Tuesday, July 12, 2005

ada rasa enggan untuk bertemu
namun tak bisa terelak
tak ada tatap mata
tak ada senyum
bahkan tak ada ucap selamat pagi

aku tahu bahwa semua bukan salahmu
aku yang bodoh
keledai dungu yang tak tahu diri
mencintai
menyayangi
mengasihi
dirimu yang tak bisa membalas semua

aku geram akan diriku
ketololan meraja dalam setiap jejak langkahku
sampai kusadari
bahwa masanya telah usai
dan aku harus terus berpijak pada bumi
tanah tempatku melangkahkan kaki-kaki hakikiku

betapa kau pun miliki hati
untuk membohongiku selama ini
seolah memberi harap akan asa yang kutanam
seolah memberi ruang pada dewa dewi cinta
yang asyik bercengkrama

kini
untuk kesekian kalinya
aku terjatuh
terjerembab
pada lembah nista
lembah nista

aku hanya alatmu
untuk memuaskan semua materi

ah ..
sudahlah .. tak guna meracau
kuucapkan selamat untukmu
semoga nanti kau sadari
bahwa aku tulus mencintaimu
bahwa aku tulus menyayangimu
bahwa aku tulus mengasihimu
itu pun kalau kau sadari
itu pun kalau kau masih punya nurani

selamat tinggal
kini tembok besar bak tembok cina
membentang panjang dan tak terbatas
antara kita

4 comments:

deltakirana said...

ya udah lah... gak perlu ada tembok china benernya, kalo emang udah ga bisa bersama biarkan ia jadi serangga kecil... biarkan ia tetap ada... untuk menjadi sekedar teman, tanpa ada dendam tentunya... damailah dengannya, terutama dgn hatimu sendiri...

Dimas Hary said...

inginnya sih seperti itu, tapi apa daya yaa, masih aja ada dendam dan rasa sakit dan acap kali mengingat semuanya, ingin rasanya pergi dan tak bertemu lagi ..

anyway, I try my best untuk bisa damai dengan dia dan terlebih-lebih dengan hatiku sendiri ..

Ling said...

aduh yg tabah ya..mungkin ada bagusnya kalau kamu cari tahu sebenarnya dia bagaimana dalam lubuk hatinya..

-dimas hary- said...

mau tanya dalam hatinya kayak apa, udah maleus duluan .. takut sakit ... :( ..