Tuesday, September 06, 2005

the way you look at me

no one ever saw me like you do
all the things that i could add up too
i never knew just what a smile was worth
but your eyes see everything
without a single word.

coz there's somethin' in the way
you look at me
it's as if my heart knows
you're the missing piece
you make me believe that there's nothin'
in this world i can't be
i never know what you see but there's
somethin' in the way you look at me.

if i could freeze a moment in my mind
it'll be the second that you
touch your lips to mine
i'd like to sop the clock
make time stands still
coz' baby this is just the way
i always wanna feel.

coz' there's something in the way
you look at me
it's as my heart knows
you're the missing piece
you make me believe that there's nothin'
in this world i can't be
i never know what you see but there's
something' in the way you look at me.

i don't know how or why.
i feel different in your eyes
all i know is it happens every time.

coz' there's something in the way
you look at me
it's as if my heart knows
you're the missing piece
you make me believe that there's nothin'
in this world i can't be
i never know what you see but there's
somethin' in the way you look at me.

the way you look at me
24 hari menjelang ...

Monday, September 05, 2005

Start working as usual. Duuh bakalan penuh schedule minggu ini. Tadi ke airport jemput Komandan PasPamPres yang diundang datang ke Kamboja oleh Komandan PasPamPM. Dari airport langsung ke Wisma untuk ngurus dinner karena sitting dinner.

Setelah urusan dinner kelar, ke kantor untuk ambil surat-surat yang belum diproses then after that ngobrol sama Roth sampai jam setengah dua pagi terus dilanjut ...

Pulang sampai rumah jam 3. Ngantuk, cape tapi kok bawaannya mau smile terus.

25 hari menjelang ...

Sunday, September 04, 2005

Asli tidur seharian dan cuman berkutat dikamar dengan nonton TV dan sms-an.

26 hari menjelang ...

Saturday, September 03, 2005

Seharian dirumah. Nonton The West Wing -- Season 4. How I love the way Sam Seaborne working. I admire CJ. Cregg and I hate the snobbish style of Toby.

Hari ini adalah my first year anniversary di Phnom Penh. I came to this city a year ago on September 03rd, 2004 jam 17.20. So many things have happened and so many things have changed.

Nonton Grand Final AFI 2005 .. finally Ade dari Manado berhasil menjadi juara. Syukurlah .. at least not Bojes yang jadi juara.

27 hari menjelang ...

Friday, September 02, 2005

Hari ini libur. Try not to go the office.

Datang ke acara Ambassador's Secretaries of ASEAN++ Friendship Dinner di Palm View Cafe, Hotel Phnom Penh. Yang jadi host Naroat dari Embassy of USA.

28 hari menjelang ...

Thursday, September 01, 2005

Biasanya bisa sabar tapi nggak tau kenapa belakangan ini jadi malah ngga karuan. Tidak ter-organize dengan baik segala sesuatunya.

Tadi datang ke National Day-nya the Socialist Republic of Vietnam. Cuman ketemu dengan Nguyen Giang, ternyata he did not invite others secretaries from other embassies so I was so surprised when I knew that. Well, may be because he is new in Phnom Penh and the one who always be around whenever he needs an assistance is me. :)

I did enjoy the party. I was a little bit tipsy.

29 hari menjelang ...

Monday, August 29, 2005

MALAM SYUKURAN HUT KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA KE 60

Mengakhiri rangkaian kegiatan menyambut / memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 60, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh mengadakan acara Malam Syukuran 60 tahun Indonesia Merdeka dimana pada kesempatan itu pun diadakan pembubaran panitia untuk segala jenis kepanitiaan sehubungan dengan acara menyambut / memperingati 60 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sudah dari jauh hari ditetapkan bahwa acara akan dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus 2005 dari mulai pukul 17.00 sampai dengan pukul 21.00 dan bertempat di auditorium Pannasastra University. Dikatakan pula bahwa yang akan hadir kemungkinan mencapai sekitar 300 orang, mengingat pada saat itu terdapat tamu dari Masyarakat Indonesia di Ho Chi Minh City, Vietnam.

Persiapan yang dilakukan boleh dikatakan sistim ekspres dimana semuanya dikerjakan dengan sistim gotong royong. Koordinasi sana, koordinasi itu, koordinator anu bicara dengan koordinator ini untuk menyelesaikan itu.

Setelah itu diadakanlah rapat akhir pada hari Kamis (kalo ndak salah) untuk membicarakan semuanya. Hampir semua pihak terkait ikut hadir. Untuk kegiatan yang satu ini dikarenakan kesibukan mengurus untuk acara ASEAN Ambassadors’ Working Luncheon dan trip ke Bangkok maka saya untuk kali ini tidak involve banyak dan hanya sejauh sebagai pengisi acara saja.

Pada kesempatan kali ini, Atase Pertahanan RI di Phnom Penh berhasil mendapatkan sponsor untuk mendatangkan artis ibukota sebagai pelepas rindu bagi para warga Indonesia yang sudah lama tidak mendengarkan lagu-lagu Indonesia terbaru secara live. Tentunya pihak lokal yang dalam hal ini adalah kami-kami yang ada di Phnom Penh tidak mau kalah tampil sehingga bergiatlah kami pun berlatih untuk nanti bisa tampil satu panggung dengan artis – artis ibukota yang tentunya sudah punya nama.

Para artis datang pada hari Jumat malam, dijemput oleh perwakilan staf diplomatik dari KBRI Phnom Penh plus saya yang mewakili Duta Besar karena beliau ada acara dan rekan-rekan dari protokol dan juga kantor Athan. Dari airport langsung menuju hotel dan langsung diacarakan makan malam bersama Duta Besar. Senang juga ternyata di rombongan tersebut ada Kang Acan yang ternyata adalah partnernya my beloved sista Mbak Vita. Alhasil kita asyik ngobrol-ngobrol dan saling berbagi cerita.

Sabtu pagi bangun kesiangan. Jam sepuluh sampai di Auditorium untuk Gladi Bersih ceritanya. Tunggu punya tunggu alhasil baru mulai gladi bersih pukul 11 siang dan para artis pun mereka check sound baru sekitar pukul satu.


Image hosted by Photobucket.com


Bersama Cici Faramida. Gladi Bersih Malam Syukuran HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 60.

Image hosted by Photobucket.com


Bersama Siti KDI. Gladi Bersih Malam Syukuran HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 60.


Acara diawali dengan hujan lebat yang mengguyur kota Phnom Penh namun Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Pukul 19.00 rangkaian acara hiburan pun dimulai dengan dibuka oleh permainan gamelan para ibu-ibu Dharwa Wanita Persatuan dan ibu-ibu Masyarakat Indonesia di Kamboja.

(photo menyusul)


Gamelan selesai, maka tarian Sukaretna yang ditarikan oleh tiga anak Indonesia menempati rangkaian acara berikutnya. Lucu juga lihat anak-anak menari.

(photo menyusul)


Setelah itu Rebana dengan lagu melayu dibawakan oleh PERMIKA.

(photo menyusul)


Angklung yang merupakan alat musik tradisional dari Jawa Barat pun dimainkan oleh gabungan tim remaja dan KBRI dengan membawakan dua buah lagu Jawa yaitu Cublek-Cublek Suweng dan Gundul-Gundul Pacul.

(photo menyusul)


Selesai angklung maka band remaja pun dengan vokalis anak-anak menghibur para undangan yang hadir dengan lagu I have a dream dan Benderaku (eh judulnya bener ngga yaa ? pokoknya yang syair .. berkibarlah bendera negeriku .. berkibarlah ….).

(photo menyusul)


Band anak-anak selesai dilanjutkan dengan anggota Brigade 911 Kamboja menyanyikan lagu Bengawan Solo, lalu saya menyanyikan Manuk Dadali (yang protes bayar !!!) dan ditutup dengan lagu tradisional Khmer yaitu Arappia.

(photo menyusul)


Usai sudah rangkaian acara pembuka. Acara dilanjutkan segera dengan acara utama yaitu hiburan dari artis ibukota.
(photo menyusul)


Disela-sela giliran naik panggung. Saya yang semenjak ikut blog jadi narsis karena ketularan teman-teman saya blogger yang lain (hayoooo ngaku siapa yang narsis ???) pun akhirnya kembali photo dengan para artis pendukung .. cieeeee …

Image hosted by Photobucket.com
Dengan Cici Faramida, Malam Syukuran HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 60

Image hosted by Photobucket.com

Dengan Siti KDI, Malam Syukuran HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 60

Setelah mengambil photo ini, saya baru teringat ucapan sobat saya yang waktu itu saya cerita bahwa akan ada Cici Faramida dan Siti KDI datang ke Phnom Penh dan dengan semangat perjuangan 45 dia bilang kalo gue harus photo karena waktu dia lagi belajar di London dan ada acara di KBRI London yang mendatangkan Ikke Nurjanah, dia photo lhoo bersama Ikke Nurjanah J.

Selesai acara tentunya kami berphoto ria kembali di panggung.

Image hosted by Photobucket.com

Tuesday, August 23, 2005

SAYA TETAP ORANG JAWA

Dilahirkan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1971, anak ketujuh dari tujuh bersaudara, empat kakak laki-laki dan dua kakak perempuan. Cucu Bupati Madura yang dibuang oleh pemerintah Belanda ke Kediri. Ayahnya seorang pensiunan TNI AD dengan pangkat Mayor dan ibunya adalah mantan guru yang kemudian mendedikasikan hidupnya sebagai pegawai di Yayasan Kartini. Punya nama yang sangat panjang menurut ukuran orang-orang pada umumnya Raden Panji Hary Carpijanto Saptadi Puruhito. Hary adalah nama keluarga atau dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan Family Name. Carpijanto diambil dari kata Le Carpiagne, sebuah kota kecil di Perancis, tempat dimana almarhum ayahnya melaksanakan tugas belajar dari TNI AD. Saptadi diambil dari kata Sapta yang berarti tujuh dan Adi yang berarti anak laki-laki. Puruhito adalah nama seorang Begawan yang pada masanya terkenal sangat arif bijaksana dan setiap ucap tutur katanya selalu didengar dan dituruti oleh para murid-muridnya.

Mengawali masa kecilnya di sebuah komplek perumahan tentara di kota kembang dan menjalani jenjang pendidikannya dimulai dari TK. Kuncup Melati di Komplek Seskoad Bandung lalu masuk SD BPI di Jalan Burangrang, masa SMPnya dihabiskan di SMPN XIII Bandung dan aktifitas organisasinya dimulai di SMAN 12 Bandung. Mengikuti 11 ekstra kurikuler dari 12 ekstra kurikuler yang dimiliki SMA tersebut, dengan jabatan tidak jauh dari Ketua atau Bendahara.

Sempat frustasi karena tidak bisa melanjutkan ke bangku kuliah karena terbentur masalah biaya sehingga memutuskan untuk mencoba tahun berikutnya, sambil menunggu masa ujian masuk perguruan tinggi tahun berikutnya, mengikuti kursus bahasa Perancis di CCF Senopati Jakarta dan memperdalam bahasa Inggrisnya dengan membaca lebih banyak lagi buku-buku bacaan bahasa Inggris. Dalam satu kesempatan mencoba keberuntungan, melamar di McDonald's Indonesia yang pada saat itu baru saja akan membuka gerainya yang pertama. Berangkat ke Kuala Lumpur bersama 12 orang temannya dari 350 lebih pelamar. Meniti karir di fast food yang terkenal diseluruh dunia ini selama hampir lima tahun sebelum kemudian dibajak oleh Wendy's Old Fashioned Hamburgers dan bekerja untuk Wendy's selama hampir tiga tahun lebih. Microsoft Indonesia adalah lahan berikutnya, dengan modal fast learner dan willing to work hard akhirnya bisa menyelesaikan kontrak dengan predikat terakhir adalah Data Base Supervisor. Baru kemudian masuk dan malang melintang dalam dunia LSM Budaya di Indonesia melalui Yayasan Lontar yang mempercayainya sebagai Campaign and Historical Memory Coordinator sambil juga mulai aktif di berbagai event-event kesusastraan, budaya dan sejarah. Lepas dari Yayasan Lontar kemudian merambah pada dunia event organizer dengan membantu beberapa teman dalam mengatur beberapa events yang cukup besar sebagai Floor Director / Manager. Semua pengalaman tersebut yang kemudian membekalinya untuk bekerja sebagai Sekretaris Pribadi salah satu Duta Besar Republik Indonesia Luar Biasa dan Berkuasa Penuh.

Hobinya adalah membaca, mengumpulkan film (terbukti dengan 250 film tertata rapi di rak dikamarnya), mengobrol bersama teman-teman dekatnya sambil minum kopi, mengkoleksi kain batik dari mulai yang tulis, terus dan cap, berdiskusi dan mengumpulkan bahan-bahan tentang perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia serta juga gedung-gedung kuno yang memiliki arti dalam sejarah perkembangan negara Indonesia.

Gemar memakai kain batik di setiap acara sehingga semangat kebangsaan tampak jelas dari setiap pakaian yang dikenakannya sehingga terkadang dijuluki etnik slebor karena terlampau berani memadumadankan kain-kain dengan pakaian modern.

Seorang yang punya cita-cita memiliki satu yayasan yang bergerak dibidang pengembangan minat baca di kalangan generasi muda Indonesia dan juga menjadi Cultural Ambassador of Indonesia.

Dalam dirinya mengalir darah Madura dan Jawa yang sangat kental. Ketika tidak diterima oleh salah satu radio swasta di Jakarta sebagai penyiar (padahal semua test sudah lulus) dikarenakan dialek Jawa yang masih sangat cetho dalam setiap ucap tutur katanya, dia hanya bilang, SAYA ADALAH ORANG JAWA . SEMODERN APAPUN PENDIDIKAN SERTA PERGAULAN YANG SAYA PUNYA. SAYA TETAP DAN AKAN TERUS JADI ORANG JAWA DAN SAYA BANGGA DENGAN ITU.


Image hosted by Photobucket.com

Saturday, August 20, 2005

Malam Resepsi Diplomatik 60 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia
Grand Ballroom, Intercontinental Hotel, Phnom Penh, Cambodia
18 Agustus 2005


Image hosted by Photobucket.com
The Committee :
M. Amin - Toast Coordinator; Hary CSP - MC; Wahyu Maarif - Protocol; Kun Cahyono - Floor Manager; Lina In - Guest Relations; Ichwan Munaswien - Protocol; Ith Vuthy - Documentation; Suripto - Sound System; Neng Vannak - Documentation; Som Kak - Sound System Coordinator

Tuesday, August 16, 2005

TAHUKAH ANDA ? ..

FAKTA SEPUTAR PROKLAMASI
oleh Iwan Satyanegara


Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi dari kamar tidur? Coba simak ceritanya. Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

Pating greges, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr. Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi.

Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.

Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya. masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…

Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nantikan selama lebih dari tiga ratus tahun!

Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!

Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar orang Indonesia asli. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. Orang Indonesia asli pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang dekat. Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut hampir secara kebetulan dirayakan di sebuah hotel Hollywood. Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan Mr President atau Your Excellency, tetapi dengan Prince Soekarno!

Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, Tahun Vivere Perilocoso (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia pada 1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!

Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan B. M. Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas! Potongan jasmu bagus sekali! komentar Bung Karno pertama kali tentang jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.

Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang. Byuuur…

Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?
Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama Abdullah, co-pilot. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa Abdullah itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. You are a liar! ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru

Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.

Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada Jalan Soekarno-Hatta di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.

Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.

Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya lebih dari dua proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl. Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal: Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.

Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda. Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.

Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam kurun waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai 3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949).

Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun!

Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang. Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu. Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp1 dan Rp2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.

Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). Sate ayam lima puluh tusuk!, perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.

Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan Belanda tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh Bung Karno. Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama, menjadi orang Indonesia yang memiliki prestasi luar biasa dan tidak akan pernah ada yang menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich, Swiss, statusnya sebagai tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di Jakarta beberapa hari kemudian, statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Monday, August 08, 2005

PERTANYAANNYA NANA ...

Secara hari ini situasi adalah sibuk-sibuk tidak dan nanti malam siap-siap untuk kerja lembur karena undangan untuk resepsi diplomatik tanggal 18 Agustus 2005 dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 60 harus siap dikirim besok pagi, so I take my liberty untuk santai sejenak.

Hari ini ketika buka blog, ada pesan dari ponakan tersayang ... minta saya untuk buka blognya dan menjawab tantangan yang ada disitu .. hmm .. such an interesting challenge actually ..

Baiklah, Jeng Nana-ku yang terchayank (dooh nulis 'sayang'nya kudu ala 80an yaakk ? .. hihihi), here is the answer of the questions that seems you really want to know ..

Jumlah Buku-ku
I love reading since I know how to read. Dari mulai Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, Trio Detektif, Nancy Drew, Hardy Boys, Tintin, Malory Towers, St. Claire, Si Kembar, Nina, Trigan, beberapa komik Djair, koleksi komik wayang RA. Kosasih dan beberapa komik Indonesia semua itu ada tersimpan rapi di rumah di Bandung.

Kemudian waktu dan keadaan membuat saya harus pindah ke Jakarta. Di Jakarta mulai berkenalan dengan banyak ragam buku, maklum saat itu saya sudah beranjak dewasa (cieeee ... ) so I started my collection dengan buku-bukunya Danielle Steele, John Grisham, Michael Crichton, Tom Clancy, Judith Michael kemudian tentunya semua buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit mana pun yang berkaitan dengan Peristiwa September 1965 lalu buku-buku yang berkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia plus juga bangunan-bangunan tua yang ada di Indonesia. Semakin hari semakin bertambahlah tentunya koleksi buku saya semenjak saya mulai meminati untuk mencermati setiap buku-buku baru yang dikeluarkan oleh sastrawan atau pun penulis-penulis muda Indonesia seperti buku-bukunya Remy Sylado, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Fira Basuki, Ayu Utami, Dewi Lestari.

Lalu tugas baru menanti di Phnom Penh ini, dengan meninggalkan koleksi saya di Jakarta pada orang yang saya percaya, I start my collection here in Phnom Penh dengan membeli banyak buku (dikarenakan inilah hiburan di Phnom Penh selain tentunya nonton film di DVD). Ada beberapa buku yang memang saya bawa dari Jakarta lalu ditambah yang beli disini ataupun di Bangkok .. bukunya Tom Clancy, Dan Brown, beberapa buku mengenai kisah perjalanan bangsa Cina serta juga beberapa buku yang berkaitan dengan Peristiwa Rezim Khmer Merah serta buku-buku yang berkaitan dengan Angkor Wat.

Kalau dijumlah, ehm .. mungkin sudah bisa membuka satu perpustakaan kecil :) ..

Kalau ditanya jumlah exactnya berapa, mungkin ada sekitar 500an lebih.


Yang Terakhir Dibaca ?
Hmm ... saat ini saya lagi menyelesaikan Babad Tanah Jawi jilid 3 dari 6 jilid yang harus diselesaikan. Setelah itu saya akan menyelesaikan Harry Potter lalu juga Dan Brown's books yang sampai saat ini belum sempat saya sentuh.


Yang Terakhir Dibeli ?
Well, honestly speaking .. buku yang terakhir yang saya beli adalah Harry Potter and a half Prince .. pas kemaren terakhir ke Bangkok dan saya senang karena acap kali saya baca buku itu di cafe favorit saya di Phnom Penh ini, beberapa anak remaja bule melirik dengan penuh sirik ... HAHAHAHA.


5 Buku Yang Dianggap Penting ?
Ada banyak sebenarnya namun karena diminta cuman 5, well here we go ..
1. Trilogi Ahmad Tohari : Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, Jentera Bianglala
2. Tetralogi Pramoedya Ananta Toer : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca
3. Babad Tanah Jawi jilid 1 - 6
4. Kumpulan Buku seputar peristiwa September 1965
5. Kumpulan Buku karya Remi Sylado


5 Teman Yang Harus Menjawab Pertanyaan Diatas :
Cano
Aldi
Cakra
Desy
Avin


So, NANA, tuntas sudah tugas darimu ... that's the best thing that I can answer ... hehehehehe. Hope you like it. Okah dah .. makan dulu ah .. lapeur pisan euy ... :D :D :D

Friday, August 05, 2005

Otak-Atik

Dari semalam cuba ngutak-ngatik supaya feature COMMENT di blog bisa diaktifkan dan hasilnya nihil ... hwaaaaaaaaa .... ngga tau gimana caranya.

Ada yang berbaik hati mau memberitahu saya ? ... ihiks .. ihiks ..

Thursday, August 04, 2005

HOW SMART ARE YOU ?

The Classic IQ Test http://web.tickle.com/invite?test=3001&type=t

The Classic IQ Test
What's Your IQ?

Congratulations, Hary!Your IQ score is 100

This number is based on a scientific formula that compares how many questions you answered correctly on the Classic IQ Test relative to others. Your Intellectual Type is Precision Processor. This means you're exceptionally good at discovering quick solutions to problems, especially ones that involve math or logic. You're also resourceful and able to think on your feet. And that's just some of what we know about you from your test results.

Wednesday, August 03, 2005

Bahwasanya kehidupan itu adalah sesungguhnya milik Sang Maha Kuasa, Sang Pencipta. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan langkah apa yang sudah Allah rencanakan untuk kita semata, bahwa kepasrahan adalah cara terbaik untuk menerimakan semuanya. Tawakal dan percaya pada-Nya

to my beloved sister Endang Little, be strong for God will always be with you and we will always be by your side no matter what. We love you.

CERITA CINTA

Entah kenapa nampaknya hari ini dipenuhi dengan segala macam yang berbau-bau cinta. Entah itu dalam lagu, puisi ataupun cerita-cerita di blog yang belakangan ini sudah jarang saya tengok, maksudnya blognya teman-teman, namun ketika hari ini saya punya kesempatan untuk jalan-jalan ke blognya teman-teman yang lain .. BOOOM ... !!! .. beberapa dari mereka bicara tentang cinta, persahabatan, teman dan juga hal lainnya.

Pagi ini terus terang saja semenjak bangun sampai dengan saya menulis cerita ini, pikiran saya terus menuju kepada seseorang. Saya tahu bahwa mungkin itu adalah rasa kangen yang terakumulasi dari minggu ke minggu setelah hampir tiga minggu kita tidak pernah ketemu. Asli, inginnya lari ketemu dia dan peluk dia sampai puas .. tapi ...

Siang tadi pas lagi makan siang, seorang sahabat baru sms ke saya dan bicara tentang cinta serta sebuah pengakuan. Walaupun cukup terkejut namun ada bias senang yang saya rasakan dan itu entah kenapa.

Sepanjang hari ini dari pagi sampai dengan detik ini, saya tidak pernah berhenti mendengarkan lagunya Rio Febrian .. BUKAN UNTUKKU .. yang dinyanyikan kembali oleh Sherine.

Terus sore ini ketika melihat blognya pacarnya salah satu sahabat saya, saya tertawa sendiri dan membayangkan perjuangan panjang melelahkan yang telah ditempuh oleh sahabat saya itu akhirnya membuahkan hasil yang sangat membahagiakan buat dirinya (I hope) dan juga membahagiakan saya dan sehingga mau tidak mau saya tersenyum dan tertawa tergelak-gelak acap kali saya ingat tulisan dia di blog pacarnya itu ..

from anonymous .. love u too hihihihi ....

AHAHAHAHAHAHAHAHA, orang mau ngomong I love you too aja kok kayaknya malu ...

Tiba-tiba pula hari ini saya didera dengan ingatan saya pada seseorang yang pernah dekat dengan saya belakangan kemarin, mungkin pun secara ikatan batin kami masih dekat tapi saya sekarang berusaha untuk menghindari, berusaha untuk mengurangi frekuensi komunikasi saya dengan dia ataupun juga bertemunya saya dengan dia. Tidak ada maksud apa-apa namun saya belum cukup tegar dan dewasa serta bijaksana menerima kekalahan yang sesungguhnya tidak patut untuk diperbandingkan atau pun dipikirkan.
dan aku merindu padamu
sungguh
adakah kau rasakan hal yang sama ?
seandainya waktu dapat berputar
aku memilih untuk tak bertemu denganmu

kini
entah mengapa
kebencian itu mulai menggerogoti
relung hatiku
dan kau pun tak pernah menyadari
arti sesungguhnya
dari setiap ucap, tingkah dan lakuku
padamu
dan purnama silih berganti
diri tak lagi lenakan cinta
hampa meraja
pada sosok gulana mencari damai,
adakah waktu kan meluruskan semua ?

selamat bubu,

Tuesday, August 02, 2005

and the star hides its beauty
as the moon rejects to shine
for the lonely soul remains

good night
may sweet dream be yours
and tomorrow will be better,

always ..
PETISI

Kepada Yth.
Perdana Menteri Kerajaan Belanda
Mr. dr. Jan Peter Balkenende
Den Haag
Nederland


Dengan hormat,

Terlebih dahulu kami mengucapkan selamat atas keberhasilan rakyat Belanda menuntut Pemerintah Jepang untuk meminta maaf kepada bangsa Belanda, atas pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh tentara Jepang dan perlakuan buruk yang dialami oleh para interniran Belanda selama berada di kamp-kamp interniran Jepang di Indonesia tahun 1942 - 1945.

Seluruh dunia mendengar permintaan maaf yang disampaikan oleh Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi pada tanggal 2 Mei 2005 dalam kunjungannya ke Belanda.

Di lain pihak, sejarah juga mencata, bahwa antara tahun 1946 - 1949, setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tentara Belanda melancarkan agresi militer dan melakukan berbagai pelanggaran HAM berat dan kejahatan atas kemanusiaan, seperti antara lain perkosaan, penyiksaan dan bahkan pembantaian ribuan rakyat di Sulawesi Selatan bulan Desember 1946 - Februari 1947 dan pembunuhan sekitar 500 penduduk di Rawa Gede pada bulan Desember 1947.

Pemerintah Belanda belum meminta maaf atas berbagai pelanggaran HAM berat tersebut, demikian juga atas penjajahan, perbudakan, berbagai pelanggaran HAM-berat dan kejahatan atas kemanusiaan, yang telah dilakukan selama ratusan tahun di Bumi Nusantara.

Selain itu, yang sangat menyinggung perasaan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat adalah fakta, bahwa hingga detik ini Pemerintah Belanda tidak mau mengakui kemerdekaan Republik Indonesia adalah 17 Agustus 1945, melainkan 27 Desember 1949, yaitu pengakuan atas Republik Indonesia Serikat (RIS).

Negara federal Republik Indonesia Serikat telah dibubarkan pada 16 Agustus 1950 dan pada 17 Agustus 1950, dinyatakan berdirinya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan demikian saat ini Pemerintah Belanda mempunyai hubungan diplomatik dengan Pemerintah Republik Indonesia, yang proklamsi kemerdekaannya adalah 17 Agustus 1945.

Apabila dua negara menjalin hubungan diplomatik, sudah sewajarnya masing-masing negara menghormati dan menghargai kedaulatan negara lain yang menjadi mitra diplomatiknya dan tidak mendikte secara sepihak, kapan hari nasional atau hari kemerdekaan negara mitra yang bersangkutan.

Sikap yang ditunjukkan oleh Pemerintah Belanda selama ini tidaklah mencerminkan sikap bersahabat dan saling menghargai diantara negara-negara merdeka dan saling menjalin hubungan diplomatik, dan bahkan merupakan pelecehan terhadap kedaulatan negara Republik Indonesia serta merendahkan martabat bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, KOMITE UTANG KEHORMATAN BELANDA menuntut kepada Pemerintah Belanda untuk :

I. MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 17 AGUSTUS 1945,

II. MEMINTA MAAF KEPADA BANGSA INDONESIA ATAS PENJAJAHAN PERBUDAKAN, PELANGGARAN HAM BERAT DAN KEJAHATAN ATAS KEMANUSIAAN

Atas perhatian yang diberikan kami sampaikan terima kasih


Hormat kami
Ttd

Batara R. Hutagalung
Ketua

Ir. Teuku H. Agam Saifudin
Sekretaris


Tembusan:
1. Yth. Presiden Republik Indonesia
2. Yth. Ketua dan seluruh anggota DPR - RI
3. Yth. Ketua dan seluruh anggota MPR - RI
4. Yth. Seluruh Menteri Kabinet Indonesia Bersatu
5. Yth. Seluruh Kedutaan Besar Asing di Jakarta
6. Yth. Perwakilan PBB di Indonesia, untuk diteruskan kepada Sekretaris Jenderal PBB
7. Yth. Perwakilan Uni Eropa di Indonesia

TAHUKAH ANDA ?

Pulau Onrust

Penduduk kepulauan seribu lebih mengenal pulau Onrust dengan sebutan pulau Kapal. Karena sejak abad 17-18 banyak kapal VOC yang bersandar di sini. Padahal pulau tersebut telah memiliki nama yaitu Onrust. Nama Onrust diberikan oleh Belanda yang artinya “tanpa istirahat atau sibuk”. Disebut sebagai pulau Sibuk dikarenakan fungsinya sebagai tempat bongkar muat barang dan kegiatan perbaikan kapal. Nama Onrust sendiri terkenal sejak abad ke 17.

Pulau Onrust adalah pulau kecil yang luasnya tak lebih dari 7.5 hektar (dulunya 12 hektar), walaupun kecil pulau ini merupakan salah satu pulau penting dalam situs kepurbakalaan di Indonesia, khususnya Jakarta. Pulau ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Di mulai ketika pulau ini dan beberapa kepulauan lain di gugusan kepulauan seribu dijadikan tempat untuk peristirahatan raja-raja Banten. Pulau ini juga sempat dijadikan pulau sengketa antara kerajaan Jayakarta dan kerajaan Banten yang tak pernah terselesaikan. Ketika VOC masuk dan gagal dalam monopoli perdagangan di Banten, VOC memutuskan untuk mengalihkan perdagangannya ke Jayakarta. Di Jayakarta VOC berkembang. Seiring perkembangan itu VOC meminta bantuan kerajaan Jayakarta untuk menggunakan salah satu pulau yang terletak di teluk Jakarta untuk tempat galangan kapal yang diperlukan untuk perbaikan kapal dan istirahat pelaut. Bantuan diatas tertuang pada Perjanjian yang ditandatangani tahun 1610 oleh VOC, dengan wakil L. Hemit dan Pangeran dari Kerajaan Jayakarta. Sejak itu Pulau Onrust mulai memerankan sesuatu yang lebih besar karena merupakan pulau yang dipilih untuk dijadikan galangan kapal pada saat itu.

Tahun 1613 Onrust mulai dibangun oleh VOC. Pembangunan pertama adalah galangan kapal. Seiring dengan waktu dibangun benteng kecil dilengkapi 2 bastion (1656). Benteng tersebut kemudian diperluas dengan bentuk persegi lima (1671). Benteng tersebut digunakan untuk pertahanan paling luar dari kota Batavia. Benteng itu bernama Beekhuis. Dan disamping benteng di tempatkan meriam-meriam serta arteleri peralatan perang yang lain. Setelah benteng dibangun Kincir angin (1674) untuk keperluan penggergajian kayu. Kemudian ditambah lagi menjadi dua kincir angin ditahun (1691). Setelah itu baru gudang untuk menyimpan barang yang akan dikirim ke Eropa. Pembangunan Onrust yang pesat di bidang perbaikan kapal sampai disebut oleh penemu benua Australia, James Cook sebagai tempat galangan kapal yang bagus karena berhasil membetulkan kapalnya Endevour yang rusak. Gereja juga pernah dibangun disini pada tahun 1772, tapi kemudian dihancurkan sekitar tahun 1809 oleh Inggris. Sedangkan makam belanda tetap dipakai sampai tahun 1863.

Berkembangnya pulau Onrust juga diikuti perkembangan penduduk dikota itu. Awalnya penduduk hanya ada pendatang dari kepulauan termasuk koloni cina yang dikirim JP Coen, pada tahun 1695 menjadi 148 pegawai VOC dan 200 budak. Hal ini semakin memantapkan pulau tersebut sebagai depo logistik VOC. Kemudian tahun 1775 menjadi 1200 orang.
Pulau ini sempat dua kali hancur. Pertama ditahun 1795 karena serangan armada laut Inggris dibawah pimpinan HL Ball. Walaupun sempat dibangun lagi oleh Belanda tahun 1803 tetapi dihancurkan kembali oleh Inggris di tahun 1806 dibawah penyerangan Admiral Edward Pellow. Setelah itu Onrust dijadikan milik pemerintah Inggris sampai tahun 1816.
Setelah Inggris angkat kaki dari Onrust, Onrust kembali dibangun oleh Belanda pada masa gubernur jendral GA Baron Van Der Capellen (1828). Tahun 1856 pulau ini kembali berjaya dengan adanya Dok terapung. Disamping dok terapung di pulau Onrust juga dibangun pangkalan laut Hindia Belanda (1840). Pangkalan laut ini hanya bertahan sampai tahun 1883 karena adanya gelombang tydal (tsunami) akibat letusan gunung Krakatau.

Pulau ini sempat menghilang perannya. Hal ini disebabkan pembangunan pelabuhan Tanjung Priok di awal tahun 1883 tetapi kemudian menjadi perhatian lagi ditahun 1905. Pada tahun 1905 dibangun stasiun cuaca. Kemudian tahun 1911 dijadikan tempat karantina haji sampai tahun 1940. Karantina haji dilakukan dipulau ini selama 5-10 hari. Jumlah daya tampung jamaah haji di sini adalah 3500 orang. Bila terjangkit penyakit menular mereka akan dikirim ke pulau Cipir (pulau kayangan) dan di pulau Bidadari (pulau sakit). Selain tempat karantina haji juga dijadikan sanatorium TBC.

Selain itu pulau Onrust juga sempat dijadikan tempat tahanan para pemberontak yang terlibat dalam peristiwa kapal tujuh. Pada saat itu ada 23 awak kapal yang memberontak yang meninggal dan dikuburkan di pulau kelor (1933). Pada tahun 1940 juga pulau ini dijadikan tempat tawanan orang jerman yang disinyalir antek Hitler. Disamping tahanan orang yang tidak pernah jemu mengusik Belanda. Tahun 1942 ketika kependudukan Jepang, pulau Onrust tidak diperhitungkan sebagai daerah pertahanan perang Jepang karena telah dikenal oleh pesawat tempur udara.

Pada masa Indonesia merdeka pulau Onrust dijadikan sebagai rumah sakit karantina bagi penderita penyakit menular. Rumah sakit ini berdiri sampai tahun 1960. Kemudian rumah sakit ini di pindah ke pelabuhan Tanjung Priok. Bangunan rumah sakit tadi rusak disekitar tahun 1968. Periode 1960-1965 dijadikan tempat penampungan gelandang dan pengemis. Disamping tempat tawanan oposan Orla misalnya HJ Princen. Setelah itu dijadikan tempat latihan militer dan terbengkalai sampai tahun sekitar 70-an awal. Bahkan ada informasi sejarah yang menyebutkan di pulau ini pemimpin DI/TII Kartosuwiryo dibunuh. Tetapi pulau ini akhirnya di rehab kembali untuk dijadikan sebagai pulau sejarah pada tahun 1972. Termasuk rumah dokter yang dijadikan ruang pamer barang kuno.

Tour de ONRUST anyone ? ... ;)

Monday, August 01, 2005

KAPAN TERAKHIR ANDA BERKUNJUNG KE MUSEUM ?

Museum yang berada di bawah pembinaan Departemen Pendidikan Nasional ini pada mulanya didirikan dalam bentuk lembaga dengan nama Bataviaasche Genootschap Van Kunsten en Wetenschappen yang bertujuan memajukan penelitian di bidang Seni dan Pengetahuan, antara lain: Ilmu Hayat, Ilmu Alam, Ilmu Purbakala, Sastra dan sebagainya.

Koleksi awal museum dan perpustakaan lembaga ini adalah seperangkat peralatan ilmu alam, pelikan alat musik dan buku-buku koleksi dari J.C.M. Rademacher. Ia juga menyerahkan rumahnya di Kali Besar sebagai tempat penyimpanan koleksi.

Sir Thomas Stamford Raffles kemudian menyumbangkan sebuah gedung baru untuk literacy Society yang terletak di Jalan Majapahit No. 3, karena gedung di Kali Besar sudah terlalu kecil untuk menampung koleksi yang kian bertambah.

Pada tahun 1862, pemerintah memutuskan untuk mendirikan gedung museum baru yang lebih luas untuk menampung koleksi yang semakin bertambah di Jalan Merdeka Barat No. 12. Museum yang diresmikan penggunaannya pada tahun 1862 ini lebih dikenal dengan sebutan "Museum Gajah" karena adanya patung gajah di halaman depan yang merupakan hadiah dari Raja Siam (Thailand), Chulalangkorn pada tahun 1871.

Pada tanggal 29 Februari 1950, Koninklijke Bataviaasche Van Kunsten en Wetenschappen berganti nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia dengan semboyan memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk pengetahuan tentang Kepulauan Indonesia.

Lembaga Kebudayaan Indonesia kemudian menyerahkan museum ini kepada Pemerintah RI pada tanggal 17 September 1962, dan menjadi Museum negara dengan nama Museum Pusat yang kemudian menjadi Museum Nasional. Koleksi-koleksi yang terdapat di museum ini antara lain, koleksi Prasejarah, Arkeologi Klasik, Keramik Asing, Numismatik, Relik Sejarah, Seni Rupa dan benda-benda bernilai seni budaya dari berbagai suku bangsa dan daerah di Indonesia.

Saat ini Museum Nasional mencoba mengubah citra masyarakat terhadap museum yang selalu mengesankan sebagai gudang barang-barang antik dengan tampilan yang seadanya menjadi tempat yang menarik bagi pengunjung. Sejak tahun 1996, pemerintah mencanangkan pembangunan untuk perluasan gedung Museum Nasional. Namun dari dua unit gedung yang direncanakan (unit B dan C), baru unit B yang mendekati penyelesaian akhir dan siap dimanfaatkan untuk pameran. Pembangunan ini rencananya memakan waktu sekitar 9 tahun.

Selain pembenahan dari segi fisik (gedung, display pameran), Museum Nasional juga membenahi dari segi non-fisik (kualitas sumber daya manusia). Sebuah upaya keras yang dilakukan oleh Pemerintah untuk menjadikan museum sebagai tempat tujuan wisata dan tempat pembelajaran yang menarik bagi masyarakat, bukan sekedar tempat mengumpulkan, merawat dan melestarikan benda cagar budaya.

Museum Nasional dengan semua koleksi didalamnya menambah kekaguman tersendiri akan budaya bangsa sendiri yang beraneka ragam, namun sebuah ironi pula ketika menyadari sebagian pengunjung yang datang adalah kaum ekspatriate bersama keluarga mereka. Sebagus apapun museum yang didirikan, jika masyarakat Indonesia masih belum menyadari pentingnya sebuah museum sebagai tempat rekreasi dan belajar, semua itu menjadi hal yang sia-sia. Sebuah pertanyaan pun hadir, kapan terakhir anda berkunjung ke museum?

Tuesday, July 19, 2005

PEMIKIRAN YANG MELINTAS

* kenapa kok gue jadi ngga sabaran yaa ?

* ada perbedaan mendasar antara egois, sense of ingin menang sendiri, keseriusan dan poor mentality

* am I the competitor ? atau lebih tepatnya apakah saya terlalu unjuk diri dengan kemampuan yang saya punya ?

* ini kok ngantuk terus sich ?

* nanti pulang jam berapa yaa enaknya ? ujan besar, motor kotor dan maleus ajah gitu pake jas hujan

* besok mau ngapain ?

* mudah-mudahan Om Dubes ngga molor waktunya so ke airportnya bisa on time

Tuesday, July 12, 2005

ada rasa enggan untuk bertemu
namun tak bisa terelak
tak ada tatap mata
tak ada senyum
bahkan tak ada ucap selamat pagi

aku tahu bahwa semua bukan salahmu
aku yang bodoh
keledai dungu yang tak tahu diri
mencintai
menyayangi
mengasihi
dirimu yang tak bisa membalas semua

aku geram akan diriku
ketololan meraja dalam setiap jejak langkahku
sampai kusadari
bahwa masanya telah usai
dan aku harus terus berpijak pada bumi
tanah tempatku melangkahkan kaki-kaki hakikiku

betapa kau pun miliki hati
untuk membohongiku selama ini
seolah memberi harap akan asa yang kutanam
seolah memberi ruang pada dewa dewi cinta
yang asyik bercengkrama

kini
untuk kesekian kalinya
aku terjatuh
terjerembab
pada lembah nista
lembah nista

aku hanya alatmu
untuk memuaskan semua materi

ah ..
sudahlah .. tak guna meracau
kuucapkan selamat untukmu
semoga nanti kau sadari
bahwa aku tulus mencintaimu
bahwa aku tulus menyayangimu
bahwa aku tulus mengasihimu
itu pun kalau kau sadari
itu pun kalau kau masih punya nurani

selamat tinggal
kini tembok besar bak tembok cina
membentang panjang dan tak terbatas
antara kita

Monday, July 11, 2005

sepuluh purnama telah berlalu
menjejaki setiap langkah
menghiba akan setiap kepastian
pada jelaga cintamu kutebar asa

sepuluh purnama telah berlalu
dan tak lagi kurasa asa itu ada
pagi ini ketika burung berceloteh dalam riang kicaunya
pagi ini ketika mentari bersinar lembut pada ujung cahaya ufuk timur
aku menitikkan kembali air mata kegagalan
akan asa membumbung
pada sepuluh purnama lalu saat pertama bertatap

derai air mata tak lagi terkucurkan
sesak dalam setiap hembus napas
kecewa
sakit
perih

kebodohan demi kebodohan selalu terulang
dan aku tak lagi merasakan arti kehidupan hakiki
atas dirimu yang telah melukai
setiap hembus napas yang kubuat untukmu
setiap detik rasa perhatian untukmu
setiap penggalan kata cinta untukmu

biarlah kutenggelam dalam kegelapan arti kecewa semata
sehingga pada saatnya ketika jelaga hitam
tak lagi mengurungiku
aku sudah mampu tersenyum
walau hampa

rasa sakit itu terus mengikuti
kemana aku pergi
malam ini …

TAHUKAH ANDA ?

Mendapati ibu-ibu berpakaian batik merupakan hal langka di Jakarta. Mereka lebih senang berkemeja dan celana panjang karena lebih praktis. Padahal sampai 1950-an kain batik mendominasi busana wanita Indonesia dengan baju kebayanya. Bahkan, para wanita IndoBelanda dan Cina sehari-hari kala itu juga berkain batik dan berkebaya hingga dikenal istilah kebaya encim dengan kain batiknya. Meskipun kini sudah jarang digandrungi para ibu, tapi ratusan koleksi kain batik yang sudah berusia ratusan tahun dapat kita saksikan di Museum Tekstil, Jl Karet Satsuit Tubun (dulu Jl Petamburan) No 4, JakartaBarat. Museum yang diresmikan almarhumah Tien Soehartopada 28 Juni 1976 lalu ini mengetengahkan koleksi kain tradisional dari berbagai daerah Indonesia dengan dominasi kain batik. Sampai tahun 1970-an daerah KaretTengsin dan Setiabudi (Jakarta Pusat) serta Palmerah(Jakarta Barat) menjadi salah satu industri kain batik di ibukota. Sebagian besar industri dan perajin batik itu kini sudah bangkrut. Gedung Museum Tekstil pada mulanya adalah rumah pribadi seorang warganegara Perancis yang dibangun pada abad ke-19. Awal abad ke-19 (1808-1809), Batavia sempat dikuasai Perancis setelah negeri Belanda ditaklukkan Napoleon Bonaparte. Kemudian orang-orang Perancis membangun rumah dan tempat peristirahatan didaerah Petamburan yang kala itu masih merupakan kawasan elit dan jauh dari pusat kota Batavia. Warga Perancis juga banyak tinggal di Batavia. Mereka membuka toko, hotel serta perkantoran di Rijswijk (kini Jl Veteran), Noordwijk (Jl Juanda), danPetamburan yang saat itu dikenal sebagai France Buurt(kawasan Prancis). Tidak diketahui nama warga Perancis yang membangun gedung megah yang ketika baru dibangun berluas dua hektar ini. Hanya disebutkan ia adalah seorang kaya raya dan gedung ini dibangun dengan gaya Islamik yang mencampurkan gaya Eropa dan Timur Tengah serta disesuaikan iklim tropis. Rumah yang berusia lebih satu abad ini sampai 1950-an memiliki tanah luas dibagian belakangnya. Gedung ini pernah dihuni KonsulTurki Sayed Abdul Azis Al Musawi saat Turki masih merupakan Kesultanan Otoman. Konsulat Turki ini menjadi salah satu tempat mengadu bagi orang Indonesiad alam menghadapi kekejaman penjajahan Belanda. Sayed Abdul Azis Al Musawi menikah dengan Siti Rohani yang merupakan puteri pejuang kemerdekaan PangeranSentot Alibasyah yang menjadi anak angkat SultanBengkulu terakhir. Pasangan ini dikaruniai seorang puteri bernama Syarifah Mariam yang kemudian menikah dengan Sayed Abdullah bin Alwi Alatas. Setelah KonsulTurki ini meninggal (1885) rumah tersebut berikut dua buah rumah yang berada di kiri kanannya, masing-masing Jl Petamburan (Jl Karel Satsuit Tubun No 2 dan No 6) dibeli menantunya, Sayed Abdullah. Ia kemudian merenovasinya sebagaimana bentuknya sekarang ini. Menurut Abdullah bin Abbas Alatas (74), saat kakeknya, Sayid Alwi Alatas, menempati rumah barunya itu semangat gerakan Pan Islam tengah berkobar di Jakarta. Bahkan, ia sendiri merupakan salah satu tokoh dari gerakan yang sangat ditentang Belanda ini. Abdullah juga seorang kawan dari Shaikh Mohamad Abduh, murid Sayid Jamaluddin Al-Afghani, pencetus Pan Islam. Kawand ekat lainnya di luar negeri adalah Shaikh Yusufan-Nabhani, mufti Lebanon. Untuk itu Sayed beberapa kali mengunjungi Mesir dan Timur Tengah. Begitu bergairahnya ia membantu gerakan Pan Islam hingga ia mengirimkan empat orang putranya ke sekolah tinggi Turki yang ketika itu masih berbentuk khalifah dan menjadi salah satu pusat gerakan ini. Pada 1916 Sayid menerbitkan majalah Borobudur berbahasa Arab sekaligus sebagai pemrednya. Kakek dari mantan Menlu Ali Alatas dan mantan PM Yaman Selatan, Haydar Alatas, ini juga menyokong penerbitan harianUtusan Hindia, suratkabar pertama berbahasa Melayu dengan pemimpin redaksinya HOS Cokroaminoto. Suratkabar ini lahir sebelum Cokro mendirikan SarikatIslam. Ia juga membantu keuangan Muhammadiyah dan Al-Irsyad ketika kedua organisasi Islam ini didirikan. Selain itu, Sayid juga ikut mendanai Arabithah Alawiyah dan sekolah Jamiatul Kheirnya. Alatas School yang didirikannya di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, (kini kantor kelurahan KebonKacang) merupakan sebuah sekolah Islam modern pertama yang mengajarkan pendidikan agama dan pendidikan Barat. Di kediamannya yang kini jadi Museum Tekstil itu juga pernah digunakan untuk Muktamar NU, seperti diungkapkan tokoh NU KH Mohamad Dachlan. Sayid yang lahir di Pekojan, Jakarta Barat, (1840) ini oleh orang Betawi dijuluki tuan tanah Baghdad. Ia memang salah seorang terkaya di Batavia ketika itu. Konon, ia memiliki tanah dari Pondok Betung di Bintaro hingga ke Pondok Cabe seluas lima ribu hektar. Dirumahnya itu ia sering kali mengumpulkan para pedagang kecil lalu membeli dagangan mereka untuk kemudian disumbangkan kepada orang-orang tak mampu yang banyak tinggal di sekitar tempat tinggalnya. Sayid yangmeninggal pada 1929 dalam usia 89 tahun dimakamkan di pemakaman wakaf Tanah Abang yang oleh Ali Sadikin digusur dan dijadikan rumah susun. Ketika wafat ia meninggalkan 30 ribu buku yang menurut cucunya, Abdullah bin Abbas, dihibahkan ke Madrasah Jamiatul.

Tuesday, July 05, 2005

TAHUKAH ANDA ?

Museum Taman Prasasti merupakan salah satu dari sembilan Museum di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Museum ini berlokasi di Jalan Tanah Abang 1 Jakarta Pusat dan menempati lahan seluas 5,5 ha yang merupakan bekas pemakaman orang Belanda. Makam yang dibangun pada tahun 1795 ini dikenal dengan nama Kebon Jahe Kober dan ditutup pada tahun 1975 karena alasan sudah penuh.

Mengingat potensi taman pemakaman ini, maka pemerintah Propinsi DKI Jakarta, melakukan pemugaran serta menata kembali prasasti-prasasti batu nisan terpilih dan mengembangkannya menjadi sebuah Museum Taman Prasasti. Dan diresmikan oleh Gubernur DKI Ali Sadikin pada tahun 1977. Jumlah koleksi yang tersimpan di dalam Museum Prasasti sebanyak 1.409, terdiri dari jenis prasasti bentuk nisan, bentuk perunggu, monumen, piala, kijing, lempengan batu persegi, replika, dan miniatur. Sebagai sebuah museum didalam sistem penataan koleksi disajikan pada sebuah ruang, pada dinding luar (halaman), dan pada kondisi semula yaitu pada lahan pemakaman.

Museum ini menampilkan prasasti nisan dari beberapa nama dan tokoh, antara lain tokoh pendidikan, seniman, ilmuwan, rohaniwan dan tokoh pejuang. Beberapa tokoh bangsa Indonesia yang dimakamkan di Museum Taman Prasasti ini antara lain Miss Riboet (tokoh sandiwara) dan Soe Hok Gie (tokoh mahasiswa). Selain itu, terdapat nama-nama seperti DR. WF. Stutterheim, seorang ahli purbakala yang banyak melakukan penelitian dan penulisan peninggalan masa Hindu dan Budha di Indonesia. DR. H.F. Rool, pencetus gagasan dan pendiri STOVIA (Sekolah Tinggi Dokter Indonesia) yang merupakan cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Indonesia. Olivia Mariamne Raffles, isteri Thomas Stamford Raffles (Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang meninggal di "Buitenzorg" Bogor).

Selain nisan, museum Taman Prasasti juga menyimpan kereta jenazah kuno yang dahulu digunakan untuk mengangkut jenazah dari pelabuhan Sunda Kelapa ke makam Kebon Jahe Kober. Kereta jenazah ini ditarik oleh 2-4 ekor kuda, dimana jumlah kuda penarik kereta ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal. Benda koleksi museum juga terdapat lonceng perunggu bertiang besi dengan ketinggian 4 meter yang digunakan untuk membunyikan tanda bahwa jenazah telah tiba di pemakaman. Koleksi yang tidak kalah pentingnya adalah peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta juga disimpan di museum ini. Untuk melengkapi sebagai sebuah Museum Taman Prasasti, di museum ini dibuat berbagai macam miniatur makam dari seluruh propinsi di Indonesia.

Thursday, June 30, 2005

courant jadoel "passar baroe"

Pada hari minggoe tengari kira poekoel 11 tanggal 8 ini boelan, koesir dos-a-dos dengan moewatannja 3 toewan-toewan jang dateng dari seblah ilir, sampe depan gedongnja toean advocaat Klein, soedah toebroek dan giling toekang ajer, jang lagi memikoel ajer, kena tergiling kakinja doea-doea sampe kelenger dan sasoedahnja tergiling itoe dos-a-dos lantas terbalik bersama-sama moewatannja dan dos-a-dos nja roesak, dan itoe waktoe djoega orang gardoe dari gang Chaulan soedah serahken itoe koesir dos-a-dos pada toean schout Passar Baroe dan toekang ajer di bawa di roemah sakit Stadverband, walla hoealam apa kedjadiannja.

courant jadoel "poelo onrust"

Kapal api jang biasa djalan boelak balik dari Betawi ka Poelo Onrust, moelain dari 1e Januari 1888 brangkatnja dari Boom-ketjil di Betawi kasana ditetapkan sahari-hari pada djam poekoel 7.30 menit pagi.

Friday, June 17, 2005

KINGDOM OF CAMBODIA
Nation Religion King
THE ROYAL GOVERNMENT
Ministry of Interior
PRESS RELEASE

On 16 June 2005 at 09.30 am, there was an unfortunate incident occured at the British International Kindergarten in the city of Siem Reap. There were 4 Cambodians males with one hand gun threatened body guards, 5 teachers and 20 pupils and demanded ransom of US$ 1,000, one van with 12 seats and guns. After 5 hours of negotiation, the Cambodian authorities sent US$ 30,000 and one van with 12 seats to the kidnappers.
Unfortunately, the kidnappers refused the offer of the Cambodian authorities and demanded new deals and conditions. At 14.30 hours in the same day, the Cambodian authorities were informed that the kidnappers had no means to harm the hostages and refused to negotiate peacefully. Therefore, the Cambodian authorities decided to prepare strategic moves to liberate the hostages.
At 15.00 hours, the Cambodian authorities fully controlled the situation in the school compound and safely liberated the rest of all hostages and arrested all 4 criminals and one hand gun.
The Ministry of Interior was very sorry for the loss of a young Canadian girl, who was killed by the criminals in order to threaten the authorities. In the meantime, the criminals wounded one of officers.
The Royal Government and the Ministry of Interior of Cambodia would like to extend their deepest condolences to the parents of the young victim and are ready to assist and provide close cooperation to the Embassy of Canada in Phnom Penh to address the matter.
At the same time, the Royal Government and the Ministry of Interior also would like to extend their highest admiration to the National Police officer, who was injured on duty and wished him fast recovery.
The Ministry of Interior would like to extend its profound appreciation to the National Police forces and local authorities, who undertook joint mission of liberation of hostages under the leadership of the Commissioner General of National Police.
The Ministry of Interior would like to urge to all educational institutions, public establishments, hotels, restaurants, private security companies to enhance their security measures in providing safety to their schools, clients, tourists and in cooperating closely with the competent authorities and local authorities.

Phnom Penh, 16 June 2005
Demikianlah siaran pers yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri pemerintah Kerajaan Kamboja. Dalam hal ini pula, ada 2 orang anak Indonesia pada sekolah tersebut diatas pada saat kejadian penyanderaan, yang Alhamdulillah sekarang ini mereka berdua dalam keadaan sehat wal-afiat sekarang ini.
LIBUR TELAH TIBA

KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
PHNOM PENH

PENGUMUMAN
No. 046/TU/VI/2005

TENTANG :

Libur “Birthday of Her Majesty the Queen of Cambodia”

Merujuk SK Kepala Perwakilan RI No. 035 / TU / XII / 2004, tentang Penetapan Hari LIbur Resmi Tahun 2005 pada KBRI Phnom Penh. Dengan hormat diberitahukan kepada seluruh Staff KBRI – Phnom Penh, bahwa pada hari Sabtu, tanggal 18 Juni 2005 adalah hari besar “Birthday of Her Majesty the Queen of Cambodia”, oleh karena tanggal 18 Juni jatuh pada hari Sabtu, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka hari besar dimaksud dipindahkan menjadi sampai dengan tanggal 20 Juni 2005, sehubungan dengan hal tersebut, Kantor KBRI – Phnom Penh secara resmi diliburkan.

Demikian disampaikan, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Phnom Penh, 17 Juni 2005
B.P.K.R.T
akhirnya ... libur yang kutunggu-tunggu sudah tiba ...
Bangkok here I come ..... :D :D :D ...
Sebenarnya kasusnya ngga jauh dari Bowo, teman-teman yang lain pada pulang hari Selasa malam karena mereka sudah bisa cuti so then mereka mengambil cuti satu hari, naaahhh .. saya kan belum setahun jadi tentunya tidak akan bisa cuti. Berhubung ngga bisa cari alasan (lebih tepatnya takut untuk ngomong minta ijin satu hari) so then I go back on Monday evening ...
Anyway, yang terpenting tetap bisa jalan ke Bangkok dan menikmati surga dunia .. eh ... hihihihi ... :D :D :D

Wednesday, June 15, 2005

Sebenarnya ini semua dilandasi oleh sebuah email yang dikirim oleh salah seorang sahabat saya di Jakarta. Begini isi emailnya :

Buat para sahabatku : sekedar renungan apakah sebenarnya kita sungguh2 saling mencintai? Ini tulisan dari seorang yang sangat gue puja tulisan2 indahnya.. .mudah2an pemujaan ini tidak salah arah (lagi), mudah2an orang yang gue puja ini betul2 seindah tulisannya, seindah tuturnya, seindah perbuatannya...
salam,
-d-

Judul dari email tersebut adalah MENCINTAI ITU KEPUTUSAN.

Lalu entah kenapa tiba-tiba kemarin saya ingin membahas atau mungkin ingin mengupas sedikit mengenai kalimat diatas tersebut so I reply the email to all seperti ini :

Itulah sebabnya dibutuhkan satu kesabaran, satu jiwa yang besar , satu pengertian mendalam untuk menerima pasangan kita masing-masing dengan istilah SATU PAKET … apa pun yang ada dalam dirinya kita harus bisa menerimanya dengan keikhlasan yang sesungguhnya …

Terkadang sebagai manusia biasa kita lupa bahwa mencintai berarti juga menanggung semua risiko atas apa yang telah diputuskan. It’s the consequencesnya so jika kita tulus mencintai maka kita tidak akan merasakan beban dalam menjalaninya ..
Tapi ini hanya sebuah ulasan yang tak jelas saja .. yang jelas dalam proses mencintai dan dicintai, sepasang manusia selalu tampak bahagia ..
Ah, sudahlah, lebih baik berhenti, saya tidak pernah bisa benar jika meracau tentang cinta !

Tuesday, June 14, 2005

TAHUKAH ANDA ?

Image hosted by Photobucket.com

Lukisan ini dibuat oleh Henk Ngantung, kira-kira tahun 1943. Bung Karno meletakkannya diberanda rumahnya di Pegangsaan Timur no.56. Menurut Jusuf Ronodipuro, lukisan ini punya kekuatan magis karena berkali-kali menyelamatkan penghuni rumah dari perbuatan jahat tentara Belanda. Pada pojok kanan atas ada 3 buah lubang peluru yang ditembakkan pada saat peringatan 1 tahun kemerdekaan dimana telah gugur seorang anggota pandu Indonesia. Pada tahun 1946-1947 pernah dibawa keliling Jawa untuk dipertunjukkan. Inilah benda mati yang menyaksikan Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945. Diperkirakan lukisan ini tidak diketahui keberadaannya atau mungkin disimpan dalam koleksi lukisan Bung Karno di Bogor ?.

TAHUKAH ANDA ?

Dasima dan Kisah Para Nyai

Terletak sekitar 10 km dari pasar Parung, daerah Ciseeng di Kabupaten Bogor berkembang pesat. Belasan tahun lalu jalan menuju Ciseeng sebagian masih tanah dan rusak berat. Kini sejumlah perusahaan real estate membangun perumahan di sana. Sementara pesantren Al-Mukhlisini pimpinan KH Zainal Abidin yang memiliki ribuan santri kini sudah membesar dengan membangun perguruan tinggi. Di kawasan ini juga terdapat pemandian air panas yang belum dikelola baik. Berbelok ke arah kanan dari Ciseeng dari Parung, terdapat desa Kuripan, setelah naik ojek sekitar dua kilometer.

Diriwayatkan di desa yang berhawa sejuk inilah lahir dan dibesarkan gadis cantik bernama Dasima. Kemudian untuk mencari penghidupan yang lebih baik, ia mengadu nasib ke desa Curug, Tangerang. Sulit dibayangkan bagaimana Dasima mencapai Curug dari desa terpencil dan belum ada jalan macam sekarang ini. Yang pasti, Dasima kemudian bekerja pada seorang Inggris kaya raya, Edward Williams, yang merupakan orang kepercayaan Raffles. Karena tergoda gadis desa yang bahenol ini, William memeliharanya sebagai nyai atawa gundik, tanpa dinikahi.

Kisah Dasima selanjutnya memilukan hati. Menurut versi G Francis (1896), sekalipun Dasima diberlakukan baik oleh tuannya, tapi ia mengalah pada guna-guna dan meninggalkan suami serta putrinya yang masih kecil bernama Nancy. Ia lantas menjadi istri kedua Samiun, tukang sado dari Kwitang. Tapi, sebenarnya bukan karena guna-guna Dasima meninggalkan tuan dan putrinya, tapi setelah diinsafkan bahwa hidup tanpa nikah adalah dosa besar. Akhirnya nyai dari Kuripan ini mati dibunuh Bang Puase atas perintah istri pertama Samiun, Hayati yang gila ceki (permainan judi Cina). Mayatnya dilemparkan ke kali Ciliwung dari Jembatan Kwitang, dekat toko buku Gunung Agung dan Hotel Aryaduta sekarang. Sedangkan, tempat kediaman William, pada peristiwa dua abad lalu itu diperkirakan terletak di samping gedung Pertamina dan Dirjen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur. Kisah Nyai Dasima ini telah beberapa kali diangkat ke layar film dan sinetron serta diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Kisah nyai-nyai yang berlangsung pada dua abad lalu ini menjadi jamak karena orang Belanda dan Cina yang tiba di Batavia saat itu sering tanpa disertai istri. Mereka mengawini wanita pribumi atau mengambil nyai (gundik), terutama dari kalangan budak. Sebetulnya, pergundikan yang merupakan tradisi masyarakat kolonial Portugis sangat dibenci Gubernur Jenderal JP Coen. Tapi, hal itu terjadi karena penduduk Batavia sebagian besar pria. Coen ingin menjadikan Batavia sebagai kota Belanda yang murni. Untuk itu ia berkali-kali minta agar banyak wanita Belanda termasuk para gadis yatim piatu untuk dikirim ke Batavia, tapi tidak berhasil. Kecuali kepada para pegawai tinggi yang diizinkan membawa istri dan anak-anak, Heren 17 (Dewan Tertinggi VOC) melarang mengirim wanita Belanda ke Asia.

Orang-orang Eropa yang mengawini wanita pribumi cendrung kehilangan ciri-ciri Eropa tertentu dan mengambil berbagai gaya hidup pribumi. Mereka inilah yang sampai tahun 1950-an disebut Indo Belanda. Mereka sendiri oleh kaum Belanda totok diberlakukan sebagai orang Eropa kelas II, bahkan kelas III dan IV. Tidak heran banyak warga Belanda yang setelah mengawini wanita pribumi akan lebih memilih untuk tetap hidup di Indonesia setelah masa jabatannya habis. Apalagi pada masa VOC mereka tidak disediakan tiket untuk pulang.
Sejak JP Coen menaklukan Jayakarta (1619), ia memang memerlukan banyak tenaga kerja. Sementara Belanda dan Cina yang datang tanpa istri membutuhkan para budak wanita untuk dikawini atau dipelihara sebagai nyai dan gundik. Jumlah budak lantas berkembang sangat cepat, hingga pertengahan abad ke-17 jumlahnya mencapai separuh penduduk Batavia. Sensus tahun 1681 mencatat dari 30.740 penduduk Batavia, sebanyak 15.785 adalah budak belian. Tahun 1730 jumlah mereka meningkat dua kali lipat menjadi 30 ribu sehingga menjadi kelompok penduduk terbesar. Perbudakan baru dihapuskan pada 1860. Di antara para budak belian di Batavia, banyak yang dibeli di pasar-pasar budak di India, seperti di pantai Malabar dan Coromandel, selain dari Bali dan Sulawesi Selatan. Di Batavia kala itu juga terdapat tempat jual beli budak. Pada masa Gubernur Jenderal Van den Parra (1761-1775) hampir setiap tahunnya dilakukan impor empat ribu budak.

Tentu saja nasib para budak sangat menyedihkan. Mereka bekerja tanpa dibayar dan tidak ada jaminan hukum terhadap mereka. Menurut Adolf Heyken, warga Jerman yang banyak menulis tentang Jakarta, justru para nyai atau gundik inilah yang bernasib baik. Beberapa nyai bahkan memiliki beberapa budak belian untuk berbagai keperluan sehari-harinya. Para budak juga dipekerjakan di kebun-kebun yang dibeli para nyai. Sebagai contoh Nyai Rokya (1816) yang memiliki 22 budak. Ia masih kalah dengan seorang janda kaya yang jadi gundik Cina kaya raya yang mewarisi 32 budak belian. Baru pertengahan abad ke-19, setelah dibukanya Terusan Suez dan pelayaran dengan kapal uap ke Hindia Belanda hanya butuh waktu satu bulan, banyak warga Belanda datang ke Batavia dengan disertai istri dan keluarganya. Sebelumnya pelayaran dari Eropa ke Batavia memerlukan waktu enam bulan dengan berbagai risiko di laut.

Monday, June 13, 2005

SEPUTAR SEPTEMBER 1965 - I

Ini merupakan salah satu sejarah hitam dalam urutan sejarah Indonesia tercinta. Gue ngga ada maksud apa - apa dengan mosting mengenai Tragedi September 1965 jadi mohon jangan disalah artikan ... mohon untuk tidak memakai topik ini sebagai propaganda politik dan lain sebagainya karena dalam topik ini gue hanya berbagi cerita mengenai apa yang gue ketahui dari petikan sejarah September 1965. Kalau ada kesalahan dalam penyajian (udah kayak nulis buku ) mohon dimaafkan dan mohon dimaklumi ..

Kesaksian para pelaku gerakan september 65 ini merupakan hal yang penting bagi jalannya proses rekonstruksi sejarah Orde Baru. Sayangnya, sangatlah disayangkan ada yang tercecer dari kesaksian para tokoh kunci gerakan tersebut hingga terjadilah missing link yang masih misterius sampai dengan sekarang. Akibat yang paling fatal adalah pertanyaan yang paling mendasar dan legendaris sampai dengan saat ini yaitu : siapakah dalang dan otak sesungguhnya dari gerakan 30 September tersebut ? Ketidakjelasan nasib para tokoh PKI dan juga para pelaku langsung G 30 S, ikut menambah rumit konspirasi yang terjadi. Beberapa dari tokoh inti sudahlah jelas dan terang nasibnya dengan mengalami eksekusi secara resmi di depan regu tembak seperti eks Kol. Untung, eks Brigjen Sopeardjo, Sudisman yang anggota Politbiro PKI dan Dipa Nusantara Aidit yang menjadi Ketua PKI. Sementara itu Nyoto tidak diketahui sampai sekarang rimbanya. Alkisah tanggal 11 Maret 1966 sepulangnya dari sidang kabinet (Nyoto adalah salah satu mentri di kabinet soekarno), ia diculik oleh sekelompok orang yang tidak diketahui identitasnya dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di Jl. Tirtayasa. Ada beberapa tapol yang pernah melihatnya di Rutan Salemba tapi setelah itu mereka tidak melihat lagi karena kemudian terhembus kabar burung bahwa Nyoto sudah dieksekusi di salah satu kepulauan Seribu di Teluk Jakarta. Yang menjadi suatu fenomena menarik adalah perlakuan ekstra judistrial bagi para elite politik PKI. Jika ditelaah dan diperhatikan, mereka tidak pernah diadili secara hukum dan menjalani tahap persidangan.

Letkol Untung bin Syamsuri, tokoh kunci Gerakan September 1965 adalah salah satu lulusan terbaik Akmil. Pada masa pendidikan ia bersaing dengan Benny Moerdani, perwira muda yang sangat menonjol dalam lingkup RPKAD (kelak Benny Moerdani menjadi tokoh legendaris dalam Misteri Tragedi Tanjung Priok). Mereka berdua sama-sama bertugas dalam operasi perebutan Irian Barat dan Untung merupakan salah satu anak buah Soeharto yang dipercaya menjadi Panglima Mandala. Sebelum ditarik ke Resimen Cakrabirawa, Untung pernah menjadi Komandan Batalyon 545/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang. Batalyon ini memiliki kualitas dan tingkat legenda yang setara dengan Yonif Linud 330/Kujang dan Yonif Linud 328/Kujang II. Kelak dalam peristiwa G 30 S ini, Banteng Raiders akan berhadapan dengan pasukan elite RPKAD dibawah komando Sarwo Edhie Wibowo (Pak Sarwo ini adalah mertua dari Presiden kita yang sekarang Pak Susilo Bambang Yudhoyono). Setelah G 30 S meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan menghilang beberapa bulan lamanya sebelum kemudian ia tertangkap secara tidak sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. Ketika tertangkap, ia tidak mengaku bernama Untung. Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G 30 S. Setelah mengalami pemeriksaan di markas CPM Tegal, barulah diketahui bahwa yang bersangkutan bernama Untung. Setelah melalui sidang Mahmilub yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1969, 4 thn setelah G 30 S mengobarkan pemberontakannya. Bagi Soeharto, Untung bukanlah orang lain. Hubungan keduanya cukup erat apalagi dulunya Soeharto pernah menjadi atasan Untung di Kodam Diponegoro. Indikasi kedekatan tersebut terlihat pada resepsi pernikahan Untung yang dihadiri oleh Soeharto beserta Ny. Tien Soeharto. Pernikahan tersebut berlangsung di Kebumen beberapa bulan sebelum G 30 S meletus. Kedatangan Komandan pada resepsi pernikahan anak buahnya adalah hal yang jamak, yang tidak jamak adalah tampak ada hal khusus yang mendorong Soeharto dan istrinya hadir pada pernikahan tersebut mengingat jarak Jakarta - Kebumen bukanlah jarak yang dekat belum lagi ditambah pada masa tahun 1965 sarana transportasi sangatlah sulit.Kembali, suatu misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang, apakah hubungan Soeharto dengan Untung dan kaitannya dengan peristiwa September 1965 ?

Menyusul terjadinya tragedi September 1965, Latief sempat menjadi buronan beberapa saat. Bersama Untung dan Kapt. Inf. Suradi, mereka melarikan diri ke arah selatan sampai di desa Cipayung, Pasar Rebo, Jakarta. Setelah kelar menamam semua senjatanya di desa Kebon Nanas, Bogor. Latief pada keesokan harinya berusaha menemui Presiden Soekarno melalui Brigjen Soepardjo namun usaha tersebut menemui kegagalan. Karena usaha untuk bertemu gagal, maka Latief bersembunyi di daerah Pejompongan dan setelah dua malam bersembunyi, akhirnya ia tertangkap oleh sepasukan tentara yang menggeledah daerah tersebut. Dengan luka pada kaki kirinya dia masuk penjara sebagai tapol dan mengalami persidangan berkali - kali. Semula Latief mendapat hukuman mati kemudian Mahkamah Militer Agung pada tahun 1982 mengganti vonisnya menjadi vonis seumur hidup. Setahun kemudian pada tahun 1983, Latief resmi menjadi narapidana politik di LP Cipinang. Latief lalu mengajukan permohonan hukuman seumur hidup diubah menjadi hukuman terbatas. Soeharto melalui salah satu keppresnya akhirnya menambah hukuman Latief selama lima tahun sampai dengan 18 Januari 1988 tapi setelah masa itu lewat, Latief tak kunjung dibebaskan. Pada 17 Agustus 1994, Omar Dhani mantan Menpangau, Dr. Soebandrio mantan Menlu dan Ketua BPI serta Brigjen Pol. Sutarto serta Kol. Latief mengajukan grasi pada Presiden Soeharto. Semua mendapat grasi kecuali Kol. Latief. Akhirnya pada era pemerintahan Habibie lah baru Latief mendapatkan grasinya.

Eks Sersan Mayor Boengkoes adalah salah satu pelaku langsung dari Tragedi September 1965. Dia dibebaskan dari LP Cipinang pada tanggal 25 Maret 1999. Sebagai Komandan Peleton Kompi C Batalyon Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang berada di bawah Kol. Untung, dia mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah atasannya yaitu Lettu Dul Arief. Ia diperintahkan untuk 'mengambil' Mayjen MT. Haryono, hidup atau mati. Sebelum dilakukan pengambilan tersebut, dia diberi penjelasan oleh atasannya tersebut bahwa ada sekelompok jenderal yang menamakan dirinya "Dewan Jenderal" yang bertujuan meng-coup Presiden Soekarno. Ketika ditanya apakah Boengkoes mengerti dengan yang dimaksud "Dewan Jenderal", dia menjawab dalam masa G 30 S tersebut ada dua kubu yang tampaknya lagi berkonflik dalam kemiliteran terutama di Angkatan Darat. Yaitu apa yang disebut sebagai "Dewan Jenderal" dan "Dewan Revolusi"."Dewan Jenderal" adalah yang berniat melakukan coup pada Presiden Soekarno sedangkan "Dewan Revolusi" adalah yang berniat menyelamatkan Presiden Soekarno. Menurut Boengkoes ada ketidaserasian dalam Angkatan Darat tidak hanya menyangkut Soekarno.S ekitar pukul setengah tiga dini hari semua unsur pasukan yang bertugas untuk melakukan penangkapan dikumpulkan dan diberi briefing akhir. Pasukan dibagi dalam tujuh sasaran dengan dalam tiap titik sasaran terdiri atas satu peleton pasukan. Waktu 'pengambilan' sangat singkat, antara 15 - 20 menit dan tidak dihitung dengan waktu berangkat. Dan sebelum pukul 06.00 harus sudah dibawa ke semua tujuh orang Jenderal tersebut. Waktu itu Serma Boengkoes mendapat sasaran Mayjen MT. Haryono. Sebelum penangkapan, Serma Boengkoes melakukan observasi dulu. Yang dia ingat adalah waktu itu pintu menghadap ke selatan. Setelah Boengkoes mengetuk pintu dan meminta ijin untuk kedua kalinya, pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Waktu itu keadaan gelap sekali karena oleh pemilik rumah semua lampu dimatikan. Dalam hati Boengkoes timbul pertentangan antara melanjutkan atau tidak tetapi sebagai seorang tentara dia teringat akan perintah komandannya yang harus dituruti. Akhirnya didobraknyalah pintu tersebut dan ketika itu Boengkoes terkejut karena melihat kelebatan bayangan putih dan secara reflek dia menarik pelatuk dan terjadilah penembakan itu. Gugurlah satu bunga bangsa .. Mayjen MT. Haryono. Menurut pengakuan Boengkoes pada saat dia melakukan penembakan, dia tidak mengetahui bahwa yang ditembaknya adalah Mayjen MT. Haryono.Pukul 05.30 pagi tanggal 01 Oktober, Boengkoes dan pasukannya sudah tiba di tempat semula. Baru ketika matahari sudah panas dilakukanlah eksekusi terhadap para jenderal yang masih hidup. dan itupun dilakukan dengan sopan dengan dipapahnya para jenderal sampai bibir sumur dan baru kemudian ditembak.

bersambung ... :)
TERAPI EMOSI

Kalau baca judul diatas tentu itu hanyalah karangan saya saja semata. Hal ini terinspirasi oleh kejadian tadi malam ketika nonton AFI - Konser Eliminasi I di Indosiar. Mungkin banyak yang akan mentertawakan saya, I am a man, 33 years old dan masih suka nonton AFI yang notabene adalah program untuk anak-anak tanggung atau dikenal dengan istilah ABG.

Bukan pula excuse atau alasan murahan tapi sejujurnya seperti yang pernah saya tuliskan bahwa dengan nonton AFI, ada satu masa dimana saya bisa kembali meredam perasaan akan kangen dengan tanah air. Masa-masa pertamanya AFI baru saja muncul, I used to spend my time dengan Bunda di rumah sambil menonton konser-konsernya AFI setiap malam minggu, sambil pula menikmati secangkir kopi dan pisang goreng bikinan Bunda, kemudian kita bersama-sama memberi komentar yang terkadang membuat kita berdua sendiri tergelak-gelak mengomentari komentar kita sendiri, lalu pada saat pengumuman eliminasi, terkadang tanpa disadari air mata kita pun ikut menetes.

Seperti tadi malam ketika menyaksikan Arjuna dari Makassar harus pulang, tanpa terasa air mata pun ikut menetes dan pandangan ke layar kaca pun mengabur oleh genangan air mata. There are two reasons I cried. Pertama karena memang I easily cry, nonton film saja bisa meneteskan air mata. Kedua karena I miss my time in Bandung karena biasanya setelah nonton Konser AFI, we gathered together untuk minum kopi sama-sama sambil ngobrolin tentang segala macam dari mulai baju, film, permainan truth or dare, hidup, kerjaan, kuliah, curhat dan lain-lain. I did miss that time.

So, walaupun dihujat oleh beberapa teman diemail dengan kalimat yang mengatakan bahwa hari begini masih nonton AFI, I don't care .. saya hanya berpikir seandainya mereka ada ditempat saya sekarang ini dan hanya bisa menangkap siaran Indosiar dan RCTI, saya percaya teman-teman saya akan sangat sangat menikmati AFI, Kondan-In, Indonesian Idol and others yang mungkin tadinya tidak pernah dilirik sekalipun.

Betapa pun saya bisa dengan bangga bercerita pada teman-teman lokal disini ketika mereka bertanya seperti apakah AFI itu, at least ada yang bisa saya ceritakan tentang Ibu Pertiwi walaupun mungkin pengaruhnya tidak banyak but at least saya sudah bisa meng-AFI-kan beberapa teman lokal disini :)

Dan menangis secara ikut terharu seperti ketika kita nonton AFI, tanpa terasa ikut meringankan beban. Benar apa yang orang katakan, biasanya setelah selesai menangis semuanya akan terasa ringan.

Ah .. sudahlah, I better stop karena dari tadi kayaknya ngga teralur dengan baik penulisannya ... :) ..

Wednesday, June 08, 2005

TAHUKAH ANDA ?

Buat yang hobi jalan-jalan or kongkow-kongkow di Plaza Semanggi, mungkin ini bisa membuat semakin cinta dengan Plangi ... :)

Kisah GRANADHA

Kawasan bisnis Graha Purna Yudha (Granadha) adalah kawasan yang meliputi pusat perbelanjaan Plaza Semanggi, gedung perkantoran serta Balai Sarbini, yang merupakan bangunan multifungsi, baik untuk pertunjukan seni, seminar, dan lainnya.

Tadinya, gedung itu didirikan sebagai Gedung Veteran RI, atas ide Presiden I RI, Soekarno. Peletakan batu pertamanya dilakukan 6 Januari 1965. Namun, baru delapan tahun kemudian, gedung itu selesai dibangun. Tepat 11 Maret 1973, Presiden Soeharto meresmikan penggunaan Balai Sarbini tersebut.

Gedung itu terus terpakai, namun lama-kelamaan kurang diminati lagi. Apalagi dengan semakin banyaknya gedung-gedung pencakar langit yang dibangun di Jakarta. Balai Sarbini seolah ”mati suri”. Belakangan, gedung itu direnovasi tanpa meninggalkan bentuk arsitektur bangunan yang khas, bulatan topi baja tentara di bagian atapnya. Maka, bangunan itu kembali ”hidup”, apalagi setelah diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 23 Februari 2004 lalu.

Kalau Anda berjalan-jalan ke sana, di depan Balai Sarbini, bisa dilihat tiga prasasti, masing-masing ditandatangani Presiden Soekarno (1965), Presiden Soeharto (1973), dan Presiden Megawati Soekarnoputri (2004). Di depan bangunan itu, juga ada patung dada Letjen TNI HM Sarbini (alm), yang namanya dijadikan nama bangunan tersebut. Di situ terdapat pula relief yang menggambarkan perjuangan TNI.

Lalu siapakah Letjen TNI HM. Sarbini itu ? ..
nantikan di episode berikutnya dari serial TAHUKAH ANDA ? ... :)

Friday, June 03, 2005

TAHUKAH ANDA ?

Sejak diproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan masa Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Indonesia pernah memiliki 11 Perdana Menteri, yang mana diantara tahun 1950 sampai tahun 1955 mengalami 5 kali pergantian Perdana Menteri dan dikenal dengan periode Kabinet 100 Menteri. Adapun tokoh-tokoh pergerakan yang pernah menjadi Perdana Menteri adalah :

1945 - 1947 SUTAN SJAHRIR
1947 - 1948 AMIR SJARIFFOEDIN
1948 - 1950 MOHAMMAD HATTA
1950 ABDUL HALIM
1950 - 1951 MOHAMMAD NATSIR
1951 - 1952 SOEKIMAN WIRJOSANDJOJO
1952 - 1953 WILOPO
1953 - 1955 ALI SASTROAMIDJOJO
1955 - 1956 BURHANUDDIN HARAHAP
1956 - 1957 ALI SASTROAMIDJOJO
1957 - 1959 RADEN DJUANDA KARTAWIDJAJA

TAHUKAH ANDA ?

Berikut adalah nama-nama Gubernur Jenderal yang pernah memerintah di Indonesia

Masa Pemerintahan VOC
1609 – 1799

1609 – 1614 PIETER BOTH
1614 – 1615 GERARD REYNST
1616 – 1619 LAURENS REAAL
1619 – 1623 JAN PIETERSZOON COEN
1623 – 1627 PIETER DE CARPENTIER
1627 – 1629 JAN PIETERSZOON COEN
1629 – 1632 JACQUES SPECX
1632 – 1636 HENDRIK BOUWER
1636 – 1645 ANTONIO VAN DIEMEN
1645 – 1650 CORNELIS VAN DER LIJN
1650 – 1653 CAREL REYNIERSZ
1653 – 1678 JOAN MAETSUYKER
1678 – 1681 RIJCKLOF VAN GOENS
1681 – 1684 CORNELIS SPEELMAN
1684 – 1691 JOANNES CAMPHUYS
1691 – 1704 WILLEM VAN OUTHOORN
1704 – 1709 JOAN VAN HOORN
1709 – 1713 ABRAHAM VAN RIEBECK
1713 – 1718 CHRISTOFFEL VAN SWOLL
1718- 1725 HENRICUS ZWAARDECROON
1725 – 1729 MATTHEUS DE HAAN
1729 – 1732 DIEDERIK DURVEN
1732 – 1735 DIRK VAN CLOON
1735 – 1737 ABRAHAM PATRAS
1737 – 1741 ADRIAAN VALCKENIER
1741 – 1743 JOHANNES THEDENS (Acting Governor General)
1743 – 1750 GUSTAAF WILLEM BARON VAN IMHOFF
1750 – 1761 JACOB MOSSEL
1761 – 1775 PETRUS ALBERTUS VAN DER PARRA
1775 – 1777 JEREMIAS VAN RIEMSDIJK
1777 – 1780 REYNIER DE KLERK
1780 – 1797 WILLEM ARNOLD ALTING
1797 – 1799 PIETER GERHARDUS VAN OVERSTRATEN

Masa Pemerintahan Belanda I
1800 – 1811

1800 – 1801 PIETER GERHARDUS VAN OVERSTRATEN
1801 – 1805 JOANNES SIBERG
1805 – 1808 ALBERTUS HENDRICUS WIESE
1808 – 1811 HERMAN WILLEM DAENDLES
1811 JAN WILLEM JANSSENS

Lalu pecahlah Perang Napoleon di Eropa yang mengakibatkan Belanda berada dibawah kekuasaan Perancis kala itu dan Tanah Jawa dikuasai oleh Inggris. Maka bergantilah posisi Gubernur Jenderal dari Belanda ke Inggris, mengingat Inggris melakukan pemusatan pemerintahan jajahan di India, maka ditunjukklah Letnan Gubernur Jenderal yang berada langsung dibawah Gubernur Jenderal British – India yang berkedudukan di Calcutta.

Masa Pemerintahan Inggris
1811 – 1816

1811 – 1816 THOMAS STAMFORD RAFFLES
1816 JOHN FENDALL

Kemudian pada Perang Waterloo tertanggal 18 Juni 1815, Napoleon kalah dan menandai berakhirnya Perang Napoleon. Maka Belanda kembali berkuasa di Tanah Hindia – Belanda.

Masa Pemerintahan Belanda II
1816 – 1949

1816 – 1826 GODERT AGP baron VAN DER CAPPELEN
1826 – 1830 LEONARD PJ. Burggraaf DU BUD DE GISIGNIES
1830 – 1833 JOHANNES VAN DEN BOSCH
1833 - 1836 JEAN-CHRETIEN BAUD
1836 – 1840 DOMINIQUE JACQUES DE EERENS
1840 – 1841 CSW GRAAF VAN HOGENDROP (Acting Governor General)
1841 – 1844 PIETER MERKUS
1844 - 1845 JOAN CORNELIS REYNST (Acting Governor General)
1845 – 1851 JAN JACOB ROCHUSSEN
1851 – 1856 ALBERTUS J. DUYMAER VAN TWIST
1856 – 1861 CHARLES FERDINAND PAHUD VAN MONTANGER
1861 – 1861 ARIJ PRINS (Acting Governor General)
1861 – 1866 LUDOLF AJW baron SLOET VAN DE BELLE
1866 – 1866 ARIJ PRINS (Acting Governor General)
1866 – 1872 PIETER MIJER
1872 – 1875 JAMES LOUDON
1875 – 1881 JOHAN W. VAN LANSBERGE
1881 – 1884 FREDERIK s’JACOB
1884 - 1888 OTTO VAN REES
1888 – 1893 CORNELIS PIJNAKER HORDIJK
1893 – 1899 Jonkheer CAREL HA VAN DER WIJCK
1899 – 1904 WILLEM ROOSEBOOM
1904 – 1909 JOANNES BENEDICTUS VAN HEUTSZ
1909 – 1916 ALEXANDER WILLEM FREDERIK IDENBURG
1916 – 1921 JP GRAAF VAN LIMBURG STIRUM
1921 – 1926 D FOCK
1926 – 1931 Jonkheer ACD DE GRAEFF
1931 – 1936 Jonkheer BONIFACIUS CORNELIS DE JONGE
1936 – 1942 Jonkheer AWL TJARDA VAN STARKENBORGH STACHOUWER

Lalu pecahlah Perang Dunia II. Jepang menguasai Asia Timur. Jepang mengambil Indo-Cina dari tangan Perancis. Burma dan Malaysia dari tangan Inggris, Philipina dari tangan Amerika dan Hindia-Belanda dari tangan Belanda. Dimulailah masa penjajahan Jepang.

Masa Pemerintahan Jepang
1942 – 1945

Maret 1942 – November 1942 HITOSHI IMAMURA (Gubernur Militer di Jawa)
November 1942 – November 1944 KUMASHAKI HARADA (Gubernur Militer di Jawa)
November 1944- September 1945 SHIGEICHI YAMAMOTO (Gubernur Militer di Jawa)

Setelah Jepang kalah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Kekuasaan Belanda masih bertahan dibeberapa bagian di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Republik Indonesia resmi bersih dari kekuasaan Belanda pada tahun 1949 dengan diserahterimakannya Republik Indonesia ini oleh Pemerintah Kerajaan Belanda yang diwakili oleh AHJ. Lovink kepada Pemerintah Republik Indonesia yang diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Istana Merdeka dengan upacara penurunan bendera Belanda dan penaikkan bendera Indonesia.

Masa Kemerdekaan

1942 – 1948 HUBERTUS JOHANNES VAN MOOK
1948 – 1949 LOUIS BEEL (Komisaris Tinggi)
1949 – 1949 AHJ. Lovink (Komisaris Tinggi)

Thursday, June 02, 2005

TAHUKAH ANDA ?

Dialog ini dikutip dari tulisan yang berada di Rumah Perundingan Hindia Belanda – Jepang

Dialog ini sendiri terjadi pada tanggal 8 Maret 1942 antara Panglima Imamura, Gubernur Jenderal Tjarda van Stackenborough Stackhouwer dan Panglima Tentara Ter Poorten.

Panglima Imamura :
“Apakah Gubernur Djenderal dan Panglima Tentara mempunyai wewenang untuk perundingan ini ?”

Gubernur Jenderal Tjarda :
“Saja tidak mempunjai wewenang untuk berbitjara sebagai panglima Tentara.”

Panglima Imamura :
“Bila Tuan tidak dapat berbitjara sebagai panglima, mengapa Tuan datang kemari ?”

Gubernur Djenderal Tjarda :
“Tuan meminta saja datang dan atas permintaan itu saja memenuhinja dengan harapan dapat membitjarakan dengan Tuan tentang pemerintahan sipil di Djawa” .. “Maaf kalau boleh, orang jang berdiri di pintu, apakah ia djuru potret atau djuru pelapor, saja ingin Tuan mengusirnja.”

Panglima Djepang itu kini menoleh ke Panglima Ter Poorten.

Panglima Imamura :
“Apakah Tuan menjerah tanpa sjarat ?”

Panglima Ter Poorten :
“Saja hanja dapat menjampaikan kapitulasi Bandung.”

Panglima Imamura :
“Kapitulasi Bandung ? Itu tidak menarik perhatian kami.”

Berulang-ulang Panglima Imamura menanjakan penjerahan Hindia-Belanda tetapi berulang-ulang pula Panglima Ter Poorten hanja berbitjara tentang kapitulasi Bandung

Panglima Imamura :
“Tida ada gunanja mengemukakan pertanjaan ini. Bila Tuan tidak menjerah tanpa sjarat, tidak ada djalan lain selain daripada meneruskan pertempuran. Tuan akan dapat dengan segera sekarang pun kembali ke Bandung. Saja akan memerintahkan mengawal Tuan sampai ke pertahanan terdepan, dan pada saat Tuan melewati pertahanan itu, Bandung akan dihudjani bom oleh kapal-kapal terbang jang sudah siap di lapangan terbang ini. Walaupun begitu saja masih memberikan kesempatan terachir untuk mempertimbangkan pertanjaan saja, untuk ini saja beri waktu 10 menit.”

Setelah mengatakan ini, Imamura berdiri dan keluar. Setelah waktu 10 menit berlalu, Imamura kembali ke dalam ruangan perundingan dan terdjadilah dialog berikutnja.

Panglima Imamura :
“Saja tidak akan membitjarakan pemerintah karena njatanja Tuan tidak mempunjai wewenang tertinggi untuk mendjawab pertanjaan aja, sedjak ini saja larang Tuan berbitjara dan akan saja tudjukan kepada Panglima Tentara. Kembali kepada pertanjaan semula, apakah Tuan bersedia menjerah tanpa sjarat ?”

Panglima Ter Poorten :
“Saja menerima untuk seluruh wilajah Hindia-Belanda.”

Gubernur Djenderal Tjarda :
“Oleh karena saja tidak mempunjai wewenang untuk mengambil keputusan itu, saja akan pergi.”

Setelah mengutjapkan kata-katanja, Gubernur Djenderal berdiri dan kemudian meninggalkan medja perundingan. Sebelum Gubernur Djenderal meninggalkan medja perundingan, ia masih sempat mengeluarkan kata-katanja jang terachir : “Saja harap Tuan mengusir djuru potret itu.” Sesudah itu Panglima Ter Poorten menandatangani penjerahan Hindia-Belanda tanpa sjarat kepada Djepang dengan naskah jang sudah disiapkan oleh Djepang sendiri. Sedjak peristiwa itu berachirlah kekuasaan Hindia-Belanda.

Kalidjati mendjadi saksi.
PINDAH LAGI

Seminggu yang lalu Kepala Operasional Perwakilan atau bahasa kerennya Head of Chancery kembali ke Tanah Air karena masa bertugasnya sudah selesai. Semenjak beliau pergi, ruangan beliau otomatis kosong dan biasanya selalu saya pakai untuk nonton pada saat makan siang (psstt, jangan bilang-bilang yaa). Ruangan beliau termasuk ruangan yang cukup besar, mengingat bahwa beliau adalah orang no 2 di kedutaan, ruang beliau dilengkapi dengan kamar mandi dalam dengan bath-tub dan juga shower dan ditambah lagi kulkas kecil yang biasanya beliau pakai untuk menyimpan minuman atau makanan.

Tadinya saya hanya menonton tv saja diruangan tersebut lalu mulailah dengan menaruh beberapa file saya diruang tersebut dan mengerjakan filing disitu. Lalu kalau semua orang di Gedung A sudah pulang (termasuk Om Dubes tentunya), saya biasanya minum softdrink sambil merokok dan nonton tv diruang itu (again .. jangan bilang-bilang yaa, ini rahasia!).

Tadi beberapa saat sesudah makan siang, BPKRT yang bertugas mengurus kerumahtanggaan di Kedutaan memanggil saya dan beliau berkata bahwa mulai hari ini saya harus sudah mulai siap-siap untuk pindah ruangan, minggu depan saya harus sudah mulai bekerja di bekas ruangannya Kepala Operasional Perwakilan. Waaahhhhh .. tak terkirakan senangnya, akhirnya setelah 3 bulan, saya bisa mendapatkan ruangan sendiri walau hanya untuk sementara waktu saja.

Wednesday, June 01, 2005

TAHUKAH ANDA ? ...

Bahwa buku Negara Kertagama yang dikarang oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365, sesungguhnya bercerita mengenai kejayaan Majapahit pada masa pemerintahan Rajasanagara atau lebih dikenal dengan nama Hayam Wuruk, beserta patihnya Gajah Mada.

Naskah Nagara Kertagama ini ditulis di 159 lembar daun Lontar berukuran 48 x 33 cm, masing-masing lembar daun memuat empat baris naskah yang ditulis dalam aksara Bali dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno.

Kitab Nagara Kertagama ini menceritakan mengenai kejayaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, juga menceritakan mengenai sistem pemerintahan, adat istiadat, berbagai upacara keagamaan serta keadaan keluarga kerajaan. Naskah tersebut juga menceritakan mengenai perjalanan raja ke beberapa tempat serta peranan Patih Gajah Mada dalam kemajuan kerajaan Majapahit.

Naskah Nagara Kertagama ini ditemukan oleh seorang peneliti dari Belanda yaitu Meneer JLA. Branders di reruntuhan Istana Cakranegara di Lombok pada tahun 1894. Sempat jatuh ke tangan Belanda, pada tahun 1971 Ratu Juliana menyerahkan kembali naskah ini pada Presiden Soeharto untuk ditaruh di Museum Nasional. Sampai sekarang ini naskah tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.
Naah kali ini saya mem-forward sms lain ... dan ini hasilnya ..

SMSnya adalah :
1)send back this msg if u like me. 2)call me if u love me. 3)make a miss call if u care about me. 4)give a joke if u just a friend. 5)do nothing if u hate me!

Hasilnya :

- Kalo dibales kaya gini artinya apa ? Hehehe..

- Which do I will have to say, I ake all 3 point accept point 5 (disadur sebagaimana aslinya)

- (send the whole message back to me)

- :)

- This msg mean, I'd love to do point 1,2, 3 and 4 .. I like u, I love u, I care about u, coz u my lovely friend... Miz u mamas...

- *sambil elus2 jenggot* "hmm hary sedang horny pasti neh.."

- If I do no 1 until 4 ?

- 1) I like u 2) I love u, tp ndak mgkn tlp dr HP ya, 3) I care about u, ngga usah pk mscld juga..

- (send the whole message back to me)

- How to do all in 1 shoot? He he

- (send the whole message back to me)

- (send the whole message back to me)

- I know you are HARI it is strang to hear this. How are you doing? Long time no see you. I hop you are fine you have got day off?

- Ha Ha Ha

- (send the whole message back to me)

- Would love to chat but I'm kind of in a tight budget... Hehe.

- Aku ambil pilihan 1,2,3 aja tapi dari nomor ini yaa hpku yg 081110**** low batt.

- Hary.. plis deh!