dan istrinya hadir pada pernikahan tersebut mengingat jarak Jakarta - Kebumen bukanlah jarak yang dekat belum lagi ditambah pada masa tahun 1965 sarana transportasi sangatlah sulit.Kembali, suatu misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang, apakah hubungan Soeharto dengan Untung dan kaitannya dengan peristiwa September 1965 ?

Menyusul terjadinya tragedi September 1965, Latief sempat menjadi buronan beberapa saat. Bersama Untung dan Kapt. Inf. Suradi, mereka melarikan diri ke arah selatan sampai di desa Cipayung, Pasar Rebo, Jakarta. Setelah kelar menamam semua senjatanya di desa Kebon Nanas, Bogor. Latief pada keesokan harinya berusaha menemui Presiden Soekarno melalui Brigjen Soepardjo namun usaha tersebut menemui kegagalan. Karena usaha untuk bertemu gagal, maka Latief bersembunyi di daerah Pejompongan dan setelah dua malam bersembunyi, akhirnya ia tertangkap oleh sepasukan tentara yang menggeledah daerah tersebut. Dengan luka pada kaki kirinya dia masuk penjara sebagai tapol dan mengalami persidangan berkali - kali. Semula Latief mendapat hukuman mati kemudian Mahkamah Militer Agung pada tahun 1982 mengganti vonisnya menjadi vonis seumur hidup. Setahun kemudian pada tahun 1983, Latief resmi menjadi narapidana politik di LP Cipinang. Latief lalu mengajukan permohonan hukuman seumur hidup diubah menjadi hukuman terbatas. Soeharto melalui salah satu keppresnya akhirnya menambah hukuman Latief selama lima tahun sampai dengan 18 Januari 1988 tapi setelah masa itu lewat, Latief tak kunjung dibebaskan. Pada 17 Agustus 1994, Omar Dhani mantan Menpangau, Dr. Soebandrio mantan Menlu dan Ketua BPI serta Brigjen Pol. Sutarto serta Kol. Latief mengajukan grasi pada Presiden Soeharto. Semua mendapat grasi kecuali Kol. Latief. Akhirnya pada era pemerintahan Habibie lah baru Latief mendapatkan grasinya.

Eks Sersan Mayor Boengkoes adalah salah satu pelaku langsung dari Tragedi September 1965. Dia dibebaskan dari LP Cipinang pada tanggal 25 Maret 1999. Sebagai Komandan Peleton Kompi C Batalyon Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang berada di bawah Kol. Untung, dia mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah atasannya yaitu Lettu Dul Arief. Ia diperintahkan untuk 'mengambil' Mayjen MT. Haryono, hidup atau mati. Sebelum dilakukan pengambilan tersebut, dia diberi penjelasan oleh atasannya tersebut bahwa ada sekelompok jenderal yang menamakan dirinya "Dewan Jenderal" yang bertujuan meng-coup Presiden Soekarno. Ketika ditanya apakah Boengkoes mengerti dengan yang dimaksud "Dewan Jenderal", dia menjawab dalam masa G 30 S tersebut ada dua kubu yang tampaknya lagi berkonflik dalam kemiliteran terutama di Angkatan Darat. Yaitu apa yang disebut sebagai "Dewan Jenderal" dan "Dewan Revolusi"."Dewan Jenderal" adalah yang berniat melakukan coup pada Presiden Soekarno sedangkan "Dewan Revolusi" adalah yang berniat menyelamatkan Presiden Soekarno. Menurut Boengkoes ada ketidaserasian dalam Angkatan Darat tidak hanya menyangkut Soekarno.S ekitar pukul setengah tiga dini hari semua unsur pasukan yang bertugas untuk melakukan penangkapan dikumpulkan dan diberi briefing akhir. Pasukan dibagi dalam tujuh sasaran dengan dalam tiap titik sasaran terdiri atas satu peleton pasukan. Waktu 'pengambilan' sangat singkat, antara 15 - 20 menit dan tidak dihitung dengan waktu berangkat. Dan sebelum pukul 06.00 harus sudah dibawa ke semua tujuh orang Jenderal tersebut. Waktu itu Serma Boengkoes mendapat sasaran Mayjen MT. Haryono. Sebelum penangkapan, Serma Boengkoes melakukan observasi dulu. Yang dia ingat adalah waktu itu pintu menghadap ke selatan. Setelah Boengkoes mengetuk pintu dan meminta ijin untuk kedua kalinya, pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Waktu itu keadaan gelap sekali karena oleh pemilik rumah semua lampu dimatikan. Dalam hati Boengkoes timbul pertentangan antara melanjutkan atau tidak tetapi sebagai seorang tentara dia teringat akan perintah komandannya yang harus dituruti. Akhirnya didobraknyalah pintu tersebut dan ketika itu Boengkoes terkejut karena melihat kelebatan bayangan putih dan secara reflek dia menarik pelatuk dan terjadilah penembakan itu. Gugurlah satu bunga bangsa .. Mayjen MT. Haryono. Menurut pengakuan Boengkoes pada saat dia melakukan penembakan, dia tidak mengetahui bahwa yang ditembaknya adalah Mayjen MT. Haryono.Pukul 05.30 pagi tanggal 01 Oktober, Boengkoes dan pasukannya sudah tiba di tempat semula. Baru ketika matahari sudah panas dilakukanlah eksekusi terhadap para jenderal yang masih hidup. dan itupun dilakukan dengan sopan dengan dipapahnya para jenderal sampai bibir sumur dan baru kemudian ditembak.

bersambung ... :)

No comments: