Tuesday, February 21, 2006

THE LUNCH CLUB

Tadi pagi ketika baru saja datang dan kemudian menyalakan komputer, tak lama kemudian ring sms berbunyi di telepon tangan saya.

SMS itu dikirimkan oleh Madame de Belgie:
“Udah ada janji mkn siang blm ? Kalo mau mkn bersama kermh gw aja jam 12 gw yg masak lho”

Saya tersenyum. Terakhir saya makan bersama di rumah Madame de Belgie adalah dalam rangka Farewell Dinnernya Madame de British sebelum dia pindah ke Jerman mengikuti tugas suaminya. Pada saat itu sitting dinner dengan menu yang ruar biasa lezatnya, it was few months ago so I forgot what kind of food that was served but I did remember the guests yaitu Madame du Ambassador, Madame de Belgie, Madame de British, Madame Secretaire, Madame Employee, Monsieur de British. Yang bukan ladies hanyalah Monsieur de Belgie of course sebagai tuan rumah dan saya sendiri.

Pembicaraan yang terjadi di meja makan diantara member of The Dinner Club merupakan pembicaraan yang sangat menarik, berkisar dari mulai situasi politik di Kamboja, mengingat bahwa Monsieur de Belgie dan Monsieur de British bekerja sebagai konsultan di Kementrian Dalam Negeri Kamboja. Lalu pembicaraan juga merambah pada masalah tatanan kehidupan bermasyarakat di Indonesia dan juga bagaimana pergaulan masyarakat Indonesia di luar negeri, masalah-masalah kehidupan dan sharing knowledge tentang banyak hal, I did enjoy the dinner at that time. Coffee was served after dinner while the wine kept pouring.

Mengingat waktu itu maka saya memutuskan untuk join the The Lunch Club hari ini yang tentunya komposisi undangannya berbeda dengan orang-orang yang hadir pada saat dinner waktu itu.

I reply to say yes dan kemudian menanyakan siapa saja yang diundang. It happened bahwa salah satu home staff di kedutaan pun diundang ke acara makan siang tersebut. So I went to the lunch with her.

Sesampai di rumahnya Madame de Belgie; saya dan Madame Diplomat termasuk yang datang cukup awal walaupun pada saat itu sudah ada Madame du Bandung. Setelah semua yang diundang ke makan siang bersama ini datang maka terlihatlah komposisi yang berbeda dengan waktu dinner dulu itu, yang mana sekarang ini ladies mendominasi komposisi: Madame de Belgie, Madame Secretaire, Madame du Bandung, Madame du Demak, Madame Doctor, Madame Employee, Madame de Germany, Madame du USAID while the gentlemen hanya ada empat orang Monsieur de Belgie, Monsieur de Canada, Monsieur du Japan and myself.

Perbincangan sebelum mulai makan pun cukup menarik, pembicaraan-pembicaraan ringan berkutat seputar kedatangan RI 1 ke Kamboja akhir bulan Februari dan persiapan-persiapannya lalu beralih ke harga sewa apartemen dan segala fasilitasnya. Sementara another group membicarakan mengenai harga beras organic, pemesanan harga beras organik dan hal-hal lain.

Once the lunch was ready, Madame de Belgie pun mempersilahkan para ladies untuk memasuki ruang makan dan duduk di meja makan yang sudah tertata rapi dengan segala macam jenis makanannya. Sementara itu Monsieur de Belgie mempersilahkan para gentlemen yang cuman 4 orang termasuk Monsieur de Belgie himself duduk di satu meja kecil yang letaknya tidak begitu jauh dari dimana tempat para ladies duduk.

Ini bukan sitting dinner pun bukan buffet, lebih kepada an Indonesian style yaitu dimana semua lauk-pauk sudah tersedia diatas meja dan kita tinggal menyantapnya. Pembicaraan di tempat para ladies tampak hangar bingar, sebentar terdengar cekakak dan cekikik. Sementara ditempat saya duduk suasana terasa lebih formil dan pembicaraannya pun cenderung lebih “berat”. It didn’t mean saya tidak menikmati makan siang. Monsieur du Japan ternyata sangat fasih berbahasa Indonesia dan dia bercerita mengenai restaurant Indonesia di Tokyo yang untuk 6 buah tempe goreng yang sangat tipis dan tidak enak harganya mencapai USD 10, sementara itu Sayur Asem pun rasanya sangat beda. Monsieur de Belgie menanggapinya dengan membandingkan antara restaurant di Tokyo itu dengan restaurant Indonesia di Phnom Penh, Bali Café. Bali Café merupakan obat penawar rindu akan masakan-masakan rumah orang Indonesia. Mulai dari Balado Terong sampai Sop Buntut Goreng pun tersedia di Bali Café.

Monsieur du Japan ternyata harus segera meninggalkan tempat makan siang karena sudah ada janji pertemuan berikutnya, hingga di meja para gentlemen itu tinggallah Monsieur de Belgie, Monsieur du Canada dan saya sendiri. Pembicaraan pun mulai beralih ke arah perkembangan saham dunia, perkembangan bank di dunia dan hal-hal lain yang menyangkut ekonomi dan penanaman modal usaha. Sebagai tamu yang sopan tentunya saya berusaha untuk mengikuti setiap pembicaraan walaupun terus terang saya katakan bahwa semua itu diatas kemampuan saya, I have no idea about perkembangan saham dunia, perbankan, valuta asing dan lain-lain menyangkut ekonomi. Tak lama sesudah itu, Monsieur du Canada pun pamit karena harus menyelesaikan sesuatu, dia pulang bersama dengan Madame de USAID.

Kemudian I joint the ladies club bersama dengan Monsieur de Belgie. Pada awalnya pembicaraan terbagi atas dua grup, satu grup bicara tentang masalah-masalah seputar wanita dan satu grup lainnya bicara tentang masalah kewarganegaraan. Tak lama Monsieur de Belgie undur diri dan tinggalah saya satu-satunya pria di antara para wanita-wanita. Ketika saya mengikuti pembicaraan yang tengah berlangsung dengan sangat gegap gempita diantara para wanita itu, mereka sedang membicarakan bagaimana perbedaan ras itu dikalangan para orang-orang jaman dulu merupakan satu masalah besar. Seiring dengan berkembangnya jaman maka pemberontakan-pemberontakan kecil yang dilakukan oleh generasi muda sekarang. Hal ini pun menjadikan polemik dan ditentang habis oleh para orang tua, sampai-sampai ada salah satu orang tua yang masuk rumah sakit dan menurut ceritanya sang Ibunda ini akan bunuh diri karena pacar anaknya bukan dari ras yang sama. Juga ada yang menghindar dari acara keluarga karena lingkungan keluarga besarnya selalu memprotes hubungannya dengan membanding-bandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain karena saudara-saudaranya itu mempunyai teman dekat yang satu ras.

Saya mengamati grup kecil ini yang ternyata dinamika kehidupan mereka ternyata tidaklah selancar yang dibayangkan. Cukup menarik pembicaraan siang ini.Menyimak bagaimana akhirnya mereka bisa bersanding dengan pilihan hatinya, saya tersenyum, ternyata perjuangan Ibu RA. Kartini tidak percuma, yang namanya emansipasi bisa terterapkan.

Ketika kita tinggal di negeri orang dan kemudian kita berkumpul dengan sesama bangsa kita kemudian berbincang dan bertukar pikiran terkadang membuat saya bisa menghilangkan rindu akan tanah air. Tentunya disela-sela pembicaraan serius ada canda-canda dan tawa serta terkadang senyum getir.

The Lunch Club ini berencana akan berkumpul kembali hari Sabtu untuk menghabiskan waktu bersama pada hari Sabtu dari siang sampai malam katanya. I hope I will get the invitation as well walaupun mungkin isinya notabene adalah para madame-madame.

Well, mudah-mudahan Sabtu ini bisa terwujud rencana tersebut mengingat bahwa tentunya rekan-rekan yang bekerja di kedutaan akan semakin sibuk dalam rangka mempersiapkan kunjungan RI 1 di Kamboja.

3 comments:

Nahria Medina Marzuki said...

Ikuuuttt doooonk Lunch Club-nyaa :)

Jammie said...

bikin tea club dong trus saben sore bikin tea party biar kaya winnie the pooh dkk.. hihihihi

-dimas hary- said...

YAYA:
Sok atuh kesini .. ntar kita lunch bareng .. abisnya waktu aku pulang kemaren kita ngga sempat ngumpul barengan ... hihihhi ..

JAMMIE:
Haaaaaaaaaiii .. so great that you stop by in my blog. Thanks a lot. How's Bali ? ... Nanti ah kalo udah pulang ke Tanah Air akan bikin Tea Club ... mau join ? .. hihihihi ... btw, kapan nich diajak keliling Bali naik Tiger ? ...