Monday, March 07, 2005

MOBIL BARU, GANYANG, GELORA

Sudah dari hari Minggu siang pukul satu saya di kantor dan hanya pulang tadi pagi pukul delapan untuk tiduran sebentar, jam sepuluh lewat Bude Kundarti sudah membangunkan, saya minta ekstra waktu lagi sekitar setengah jam and alhasil pukul setengah duabelas siang saya baru ada di kantor lagi.

Perjalanan dari Wisma menuju kantor yang biasanya ditempuh dalam waktu kurang dari tujuh menit, tadi saya tempuh dengan waktu kurang lebih sepuluh menit. Tentunya hal itu dilakukan tidak tanpa alasan. Mr. Aich-one menjemput saya dengan kendaraan barunya. Mobil baru Camry which tahunnya tahun berapa saya tidak tahu [maklumlah pengetahuan saya tentang mobil nol besar]. Camry hitam dan saya bisa lihat tatapan serta perasaan bangganya akan mobil tersebut walaupun mobil tersebut adalah mobil second hand tapi nyamannya tidak kalah dengan mobil baru.

Perjuangan dan kesabarannya dalam meniti titian untuk mendapatkan mobil tersebut patut diacungi jempol. Saya kagum dengan keuletan dan kegesitannya. Mr. Aich-one adalah salah satu orang andalan kedutaan, terlebih lagi dia adalah Protocol Officer yang punya kenalan hampir satu Kamboja Raya ini. Wherever we go with him, there's always somebody said hi dan menanyakan kabarnya.

Sebelas tahun hidupnya dihabiskan disini dan dia sudah menjadi bagian dari masyarakat sini, bahkan he's married with a Cambodian girl. Seorang putri Kamboja yang cantik, mungil dan dokter gigi pula.

Tanpa terasa perjalanan sepuluh menit terlalui dan sampailah saya dikantor tercinta ini. Kembali mendedikasikan hidup untuk negara tercinta Indonesia Raya yang sedang menangis saat ini.

Begitu sampai di meja seperti biasa saya menyalakan komputer dan mencari berita seputar tanah air dan kembali saya membelalakkan mata menatap kalimat-kalimat GANYANG MALAYSIA ..

Seperti kembali ke pelajaran sejarah masa SMP dan SMA, kembali mengingat peristiwa Konfrontasi dengan Malaysia, kembali mengingat gugurnya dua orang KKO yang diterjunkan di perbatasan, kembali mengingat istilah GANYANG, satu istilah yang sudah lama sekali tidak pernah terdengar dan dipakai semenjak peristiwa Konfrontasi dengan Malaysia dan peristiwa September 1965. Saya tidak bisa membaca berita dengan fokus, entah mengapa, yang ada selalu teringat kata-kata .. GANYANG KABIR .. GANYANG KABIR ... yang diteriakkan oleh para gerwan dan gerwani pada subuh 1 Oktober 1965 di Lubang Buaya.

Ada perasaan menggelora dalam dada saat membayangkan bahwa Indonesia akan kembali berperang. Akankah ini terjadi ? tidak cukupkah derita bangsa tercinta dalam menghadapi hidup kesehariannya ? Tsunami, longsor, BBM naik, masalah perbatasan dengan Malaysia, ... bertubi-tubi mendera dinamika hidup negara Indonesia tercinta.

Akankah bangsa kita mampu bangkit dan terus maju ? meninggalkan keterbelakangan, kebodohan, euphoria reformasi dan sebangsanya ? .. I wish. Dollar sudah naik lagi menjadi sembilan ribu tiga ratus", kebutuhan bahan pokok sudah menanjak sedikit demi sedikit, tarif angkot sedang diperjuangkan naik. Lalu bagaimana dengan implementasi subsidi BBM yang dialihkan ? well, as I said .. I doubt it or even it's all lie.

Menangislah Ibu Pertiwi, tumpahkanlah cucur air mata siksa batinmu, untuk anak negeri yang sedang berjuang, meraih arti kemerdekaan yang sesungguhnya .. menangislah Ibu ..

No comments: