Wednesday, June 01, 2005

Naah kali ini saya mem-forward sms lain ... dan ini hasilnya ..

SMSnya adalah :
1)send back this msg if u like me. 2)call me if u love me. 3)make a miss call if u care about me. 4)give a joke if u just a friend. 5)do nothing if u hate me!

Hasilnya :

- Kalo dibales kaya gini artinya apa ? Hehehe..

- Which do I will have to say, I ake all 3 point accept point 5 (disadur sebagaimana aslinya)

- (send the whole message back to me)

- :)

- This msg mean, I'd love to do point 1,2, 3 and 4 .. I like u, I love u, I care about u, coz u my lovely friend... Miz u mamas...

- *sambil elus2 jenggot* "hmm hary sedang horny pasti neh.."

- If I do no 1 until 4 ?

- 1) I like u 2) I love u, tp ndak mgkn tlp dr HP ya, 3) I care about u, ngga usah pk mscld juga..

- (send the whole message back to me)

- How to do all in 1 shoot? He he

- (send the whole message back to me)

- (send the whole message back to me)

- I know you are HARI it is strang to hear this. How are you doing? Long time no see you. I hop you are fine you have got day off?

- Ha Ha Ha

- (send the whole message back to me)

- Would love to chat but I'm kind of in a tight budget... Hehe.

- Aku ambil pilihan 1,2,3 aja tapi dari nomor ini yaa hpku yg 081110**** low batt.

- Hary.. plis deh!

Tuesday, May 31, 2005

SEBUAH PERJALANAN NAPAK TILAS

Mungkin ada benarnya bahwa perjalanan napak tilas bisa membangkitkan kembali jiwa yang telah lelah atau mungkin bisa membawa kembali satu memori masa lalu yang memang menurut individu-individu yang bersangkutan memiliki satu nilai tertentu dalam khazanah kehidupannya.

Tahun 1973 ketika Perang Vietnam terjadi, almarhum Bapak saya merupakan salah satu anggota Pasukan Perdamaian PBB yang dikenal dengan nama Garuda IV. Sebuah pasukan yang dikirimkan oleh Pemerintah Indonesia dalam rangka turut berpartisipasi menjaga ketertiban dunia dan perdamaian abadi di muka bumi ini.

Exactly 32 tahun kemudian, saya putra bungsunya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Saigon atau sekarang lebih dikenal dengan nama Ho Chi Minh City. Ada satu perasaan yang sulit untuk digambarkan ketika pertama kali pesawat landing di Ho Chi Minh International Airport. Dalam hati saya hanya berkata, “Pak, janjinya sudah ta tepati. Aku di Saigon sekarang”. Perkataan saya tersebut adalah menjawab pembicaraan almarhum Bapak saya beberapa saat sebelum beliau wafat 3 tahun yang lalu. “Sesok mben kalo sudah punya uang, kamu datang ke Saigon yaa terus ceritain sama Bapak, seperti apa Saigon yang sekarang.” … Kata Bunda, Bapak dulu menyimpan semua barang-barangnya sewaktu bertugas di Garuda IV supaya bisa bercerita pada anak dan cucunya tentang masa bertugasnya di Saigon.

Ketika menyusuri jalan-jalan di kota, saya melihat perbedaan-perbedaan yang menyolok antara Phnom Penh dan Ho Chi Minh. Saya tidak tahu apakah karena Ho Chi Minh cenderung lebih modern dikarenakan sedikit banyaknya Amerika pernah mampir dikota ini dan menduduki kota ini untuk waktu yang cukup lama atau memang keadaannya sudah sedemikian maju (kata teman saya, untuk ukuran sebuah kota di negara komunis, perkembangan yang terjadi di Ho Chi Minh adalah sangat maju dan pesat).

Seperti hampir semua negara-negara Indo China yang pernah diduduki oleh Perancis, maka bangunan-bangunan tuanya bergaya klasik Perancis dan semua ditata, dijaga serta dirawat dengan baik. Beda sekali dengan keadaan di Indonesia, dimana penghancuran Gedung Tua / Stasiun Tua dihalalkan demi dibangunnya tempat-tempat komersil. Taman-taman dijaga kebersihannya dan penggunaannya pun benar-benar merupakan tempat duduk-duduk sambil mengobrol atau menikmati sejuknya semilir angin dari pohon-pohon tua yang ada dan semerbak bunga yang ditanam disekitarnya.

Entah mungkin karena dipengaruhi oleh cerita atau mungkin juga halusinasi sendiri, saya merasakan hawa komunis yang sangat kuat. Hampir kemana mata menuju, kita selalu bisa melihat bendera Vietnam berkibar (dasar merah dan bergambar bintang warna kuning satu tepat ditengah). Ditengah-tengah negara beraliran komunis, demokrasi masih berjalan, terbukti dengan adanya US Dollar sebagai alat pembayaran yang sah selain Doung Vietnam. Kotanya cenderung rapi tampak bersahaja. Kendaraan terutama motor tampak menguasai jalanan especially sore hari menjelang malam. Kehidupan malam pun tampaknya lebih hidup dibandingkan dengan Phnom Penh. Terlihat dengan permainan lampu-lampu yang menyoroti hampir semua gedung-gedung tua. Lalu lalu lintas yang tertib dan lampu-lampu taman yang menyinari keindahan malam sehingga membuat suasana kota Ho Chi Minh semakin tampak elok untuk dilihat. Menelusuri bagian kota tua dari Saigon ini pun tampak terlihat nuansa yang berbeda namun tetap kita masih bisa merasakan keindahan, keteraturan dan ketertiban.

Sudah nonton film “The Lover” ? film yang bercerita tentang seorang pria Vietnam berusia 32 tahun yang jatuh cinta dengan seorang wanita Perancis berumur 17 tahun namun dikarenakan perbedaan budaya akhirnya kisah kasih kedua orang itu harus kandas. Film tersebut mengambil setting di Saigon dan sekitarnya. Beberapa tempat yang di shooting di film tersebut masih ada sampai sekarang. Hal ini merupakan satu bukti lagi betapa bangsa-bangsa Indo China begitu menghormati masa lalunya sehingga mereka sangat concern dengan semua peninggalan-peninggalan masa lalunya, tampak disadari benar bahwa semua itu jika dipelihara dengan baik dapat mendatangkan keuntungan.

Gereja Kathedral merupakan tempat-tempat yang masih dijamin keasliannya. Dibangun antara tahun 1877 dan 1833, dinamakan Notre Dame Cathedral. Suasana di pasar pun terlihat lebih dinamis, baik itu di Binh Tay Market yang dibangun pada tahun 1928 ataupun di Ben Thanh Market yang dibangun pada tahun 1914 dan dikenal dikalangan bangsa Perancis sebagai Halles Centrales. Ho Chi Minh telah mampu membuktikan bahwa dibawah naungan komunis pun masih bisa berjalan dengan moderat dan maju. Dibanding dengan Hanoi (Ibukota Vietnam), sangatlah jauh perbedaannya, hal ini terlihat dengan banyaknya orang Hanoi yang datang ke Ho Chi Minh untuk berbelanja dan makan ayam goreng (di Ho Chi Minh sudah ada Kentucky Fried Chicken; ooohhh .. I feel in heaven makan di Kentucky after more than 9 months ngga pernah lagi nyentuh fast food dari franchise. Di Hanoi Kentucky belum ada).

Sayangnya perjalanan yang saya lakukan sangat singkat sehingga tidak memiliki kesempatan untuk pergi menengok Cu Chi Tunnel, sebuah terowongan bawah tanah dengan panjang 250 km, yang konon dulu menyambungkan antara Vietnam Selatan dan Vietnam Utara, yang konon pula tentara Amerika tidak ada yang berani masuk ke dalam terowongan itu. Namun perjalanan yang saya lakukan ini pun sudah mampu membuat saya tersenyum dan mata saya berkaca-kaca ketika meliwati depan Reunification Hall atau yang dulu dikenal sebagai Independence Palace yang mana pada tanggal 30 April 1975 gerbang depannya ditabrak oleh tank Vietnam Utara dan merupakan tanda berakhirnya Perang Vietnam. My late father used to tell me about that story and when I passed in front of that palace, I did remember him.

Well, memang bukan khusus datang untuk napak tilas tetapi karena memang ada satu tugas yang harus dilakukan di Ho Chi Minh, walaupun hanya dalam waktu yang singkat, saya sudah bersyukur bahwa at least dari 7 putra – putrinya, ada satu yang bisa menginjakkan kakinya di tempat almarhum Bapak bertugas dulu.

That nite at Saigon, I slept so well and I felt that my father looked at me and smiled J

Monday, May 30, 2005

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat SMS dari salah seorang teman baik saya di Indonesia. Here is the sms :

Describe me in ONE WORD, just 1! Send it 2 me then send this msg to 10 frens & see how many wondrful/strange things people think about u! its fun!

So .. I forwarded this sms to sum of my friends ... and here are the answers ... :

- Ngangenin
- Pengertian
- Nice
- Tulus
- Jaim
- Caring person
- Mana oleh2 vietnam ?
- G
- Kind
- Interesting
- rada pikasebeuleun
- Home
- Gnite har ...
- Sincere
- Soft
- Blue
- Caring
- FAB ...

Thursday, May 26, 2005

SMS

The pleasure was n is mine :-) Take care n have precious time, love!

from I Love You
SMS

Hey! Coffee? Pick u up by the gas station n McD Gatsu. ;-)

from I Love You

Wednesday, May 25, 2005

NASIONALISME, RASA RINDU dan GUNDAH GULANA

NASIONALISME
Beberapa waktu yang lalu kita baru saja memperingati Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei. Setiap tahunnya hari tersebut diperingati dengan upacara bendera lalu pastinya dalam rangkaian acara tersebut ada acara aubade atau menyanyikan lagu-lagu wajib nasional.

Tahun ini seperti juga tahun-tahun sebelumnya, di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh, Kamboja, HARKITNAS diperingati dengan upacara dan dipimpin oleh Inspektur Upacara; Duta Besar Republik Indonesia Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Kerajaan Kamboja (panjang amat yaak titlenya ... :p).

Seperti juga pada acara-acara di KBRI, saya selalu kebagian jatah sebagai MC, entah buat acara resmi atau tidak resmi dan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Pada acara memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang baru lalu itu, setelah upacara baru rasa haru menyelimuti dada dan ingin meledak serta menangis. Gara-garanya simple aja kok.

Sebelum acara dimulai, mereka semua men-test semua peralatan sound system dan juga CD-CD yang akan dipergunakan (untuk lagu kebangsaan biasanya dinyanyikan oleh peserta upacara dengan iringan orchestra dari CD; untuk mengheningkan cipta pun demikian), tadinya saya masih ngobrol kiri-kanan, berhaha-hihi dan juga bercanda-canda dengan yang lain. Ketika mereka mencoba lagu kebangsaan, tiba-tiba saja bulu kuduk saya berdiri dan keinginan untuk melihat tanah air mendadak menggelegak memenuhi semua rongga pernapasan, mata mendadak terasa panas dan bicara pun terbata-bata. Syndroma apakah ini ? .. waktu saya baru datang tahun lalu, tidak lama setelah saya tiba kemudian ada Rally India - ASEAN, ketika delegasi Indonesia datang, semua asyik bernyanyi-nyanyi dari mulai Rayuan Pulau Kelapa sampai Bandung Lautan Api dan sebagian dari supporter dan peserta Rally menangis, saat itu saya masih baru sehingga saya tidak merasakan apa yang disebut dengan syndroma rindu tanah air.

Saat upacara Harkitnas dimulai, saya membacakan susunan acara satu demi satu, saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya tanpa terasa meneteskan air mata. Ya, saya kangen dengan Tanah Air, saya rindu dengan Tanah Air, begitu banyak yang dikatakan oleh orang saat berada di luar negeri dan benar adanya. Senyaman-nyamannya dinegeri orang, lebih nyaman dinegeri sendiri ...

Kalau dikatakan apakah saya ini termasuk orang dengan kategori rasa nasionalismenya yang tinggi, mungkin juga, ya memang saya cinta dengan Tanah Air, saya adalah pecinta batik sejati, hampir dalam setiap acara di Kedutaan ataupun undangan dari kedutaan lain, saya selalu memakai sarung batik Indonesia ...

tanah airku tidak kulupakan
kan terkenang selama hidupku
biar pun saya pergi jauh
tidak hilang dari kalbu

tanahku yang kucintai
engkau kuhargai

walaupun banyak negeri kujalani
kan masyhur permai dikata orang
tetapi kampung dan rumahku
disanalah kurasa senang

tanahku yang ku tak kulupakan
engkau kubanggakan


RASA RINDU
Hari Sabtu setelah melakukan beberapa kegiatan membantu Tante Dubes dalam ASEAN Woman Circle's Bazaar 2005, saya pulang ke Wisma dan segera mandi air hangat supaya badan kembali segar, maklumlah namanya juga long weekend tentunya waktu tak boleh disia-siakan. Malam itu saya sudah membuat janji dengan beberapa anggota MasyIndo untuk ketemuan dan minum kopi sambil mendengarkan live music.

Setelah selesai mandi dan ganti baju lalu saya duduk ditempat tidur sambil mainan remote TV, kemudian terlihat secara sepintas Konser Eliminasi AFI, saya terpaku sejenak. Tadinya tidak niat untuk menonton, saya ingin membaca buku sambil menunggu waktu berangkat bertemu dengan rekan-rekan yang lain. Alhasil saya benar-benar terpaku didepan TV.

Boleh katakan saya norak, kampungan, cengeng, sentimentil, ngga mutu dan lain sebagainya. Tapi saya punya alasan tersendiri dengan nonton AFI sampai dengan selesai konser malam itu. Ada satu kerinduan menyeruak dalam diri ketika nonton konser AFI tersebut, kerinduan ketika AFI masih baru satu dan dua lalu dulu suka sekali setiap malam minggu berdua dengan bunda sambil berbekal pisang goreng buatan bunda serta kopi, kami berdua nonton konser AFI di TV, ada saja yang dikomentari dan biasanya kami sibuk menebak siapa kiranya yang dieliminasi pada malam itu. I miss that time so much.

Beberapa teman saya malah mengatakan secara langsung hari begini saya masih nonton AFI padahal sudah banyak orang yang tidak suka dengan AFI. Well, cobalah anda berdiri di posisi saya, dimana anda tinggal di negeri orang dan kebutuhan akan mendengarkan musik tanah air ataupun lagu-lagu berbahasa ibu sebegitu menggebunya sementara fasilitas hanya sedikit. Maka semua pertunjukkan musik pun akan dihalalkan. Saya tidak menentang dangdut, hanya tidak suka, tapi semenjak pindah ke tanah pohon Lontar ini, saya menyukai dangdut. Bahwa dangdut adalah music of the world, it's true.

Itulah kenapa hari Sabtu kemarin saya ikut menitikkan air mata saat pengumuman eliminasi diumumkan, bukan apa-apa, bukan karena sang kontestan yang keluar, what I remember adalah tawa senang Bunda saat tebakan beliau tepat siapa yang harus keluar dan besok sorenya I should treat her a cup of cappuccinno. Rasa rindu menggelegak dan tak terbendungkan. Saya tidak malu mengakui bahwa ya saya menangis dan dengan tangisan itu justru saya merasa dada saya menjadi lebih ringan :)

GUNDAH GULANA
Tadi malam saya mencoba untuk tidur cepat namun strategi yang dipakai salah, alhasil pada pukul sepuluh malam lewat saya terbangun dan tidak bisa tidur lagi !!!!. Kegelisahan merajalela, baca salah, nonton dvd salah, merokok salah, minum kopi salah, semua salah, even sms-an pun salah.

Gundah gulana tanpa sebab akhirnya datang bertandang, mendadak diri panik memikirkan banyak hal yang belum dikerjakan (padahal semua itu sudah terencana dan belum memasuki masa pengerjaan saja). Rasa-rasanya tadi malam itu saya ingin segera berlari ke kantor dan melakukan ini dan itu.

Ketenangan agak mereda setelah tiba-tiba saya merasa harus ke toilet. Lalu dengan leganya duduklah saya disinggasana kerajaan di toilet dan hasilnya ... rasa gundah semua itu hilang. Oh ternyata oh ... saya hanya ingin puppen saja .... hihihihi ....
"Har, book ticket buat besok malam pesawat terakhir. I need you to go with me. Return ticket Phnom Penh - Ho Chi Minh City - Phnom Penh."

tanpa bertanya lagi urusannya apa dan untuk berapa lama, I booked the ticket.

"Kita berangkat besok malam dan pulang Sabtu siang."

'Baik, saya akan book ticketnya sekarang'

"Okay. We'll talk more tonite about the trip. See you"

'Baik.'

.... click .. tut tut tut tut .. telepon dimatikan

saya cuman tersenyum simpul. Vietnam here I come .....
lalu aku bertanya dan bertanya
benarkah itu semua adanya ? ..
"kau hanya alatnya saja untuk bermanja-manja,
karena dia tau kau takkan menolaknya .. "
"kau hanya tempat untuk bersenang-senang saja
karena dia tau kau miliki semuanya .. "

lalu aku bertanya dan bertanya
benarkah itu semua adanya ? ..
"sadarilah ..,
pernahkah dia mengatakan sayang padamu ?
pernahkah dia menunjukkan rasa sayangnya padamu ?
pernahkah dia mengucapkan sebait kata-kata manis untukmu ?"

lalu aku bertanya dan bertanya
benarkah itu semua adanya ? ..
"dia tak pernah perduli dengan apa yang kau rasa,
dia tak pernah perduli dengan perih yang kau rasa,
dia tak pernah perduli dengan perasaanmu ... kau hanya alatnya saja ... "
"sudahi ini semua ... dia tau bahwa kau selalu mencintainya
sampai kapan pun dan itu dia akan gunakan terus .. "

"kau hanya alatnya saja .. "
lalu diriku terpuruk pada kegelapan semata
merasakan kegamangan dan kenistaan ...
sungguh ..
aku adalah pengemis cinta ...
kerinduanku memudar
pada sepenggalah malam
kutersedu
adakah kau disana merasakannya ?
ataukah ku harus berharap pada
satu titik asa kehampaan kembali ?

kegulanaan itu begitu keras menarik
merasuk pada setiap ubun jiwa kelelahan
dan diri tak lagi kuasa menentang
pasrah
diam
terjatuh
dan entah kapan kan bangkit lagi ..

Tuesday, May 24, 2005

Friday, May 20, 2005

PENGUMUMAN
No. 38 / TU / V / 2005
TENTANG :
Libur "Visaka Bochea Day, Hari Raya Waisak dan Royal Ploughing Day"
Merujuk SK Kepala Perwakilan RI No. 035 /TU/DB/XII/2004, tentang Penetapan Hari Libur Resmi Tahun 2005 pada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh. Dengan hormat diberitahukan kepada seluruh staf KBRI - Phnom Penh, bahwa pada tanggal :
23 Mei 2005 adalah hari besar "Visaka Bochea Day"
24 Mei 2005 adalah hari raya Waisak
26 Mei 2005 adalah hari besar "Royal Ploughing Day"
Sehubungan dengan hal tersebut, Kantor KBRI - Phnom Penh secara resmi diliburkan pada tanggal-tanggal tersebut diatas.
Demikian disampaikan, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
Phnom Penh, 20 Mei 2005
B.P.K.R.T

Thursday, May 19, 2005

kembali ragu mendera
menganggu setiap detik pikir
hati bicara
adakah sisimu yang yakinkan diriku
pada satu titik temu asa kita ?

sepenggal kata itu tak lagi cukup
seperti melodi tak bernotasi tinggi
tak harmonis dendang iramanya
akankah kau lengkapi catatan nada itu
hingga sang maestro memainkan peranannya
dengan sempurna ?

pada sepenggalah senja
di titian tak bertepi
aku tak lagi mau membentangkan sejuta asa
perih
pedih
biarkan saja mentari pada lembayung sore
membakar sisa keperihan dan kepedihan itu
biarkan saja rembulan pucat separuh bayang itu
memburamkan pandang asa
akan cinta
akan cita
karena ingin kutemui apa adanya
walau hanya setitik ..
semalam ketika mata bertaut
mulut tak lagi bicara
sejuta rangkaian aksara
dalam untaian kalimat bermakna
hilang
lenyap
membias
seperti jelaga asap
dalam kabut
menyatu
dan tak lagi terpisah

Semalam ketika mata bertau
hati bicarakan sejuta asa
akan cita
akan cinta
dalam setiap jejak langkah
napas tak lagi serukan gulana
degup jantung tak lagi nyanyikan gundah
durjana kegelisahan pun enggan bertandang

semalam ketika mata bertaut
tak lagi ada keraguan
akankah kepastian semakin menjejak erat ?
pada setiap hembusan napas kehidupan ?
pada setiap detak jantung kecintaan ?

semalam ketika mata bertaut
dan kau memelukku
mata terpejam
dan buaian ode malam pun
tak lagi kurasa
mengembang senyum dalam mimpi indah
semata
senantiasa


phnom penh, jam empat tigapuluh pagi, sembilanbelas mei dua ribu lima

Wednesday, May 18, 2005

mendung tak lagi menggantung
hujan merintikderas
tak lagi suarakan panas mentari

bayu bertiup lembut
sejuk membahanakan relung jiwa kegulanaan
pada air tercurah di tanah kering
cacing merontakan sejuta kesenangan

tak lagi kering melanda
sebagai air sungai kini mengalir
kerinduanku padamu
kecintaanku padamu
mungkin tak lagi ada

entahlah
seolah diri menghilang
tak lagi meninggalkan sisa
walau hanya sejejak asa
akankah penantian berakhir
pada ujung kesedihan dan kecewa
semata ?
ataukah alur cerita kini berganti ?

secangkir kopi pahit tak lagi terasa
semua hambar
dan helaan napasku seolah tak mampu
menghilangkan sejuta beban
akan kerinduan dan kecintaanku
padamu
selalu ..

phnom penh, delapanbelas mei duaribu lima, jam duabelas siang lewat empatpuluh dua menit ..
mendung tak lagi menggantung
hujan merintik
deras
tak lagi suarakan panas mentari
bayu bertiup lembut
sejuk membahanakan relung jiwa
kegulanaan

pada air tercurah di tanah kering
cacing merontakan sejuta kesenangan
tak lagi kering melanda
sebagai air sungai kini mengalir

kerinduanku padamu
kecintaanku padamu
mungkin tak lagi ada
entahlah
seolah diri menghilang
tak lagi meninggalkan sisa
walau hanya sejejak asa

akankah penantian berakhir
pada ujung kesedihan dan kecewa
semata ?
ataukah alur cerita kini berganti ?

secangkir kopi pahit tak lagi terasa
semua hambar
dan helaan napasku seolah tak mampu
menghilangkan sejuta beban
akan kerinduan dan kecintaanku
padamu
selalu ..

phnom penh, delapanbelas mei duaribu lima, jam duabelas siang lewat empatpuluh dua menit ..
SMS

More intense thoughts of u lately, I think I need u. Hope u can be ur more free-spirited true self like u used 2 a year ago, u seemed happy in a more true sense back then, love. Still believe in u.

from I Love You
semalam ketika mata bertaut
mulut tak lagi bicara
sejuta rangkaian aksara
dalam untaian kalimat bermakna
hilang
lenyap
membias
seperti jelaga asap
dalam kabut
menyatu
dan tak lagi terpisah

Semalam ketika mata bertaut
hati bicarakan sejuta asa
akan cita
akan cinta
dalam setiap jejak langkah
napas tak lagi serukan gulana
degup jantung tak lagi nyanyikan gundah
durjana kegelisahan pun enggan bertandang

semalam ketika mata bertaut
tak lagi ada keraguan
akankah kepastian semakin menjejak erat ?
pada setiap hembusan napas kehidupan ?
pada setiap detak jantung kecintaan ?

semalam ketika mata bertaut
dan kau memelukku
mata terpejam
dan buaian ode malam pun
tak lagi kurasa
mengembang senyum dalam mimpi indah
semata
senantiasa

phnom penh, jam empat tigapuluh pagi, sembilanbelas mei dua ribu lima

Tuesday, May 17, 2005

SMS

di sisi lemah energi tungguku,
hadirnya satu tlah harmonikakan bias cahaya
yang lagukan malam-malam bisu

tapi tidak sederhana,
telah dia semikan pula
rumput ragu pada taman asa,
dan nihilkan siaga
mungkinkan rangkul bencana

haruskah kupercayakan redup
energi hati pada kesombongan kepala ?
karena mimpi indah masih saja
mungkin hadir diujung fana


from F.A

he dedicated this poem to someone that might be his "the one" ... well, good luck, my dahling bro' ... I'll pray for your happiness, always .. .:)
aku tak tahu apa yang kurasa
kegelisahan mengejawantah
pada setiap hembus napas

aku tak tahu apa yang kurasa
gulana seolah menjadi karib
pada setiap detik otak berpikir

aku tak tahu apa yang kurasa
kerinduan merajalela
mendendam pada sebuah peluk cium semata

aku tak tahu apa yang kurasa
tak lagi sadarkan diri
hanya senyum dan ucapmu
membayang pada sejuta malam berlalu

aku tak tahu apa yang kurasa
mungkinkah kau hadir malam ini ?
walau hanya dalam seuntai kalimat tak bermakna ?

bila ?