Monday, October 10, 2011
Campur Aduk 101011 - Sebuah Catatan Harian
Tergelitik buat ngomongin soal percintaan ini, gw ingin cerita tentang satu hal yang mungkin ini berulang dan berulang. Well, terkadang manusia yang paling pintar pun selalu menjadi bodoh jika sudah berhubungan dengan urusan hati. Hahahaha. Ada nada getir dan sarkasme mungkin tapi memang demikian adanya, bukan?
Hal yang paling spektakuler adalah mungkin jatuh cinta pada seorang pemijat (bahasa kerennya masseur). Iya, jatuh cinta pada pemijat. Secara jujur bukan karena pelayanan plus plus-nya yang membuat gw jatuh cinta. Eh tadi gw belum bilang yaa kalo yang jatuh cinta itu gw? hahaha.
Pada satu hari diajaklah si gw ini berkunjung ke salah satu tempat pijat oleh seorang teman baik. Well, dia mau merayakan kegalauan hatinya yang dirundung duka nestapa karena tak kunjung punya pacar, lalu diajaklah gw ini menemaninya. Persetujuan pertama adalah gw hanya menemani tadinya tapi kemudian entah kenapa ketika sampai di tempat tiba-tiba berubah pikiran, maka gw memutuskan untuk ikutan pijat. Tentunya ruangannya berbeda.
Gw langsung masuk ke kamar yang sudah ditentukan, lalu menunggu. Dan datanglah B.
Dengan gaya sedikit kaku kemudian B ini mempersilahkan gw untuk membuka baju yang saya kenakan. Yaaak, sampai disini saja yaa cerita tentang gw dipijatnya. Kita kan mau membahas masalah jatuh cintanya.
Selama pengerjaan pemijatan ini B melakukan dengan hati, itu yang gw rasa yaa, tanpa ada rasa risih atau bagaimana, gw pikir yaa memang itu adalah bidang pekerjaannya dan memang para masseur ini kan selain gaji, mereka hidup dari tip. Kalo pelayanan ngga oke tentunya tip pun tidak akan oke.
Selesai semuanya, ketika hendak membersihkan diri, B ini kemudian meminta gw untuk berdiri dan dibawah pancuran dan dengan sabar dan perlahan dia menggosok seluruh punggung saya dan kemudian menyabuni dan membilas sampai bersih. Gw ngga ngobrol sama sekali, hanya sesekali bertanya dan semua adalah pertanyaan standar. Yang membuat gw tertegun adalah ketika gw sudah berpakaian lengkap dan siap meninggalkan kamar tersebut, gw memberikan tip untuknya dan dia menolak. Gw kaget, gw memaksa dia untuk menerima itu dan dia tetap tidak mau, dia hanya bilang, "Mas, saya lakukan ini untuk mas dengan ikhlas dan ngga tau kenapa yaa, saya nyaman dengan mas." Selesai dia ngomong begitu kemudian dia mengecup dahi saya dan mempersilahkan saya keluar. "Silahkan, mas, saya mau membereskan kamar ini"
Seberapa sering kita jatuh cinta hanya karena hal-hal kecil?
Apa yang B lakukan pada gw entah kenapa begitu membekas? Apa karena gw single kelamaan? (yaaak curcol :p) atau karena apa yang dia lakukan menurut gw sangat humanis? atau kenapa?
Beberapa hari setelah kejadian itu gw ngga bisa berhenti berpikir tentang itu. Gerak dan ucapnya saat dia mengecup dahi gw terus aja membayang dan ngga pernah bisa lepas dari ingatan gw. Lalu gw bertanya apakah wajar jika gw jatuh cinta tiba-tiba hanya karena perilaku B yang di mata gw tulus? Atau mungkin hanya sekedar bentuk pelayanan yang mungkin B lakukan pada semua orang. Tapi menolak tip?
Gw akhirnya memutuskan untuk kemudian bertemu lagi dengan B.
Bersambung ...
Thursday, September 29, 2011
Campur Aduk 2909 - Sebuah Catatan Harian
Ada semacam kerinduan pada rintik hujan yang tak henti, mungkin alunan rintik itu seolah membuai diri yang lagi menerawang. Hahahaha, ternyata udara dingin dari mesin pendingin pun mampu membuat gw meracau tak tentu.
Belakangan ini gw merasa bahwa dinamika kehidupan gw kembali berjalan normal, naik turun dan undak-unduknya tidak lagi fantastis dan seolah memberikan kesempatan untuk bisa bernafas secara teratur. Kehilangan beberapa teman karena satu dan lain hal bisa gw katakan wajar dan gw ikhlas seada-adanya. Toh namanya pertemanan tidak bisa lagi dipaksakan. Mungkin saja mereka lebih memilih yang lain atau lebih nyaman dengan yang lain tinimbang dengan gw dan gw sadar betul itu. Gw percaya Tuhan tidak tidur, ada keluarga baru yang muncul dan hadir dalam kehidupan gw dan gw mensyukuri itu . Memang Tuhan selalu bekerja dengan caranya yang misterius terkadang kita dipaksa melewati satu keadaan yang seolah kita tidak mampu, kita lupa bahwa Tuhan memberikan cobaan tidak akan melebihi kemampuan orang tersebut.
Ada banyak hal yang belakangan ini juga yang membuat gw menyadari bahwa ketika kita terlepas dari sesuatu yang sesungguhnya kita lakukan dengan terpaksa maka terbukalah jalan dan kesempatan di berbagai hal. Bukan sesuatu yang mudah untuk melepaskan satu hal yang sudah kita kerjakan secara rutin secara bertahun-tahun tapi gw pikir ada baiknya terkadang kita harus rehat sejenak, mengambil jarak dan melihat semuanya dari kacamata yang berbeda.
Ah, sudahlah, racauan ini membosankan
Gw akan bercerita tentang kisah cinta gw hahahaha pada postingan berikutnya.
Friday, September 23, 2011
Campur Aduk 2309 - Sebuah Catatan Harian
Begitu banyak kejadian yang tentunya terjadi dan sangat cepat dan terkadang sampai tak habis pikir kenapa bisa terjadi. Tapi tentunya semuanya ada hikmahnya. Tak ada asap kalo tak ada api, tak ada reaksi kalo tak ada aksi.
Hal paling menyedihkan adalah tentunya kehilangan seseorang yang kita sudah anggap sahabat. Kita anggap sebagai saudara sendiri. Perjalanan untuk mencapai penetapan satu kata dalam hati kita menganggapnya sahabat tentunya penuh dengan pertimbangan dan juga penuh dengan dinamika yang tidak datar. Semua naik turun.
I just lost a best friend, indeed a best friend. Tapi gw juga ngga menganggap sepenuhnya kesalahan dia, tentunya gw pasti ikut andil kenapa sampai akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan gw sebagai sahabatnya.
Belakangan begitu banyak hal yang mendera gw dan satu hal yang pasti adalah ketika banyak orang mengatakan kita harus banyak sabar ketika banyak hal buruk atau yang tidak mengenakkan mendera kita dan itu benar adanya. Mungkin hal yang klise tapi gw pikir benar, yang gw jalanin adalah gw berusaha penuh sabar dan gw juga berusaha untuk ikhlas atas apa yang terjadi.
Katakanlah hal itu mungkin mudah untuk dikatakan tapi sulit untuk dilaksanakan, tapi sepanjang kita mau dan niat dan gw sekarang percaya bahwa alam pun membantu apa yang menjadi keinginan kita. Gw sekarang menjadi lebih berhati-hati dan juga lebih bisa tahu siapa teman sesungguhnya. Memang jika kita senang seolah-olah semua orang adalah teman. Tapi cobalah ketika kita dalam keadaan terpuruk, kita bisa tahu siapa sesungguhnya teman kita dan kita bisa mengerti walau mungkin dia hanya sekedar ada di samping kita tanpa mengatakan apa-apa, walau dia hanya mengirimkan pesan dan bertanya apakah kita baik-baik so far.
Pelajaran hidup banyak sekali yang bisa kita raih, berdatangan satu demi satu dan tinggal kita menyikapinya bagaimana apakah kita mampu mengambil hikmah dari pelajaran hidup itu atau mungkin kita hanya sekedar menganggapnya sesuatu yang harus dilewati.
Yang membuat gw tetap tersenyum adalah bahwa gw semakin percaya, ketika kita diberi cobaan itu berarti kita masih dicintai oleh-Nya. Atau anggaplah Dia lagi bercanda dengan kita :-)
Gw percaya pada akhir sebuah penantian kesabaran akan berbuah manis. Tuhan tidak pernah tidur.
Ah, siang ini panas dan gw meracau semakin kacau.
Sunday, July 17, 2011
Cerita Doa - Sebuah Permintaan Sederhana
Entah kenapa aku masih dibayangi oleh rasa marah dan kecewa dan sesak setiap kali aku mengingat mengapa seolah-olah kehidupan ini tidak adil. Mengingat bahwa yang diberi kemudahan oleh-Nya adalah mereka yang dimataku tidak pernah mengenal kata Tuhan.
Aku hari ini berharap bahwa Tuhan akan memberikan jawaban atas apa yang kumau namun tentunya aku menyadari bahwa itu semua diluar kuasaku.
Keyakinanku hanya satu bahwa Tuhan mendengar setiap pinta dan mengabulkan sesuai dengan waktu-Nya dan bukan waktuku.
Ketika aku mendengar cerita teman-temanku yang sederhana dan begitu mudahnya mereka mendapatkan keajaiban atas pertolongan-Nya, mengapa hal itu tak terjadi padaku?
Kembali aku bertanya apakah sebegitu pendosanya aku sehingga semua permintaanku seolah hilang ditelan awan-awan dan berbaur menjadi bias seperti angin?
Tak ada lagikah kesempatan bagiku?
Surat Buat Tuhan - Sebuah Tulisan Pendek
Bukan hal yang luar biasa ketika aku mengatakan bahwa aku ingin menulis surat. Ada satu kerinduan ketika ingin bicara banyak dengan-Mu. Banyak hal yang terjadi belakangan ini yang terkadang membuat sesak hati, sesak dada dan menumbuhkembangkan perasaan tak enak.
Sebagai umat-Mu aku tak pernah berhenti bersyukur atas segala nikmat yang telah Kau berikan.
Sebagai umat-Mu aku tak pernah berhenti mengucap Alhamdulilah atas segala limpahan rejeki, kesehatan dan juga kesenangan dalam hal apa pun.
Tuhan,
Belakangan aku merasa bahwa Kau meninggalkanku, aku merasa bahwa Kau jauh dariku. Tapi aku tau bahwa itu semua adalah akibat ulahku sendiri dan Kau ingin aku melihat itu.
Kini aku sudah melihatnya, Ya Tuhan, aku sudah merasakannya. Begitu banyak rasa yang menyesakkan dalam hati. Begitu banyak kejadian yang seolah membuatku berpikir inikah yang dinamakan keadilan?
Tuhan,
Ketika orang-orang berharap akan pertolongan-Mu, sama denganku, aku pun berharap Kau selalu ada untuk menolongku. Aku tahu bahwa yang Kau berikan kepadaku adalah sesungguhnya yang aku butuhkan. Tidakkah cubitan-cubitan kecil-Mu cukup sudah untukku?
Mengapa orang-orang yang aku anggap sangat jauh dari-Mu, Kau berikan kemudahan-kemudahan dan kenikmatan-kenikmatan? Tidakkah Kau melihat bahwa mereka tak pernah bersyukur? Tidakkah Kau lihat mereka tak pernah percaya pada-Mu?
Sebegitu kotor dan pendosanyakah aku sehingga aku tak patut mendapatkan mukjizat dari-Mu, tak patut mendapatkan bantuan-Mu?
Aku menyadari semua kesalahanku dan kembali tetap terulang dan kini aku dalam kebimbangan apakah aku harus menyerah atau aku terus berharap bahwa Kau mendengar setiap doaku?
Tuhan,
Keinginanku hanyalah membuat bangga kedua orangtuaku dan juga menjadikan diriku sebagai tulang punggung mereka namun aku tahu bahwa banyak kesalahan yang telah aku lakukan dalam meraih itu sehingga tak pernah bisa tercapai.
Tuhan,
Ijinkan aku untuk memiliki kesempatan yang lebih baik lagi dan membawa semuanya kembali kepada jalurnya dan mengabdikan serta melakukannya semua atas nama-Mu dan untuk-Mu.
Tuhan,
Aku butuh mukjizat-Mu.
Tuhan,
Adakah Kau dengar doaku?
Wednesday, June 08, 2011
The Speech of DAW AUNG SAN SUU KYI
Daw Aung San Suu Kyi
1991 Noble Peace Laureate and Leader of Burma's Democracy Movement
to the ASEAN Civil Society Conference / ASEAN People's Forum
May 3 - 5, 2011
Jakarta - Indonesia
I'm truly happy to be addressing you today, the ASEAN civil society / ASEAN People's Forum. Burma is part of ASEAN.
We Burmese people want to work very closely with the peoplesof the other nations of ASEAN. ASEAN is vital to our interests; ASEAN is vital to our future. And we hope that we also are vital to ASEAN.
Many people say that Asian values are different from western values. They say this often in order to argue against our struggle for democracy. This repeated assertion that democracy is a western concept hurts us who are struggling for democracy in Burma.
The Burmese people who started their movement for democracy in 1988 had very little idea of the western concept of democracy. What they understood was that they wanted security, they wanted freedom, they wanted to be free to shape their own destinies.
They wanted to live in a land that is free from fear and free from want. They wanted to live in a nation where the people could elect their own government. They wanted a government of the people, for the people, by the people. Not because they had ever heard President's Lincoln speech or ever read it, but because their instincts told them that this was the kind of government that would look after their interests.
So, what we are trying to do in Burma, is to better our lives, and we believe that the best way to do that is through democratic institutions. Of course the democracy in Burma will have a particular Burmese taste to it, if you like, a flavor to it, a particular Burmese aspect to it. This is inevitable.
But there are certain basic concepts of democracy that we cannot ignore. If these concepts are ignored, then what we have will not be a democracy but a semblance of democracy.
I'm sure you all understand this, particularly in Indonesia, where you have made an admirable transition from authoritarian rule to democratic governance. We envy you, we want to be like you, we want to achieve what you have managed to achieve. And let me go one step further and say that we hope to be able to achieve even more. I think this is quite natural that we all want the best for our country, for our people. But we also want the best for our region, we want the best for this world, but we have to start with ourselves.
So it is not our selfishness that I'm asking that you help us in our struggle for democracy in Burma, that you help us in our attempt to strenghten civil society in our country. It is by starting here that we can start to help our region and the rest of the world.
I hope the time will come when there will be a free exchange of ideas and of peoples between our two countries and between the other countries of ASEAN. That the time will come, when we all agree that we want a better world based on basic human rights for all of us.
When we come to that point, I think ASEAN will be a happier, stronger region and I would like to think a region to which the rest of the world will look with admiration and with satisfaction.
Thank you all for what you have been doing in increase unity between the peoples of the nations of ASEAN. It is the contact, the engagement between the peoples that is more important than anything else.
Governments are important but only so far as they work for the people. So, let us look forward to the day when it si the peoples of ASEAN who decide what shape our region is going to take.
Thank you.
Wednesday, April 27, 2011
CAMPUR ADUK 26 - Sebuah Catatan Harian
Pagi tadi saya sampai di rumah sekitar jam setengah 8 dan saya pikir ini bukan suatu pagi yang baik karena ada pembicaraan yang saya pikir sebuah pembicaraan yang terkesan sangat tidak manusiawi mungkin atau juga pembicaraan yang membuat kemudian dada sesak entah karena menahan emosi atau rasa sakit. Bias!
Saya banyak menjadi saksi atas suatu sikap bahwa manusia terkadang diperbudak oleh uang. Bahwa manusia begitu mengenal kemudahan mendapatkan uang seolah-olah tak pernah berhenti meminta dan melihat situasi sesungguhnya. Pagi tadi saya belajar dan memaknai hal itu lagi.
Dengan kondisi tidur hanya kurang dari tiga jam, saya kemudian bangun dan memulai aktifitas dengan harus mandi dan kemudian jalan untuk mencari dana tambahan bagi pembelian obat rutin Ibunda dan kemudian melalui satu meeting ke meeting lain. Sesungguhnya saya menikmati perjalanan hari ini dan berusaha untuk melupakan rasa sakit yang saya pikir tidak guna dan berefek tidak baik bagi diri saya.
Mengeluarkan emosi melalui nyanyian mungkin bukan hal istimewa tapi saya bisa katakan bahwa hal in sangatlah manjur. Latihan bernyanyi bersama beberapa teman malam tadi membuat hati saya kembali ringan dan menurunkan emosi yang saya miliki. Selepas latihan kemudian bercengkrama dengan teman-teman sambil sebagian menikmati makan malamnya.
Melihat kegembiraan teman-teman muda ini terkadang saya berpikir seandainya saya boleh kembali memilih untuk kembali ke masa lalu ketika hidup adalah sebuah perjalanan sederhana dan tanpa banyak problematika.
Saya merasa hari ini setelah ditemani dengan dua cangkir kopi Long Black dari kafe kegemaran saya, saya rasanya ingin merebahkan badan, meninggalkan raga ini sesaat untuk beristirahat dalam ketenangan.
Saya pikir saya akan menutup hari ini tentunya dengan mengucap syukur kepada Tuhan pemilik hidup yang telah memberikan warna-warni problem kehidupan dan masih memberikan saya kekuatan untuk menghadapinya.
Semoga saya termasuk dalam lingkungan orang-orang yang dicintai oleh Tuhan!
Amin!
Tuesday, March 29, 2011
Nyai Ontosoroh - Sebuah Peran Pelaku Pecinta Kebangsaan
Itulah yang saya rasakan ketika saya kembali menonton sebuah pertunjukan teater “Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh” di Komunitas Salihara hari Jumat dan Sabtu kemarin. Pertunjukan itu terus membayang dalam pikiran dan hati saya.
Karya teater tersebut diadaptasi dari buku karangan salah satu pujangga besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia; Pramoedya Ananta Toer; Bumi Manusia.
Buku Bumi Manusia ini adalah merupakan seri pertama dari tetralogi Buru karya Pram. Tetralogi ini menceritakan bagaimana perjuangan Minke sebagai seorang pribumi yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan barat di tanah Hindia Belanda dan mertuanya Nyai Ontosoroh, seorang perempuan pribumi yang bangkit dari ketidakberdayaannya sebagai perempuan pribumi dan merubah stigmatisasi seorang nyai adalah hanya seorang gundik semata menjadi seorang nyai yang disegani dan berani bertindak karena Nyai Ontosoroh mengerti akan arti keadilan, kejujuran, harga diri dan perjuangan sejati.
Peran Nyai Ontosoroh ini kembali dengan sempurna dimainkan oleh Sita Nursanti.
Sita sebagai salah satu pelaku seni yang cukup dikenal di tanah air mampu mengejawantahkan dengan sangat baik sesungguhnya kalimat-kalimat yang diucapkan dan dapat memberikan satu gambaran tersendiri bahwa Nyai Ontosoroh adalah perempuan tegar dan mampu melawan ketidakadilan.
Ketika saya melihat kembali Sita (pertunjukan pertama kalinya di Erasmus Huis beberapa bulan lalu) memerankan Nyai Ontosoroh ini di Komunitas Salihara, kembali Sita mampu menciptakan satu dimensi khayalan yang sempurna menjadi satu dimensi nyata paripurna ketika dia bercerita, bertutur kata dengan lugas dan jelas serta tegas sebagai layaknya bayangan Nyai Ontosoroh dalam khayalan saya. Kemarahan, rasa murka, rasa senang, duka lara dan kepahitan hidup Nyai Ontosoroh begitu sempurna dibawakan oleh Sita.
Sementara itu pemain lain (karena saya tidak begitu mengenalnya) mampu berkolaborasi dengan sangat baik dan sempurna. Willem Bivers yang memainkan tokoh Robert mampu menciptakan imajinasi nyata akan tokoh seorang Belanda yang mengambil seorang Nyai untuk dididik sebagai seorang nyonya besar. Buat saya tokoh Robert ini adalah pengejawantahan dari ide brilian Van Deventer akan politiknya yang terkenal yaitu politik balas budi.
Sementara Minke yang dimainkan oleh Bagus Setiawan mampu membuat penonton terbuai dan merasakan kegugupan dan kegembiraannya bertemu dengan gadis pujaan hatinya. Bagus mampu membangkitkan rasa tawa namun tidak sinikal atas perilaku bangsa pribumi yang begitu mendewakan Eropa pada masa itu namun tidak menyuruti semangat kebangsaannya dan terus berjuang dengan caranya untuk bisa membela bangsanya sendiri.
Annelies yang diperankan oleh Anita Bintang yang juga menjadi Sanikem atau Nyai Ontosoroh ketika muda, dengan tampang memelasnya mampu membangkitkan emosi dan luapan kekesalan atas ketidakberdayaannya sebagai perempuan Eropa yang berpendidikan namun tak bisa dan tak mampu berjuang untuk mendapatkan hak-haknya yang semuanya telah diatur oleh bangsanya sendiri bangsa Eropa. Betapa kegalauan hati Annelies diperlihatkan secara nyata bahwa dalam tubuhnya mengalir jiwa pribumi, jiwa nasionalis yang lebih kuat ketimbang mengakui dirinya sebagai bagian dari bangsa Eropa.
Kolaborasi empat pemain ini terlihat begitu kompak dan menyatu. Ini tentunya tidak lepas dari peran besar sang sutradara. Kang Wawan yang menjadi sutradara adalah seorang tokoh teater yang mumpuni dan rendah hati.
Selama hampir satu setengah jam para penonton begitu menikmati setiap gerak langkah dan ucap dari para pemain ini dengan setting yang sangat sederhana dan alunan musik pendukung yang begitu menyentuh.
Standing applause yang diberikan oleh para penonton selama dua hari pertunjukan adalah bentuk penghargaan yang tak terhingga atas kerjasama para pemeran dan sutradara serta pendukung lainnya.
Saya pikir ditengah keterpurukan bangsa ini ketika banyak hal-hal konyol muncul ke permukaan dan menyentuh sisi kebangsaan seperti masalah menghormat bendera atau pun juga masalah pluralisme, layaknya pertunjukan seni seperti ini mampu hadir dan membangkitkan bentuk nasionalisme baru terutama bagi generasi penerus bangsa.
Patut dibanggakan bahwa dalam dua hari pertunjukan dan ketika semua tempat duduk penuh terisi, 90 % dari tempat duduk tersebut adalah generasi muda yang tentunya tanpa mengurangi rasa hormat, sebagian dari mereka mungkin belum pernah membaca secara lengkap buku tetralogi Buru tersebut. Tetapi dengan mereka mau menonton ini tentunya rasa penasaran akan kelanjutan perjuangan Nyai Ontosoroh bersama Minke menghadapi penjajahan di bumi Hindia Belanda akan membangkitkan minat baca mereka akan karya-karya besar pujangga bangsa ini.
Semoga pertunjukan teater seperti ini akan terus ada dan hidup dan semakin bisa meraih minat generasi muda untuk belajar mencintai bangsanya melalui karya seni pertunjukan.
Semoga!
Selamat buat Sita, Willem, Anita, Bagus, Kang Wawan dan tim Salihara!
Monday, February 28, 2011
Teman, Tuhan - Sebuah Kisah di Hari Minggu
Dari mulai saya bangun sampai dengan saya menuliskan corat-coret ini, saya masih terus terkesima dengan apa yang saya alami sehari ini.
Ketika bicara tentang Tuhan dan kuasa-Nya, bicara tentang Tuhan dan janji-Nya, bicara tentang Tuhan dan segala-Nya, adalah sebuah pembicaraan yang tak akan pernah habis, tak akan pernah putus. Ketika seorang individu, manusia ciptaan-Nya bercerita tentang Tuhannya tentunya masing-masing memiliki satu gambaran tersendiri, satu penilaian tersendiri, satu cara tersendiri untuk menunjukan cinta kasihnya pada apa yang disebut sebagai Tuhan-Nya.
Semalam saya berbincang panjang lebar dengan seorang teman lama ketika saya masih bekerja disalah satu restoran cepat saji terkemuka di negeri ini. Saya menanyakan tentang banyak hal padanya, tentang bagaimana kehidupan dia ketika ada dalam masa keterpurukan, tentang bagaimana dia memulai bisnisnya sampai bisa semaju sekarang, tentang bagaimana dia menyikapi hidupnya, tentang bagaimana dia beribadah terhadap Tuhannya dan tentang-tentang yang lain.
Dia bercerita dan dengan sabar meladeni semua pertanyaan saya yang terkadang untuk kadar kesabaran seseorang mungkin bisa membuat batas sabar terlewati, tapi dia mau menjawab dan kembali mengulang apa yang dia ceritakan jika saya tidak mengerti. Terkadang kita tertawa bersama mengenang masa lalu dari perjalanan hidup kita masing-masing ketika kita berpisah dan keluar dari tempat kerja kita bersama.
Ada satu hal yang dia selalu ingatkan kepada saya. Dia bilang bahwa sesungguhnya Tuhan itu Maha Kaya, segala sesuatu yang kita minta pasti akan dikabulkan, kuncinya hanya satu bahwa kita mencintai-Nya dan kita mau terus bersyukur atas apa yang telah diberi oleh-Nya, karena dengan mengucap syukur dan mencintai-Nya niscaya Dia tidak akan pernah melupakan kita dan terus memberi dan memberi karena Dia sudah percaya akan amanah yang diberikan kepada kita pasti akan dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Teman saya ini bercerita bahwa dia memulai bisnisnya hanya dengan dana sebesar Rp. 20,000 (duapuluh ribu rupiah), percaya atau tidak itu terserah anda semua. Dia bilang di masa-masa awal perjuangan dia, jika dia harus meeting untuk mendapatkan tender, dia harus memilih antara dia ikut minum dengan calon klien di restaurant tempat bertemu dengan konsekuensi pulang jalan kaki atau dia memilih mengatakan puasa dan bisa pulang dengan angkot.
Dia bercerita bahwa itu adalah pilihan getir yang harus dihadapi tapi dengan tekadnya dia mampu mengalahkan itu semua dan percaya bahwa sesungguhnya Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi umat-Nya. Betapa dia berdoa dengan sepenuh hati untuk mendapatkan pinjaman karena dia memerlukan dana besar untuk proyek pertamanya. Itu terjadi pada hari Kamis sementara proyek itu harus diberi down payment hari Sabtu. Hari Sabtu pagi dia tiba-tiba bertemu dengan seorang Pendeta dan tanpa agunan apa pun sang Pendeta ini meminjamkan uangnya tanpa bunga. Teman saya ini tidak mengenal sang Pendeta sebelumnya.
Semalam teman baik saya ini bercerita dengan penuh perasaan suka cita, dengan emosi yang tak bisa dilukiskan. Dia bilang bahwa Tuhan selalu bekerja dengan cara-Nya yang misterius dan itu benar menurut saya. Percaya atau tidak, tentunya terserah anda tapi saya mempercayai apa yang dia ceritakan karena saya tahu betul siapa dia.
Naah, sore tadi selepas usai menonton pertunjukan Jakarta Love Riot, saya bermaksud menemui beberapa teman baik yang memang kita sudah janjian semenjak seminggu lalu. Saat saya kemudian datang untuk menjemput teman baik saya ini, ternyata teman baik saya yang baru saja juga selesai menjadi pembicara di peluncuran buku ternyata sedang ngobrol santai dengan beberapa orang. Salah satu dari beberapa orang tersebut adalah teman lama saya seorang penulis kolom kondang yang setiap hari Minggu tulisannya dinanti-nantikan oleh para penggemarnya.
Saya pikir dia tidak akan menghampiri tempat duduk saya, so saya dengan santai duduk di meja lain dengan sahabat yang sudah saya anggap adik sendiri dan mulai asyik mengobrol dengannya sampai kemudian sang penulis ini tiba-tiba berdiri dan menghampiri meja saya sambil ngomong, “Wis suwi ra petok. Opo kabare, ‘ry? Gawe nang ndi?” sebuah kalimat pembuka yang membuat saya terkejut karena terus terang saya tidak expect dia mengingat nama saya, apalagi untuk kemudian duduk bareng di satu meja dan mengobrol.
Pembicaraan saya dengan sang penulis ini seolah mengulang pembicaraan saya malam sebelumnya dengan teman baik saya yang saya ceritakan diatas. Sang penulis ini jauh berbeda dengan yang saya kenal sekitar 7 – 8 tahun yang lalu. Kini dia banyak bercerita tentang hubungannya dengan Sang Pencipta, hubungannya dengan Yang Empunya Hidup.
Dari hasil pembicaraan itulah kemudian saya merasa bahwa selama ini saya sudah salah melangkah, sudah salah mengolah kehidupan saya seolah ibadah saya adalah yang paling benar, seolah apa yang saya minta merupakan yang terbaik, apa yang saya perbuat yang berhubungan dengan Yang Diatas adalah merupakan tindakan terpuji. Ternyata itu semua belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kehidupan dua teman baik saya yang baru dalam waktu 1 x 24 jam bercerita hal yang sama.
Saya pikir kini saatnya untuk lebih bisa mawas diri, lebih bisa memberi rasa ikhlas dan bisa berpikir lebih jernih dalam melakukan ibadah dan mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah dilimpahkan kepada kita.
Saya bersyukur bahwa Tuhan dengan cara-Nya telah mengajarkan saya untuk bisa lebih terbuka dan berkomunikasi lebih baik dengan-Nya.
Friday, February 04, 2011
Jawa, Suriname, Negeri Belanda - Sebuah Kisah Tak Pernah Habis
Suriname sebagai satu negara dengan ibukota Paramaribo merupakan sebuah negara dengan 15% dari total jumlah penduduknya adalah masyarakat Jawa. Bahasa Jawa merupakan sebuah bahasa yang masih dipergunakan sampai sekarang. Sebagai sama-sama negeri yang dijajah oleh Belanda, Suriname kemudian mendapatkan banyak tenaga kerja baik yang didatangkan secara paksa atau sukarela dari Indonesia.
Pada saat mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka, banyak dari para tenaga kerja yang ada pada waktu itu di Suriname memutuskan untuk pulang. Sebagian besar masih tinggal di Suriname sampai kemudian Suriname merdeka dari Belanda pada tahun 1976, sebagian orang-orang Indonesia disana ada yan tetap tinggal di Suriname tapi ada juga yang kemudian memutuskan untuk pindah ke Belanda.
Saat kemarin saya melihat pameran photo dengan tajuk: “Migrasi Warisan Budaya: Cerita-Cerita Orang Jawa di Suriname, Indonesia dan Negeri Belanda”, saya seperti dibawa dalam sebuah dunia tersendiri. Menyelami photo demi photo yang berkisah bagaimana kultur / budaya Jawa masih demikian erat melekat dikalangan orang-orang Jawa di Suriname.
Proses pernikahan yang masih menggunakan rias paes ala Jawa dan tradisi gendongan, mangku, dahar suap semua dilakukan sesuai dengan budaya Jawa yang berlaku dari dulu sampai sekarang yang tentunya tidak berubah.
Proses upacara Tujuh Bulanan pun demikian adanya, mulai dari memandikan sang ibu yang lagi hamil tujuh bulan sampai dengan berganti kain dan memecahkan kelapa dengan golok sebagai tanda pecah pamor pun dilakukan persis layaknya di Indonesia.
Semua upacara tradisi Jawa yang berlaku selama masa hidup sampai dengan meninggal pun oleh orang-orang Indonesia yang tinggal di Suriname tidak alpa dilakukan. Memandikan jenazah dan kemudian mengkafani-nya serta menguburkannya dilakukan sama.
Matte Soemopawiro, sang photographer, dalam photo-photo yang diambil olehnya bercerita dengan jelas dan kita seolah-olah dibawa masuk dalam satu ruang tersendiri. Angle yang diambil oleh sang photographer ini mampu untuk menunjukan bahwa sang photographer memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menanti momen yang menurutnya momen-momen menarik itu hanya terjadi sekali saja dan tidak bisa diulang.
Melihat nama yang disandangnya sang photographer ini tentunya berdarah Jawa walaupun lahir di Suriname dan kemudian pindah ke Negeri Belanda namun setidaknya kultur / budaya Jawa yang beliau miliki tentunya ini yang mengintrik beliau untuk mengabadikan setiap momen berharga tersebut.
Banyak sekali cerita yang sebenarnya bisa digali lebih banyak dari sejarah perjuangan bangsa ini. Bagaimana kemudian orang-orang Indonesia yang kemudian pindah ke Suriname berjuang untuk terus hidup dan akhirnya mampu menjadi sukses, ada dalam rangkaian cerita sang photographer di pameran ini.
Entah kenapa ketika saya meninggalkan ruangan pameran, masih terbayang-bayang semua photo-photo tersebut yang bercerita secara banyak. Kedutaan Besar Suriname di Indonesia pun meminjamkan beberapa koleksi photonya yang berharga yang memperlihatkan orang-orang Indonesia yang baru saja turun dari kapal tiba di Suriname. Perjalanan selama kurang lebih tiga bulan tentunya membuahkan hasil yang mana mereka kemudian menjadi sangat akrab. Bahkan ada satu perjanjian unik tidak tertulis diantara orang-orang Indonesia di Suriname bahwa dilarang menikah dengan anak cucu orang sekapal atau satu kerabat. Jadi orang sekapal yang dibawa ke Suriname itu sudah dianggap bersaudara dan anak cucunya dilarang saling menikah. Bagaimana implementasi sebuah aturan yang tidak tertulis itu? Tentunya mereka-merekalah yang tahu
Jika memang anda punya minat besar pada perjalanan sejarah Indonesia di masa penjajahan Belanda dan segala halnya, saya pikir belum lengkap jika anda tidak datang ke Erasmus Huis untuk melihat pameran ini. Pameran ini berlangsung sampai dengan tanggal 18 Februari 2011.
Gending Jawa yang mengiringi setiap langkah anda berpindah dari satu photo ke photo lain merupakan sebuah sentuhan halus akan arti sebuah budaya yang tak hilang lekang oleh ingatan.
Semoga semakin banyak saja pameran-pameran seperti ini yang ditumbuh kembangkan tidak hanya oleh pusat budaya asing tapi juga oleh galeri-galeri lain di Jakarta khususnya dan di Indonesia pada umumnya.
Sampai jumpa pada event berikut
Sumber:
Website Erasmus Huis
Wikipedia
Sunday, January 30, 2011
PENGGEMAR - Sebuah Cerita Cinta Dalam Kata
Galau adalah kata yang tepat saat ini. Cuaca ibukota yang kerap kali hujan dan tidak menentu seolah menadi suatu dukungan atas apa yang dirasa oleh hati yang berkaitan dengan emosi, keijiwaan dan pemikiran akan cinta.
Saya baru menyadari malam ini ketika ada beberapa hal yang mengusik pemikiran saya dan semua berkaitan dengan urusan hati, secara personal maupun juga berkaitan dengan teman-teman saya yang entah kenapa banyak sekali membagi pengalamannya secara tidak langsung dan kemudian mendiskusikannya secara terbuka dan santai tanpa ada pretensi apa pun.
Dua minggu lalu ketika saya mengudara di salah satu radio di ibukota dengan beberapa teman baik saya, entah kenapa malam itu kami sepakat untuk mengambil topik yang berkaitan dengan kata penggemar. Sebuah pertanyaan sederhana muncul saat itu, "jika anda dating dengan seseorang dan ternyata anda menyadari bahwa dating anda tersebut adalah tipikal orang yang hobi mengumpulkan penggemar, bagaimana anda menyikapinya?"
Seorang teman baik ketika ditanya menjawab bahwa dia memutuskan untuk mundur seandainya dia mengetahui bahwa dating-nya adalah tipikal orang yang hobi mengumpulkan penggemar. Buat apa diteruskan karena bagaimana pun kita tetap akan menjadi "second layer" atau "third layer" karena kita tidak akan pernah menjadi prioritas.
Yang lain bilang bahwa tergantung pada yang menjadi pertimbangan. Atas nama cinta dan konsekuensi yang jelas-jelas sudah dimengerti bahwa dating dengan tipikal orang yang hobi mengumpulkan penggemar adalah pilihan sehingga tentunya rasa kesal, cemburu dan sakit hati atau apa pun itu yang tidak menyenangkan sudah menjadi bagian yang tidak bisa diganggu gugat tapi juga tidak bisa dipertanyakan secara lebih jauh. Batasan ada tapi sangat tidak adil dan tentunya tidak jelas.
Topik menjadi semakin menarik ketika seorang perempuan yang bernama Maya kemudian menelpon dan ketika ditanya bagaimana rasanya jika orang yang dia lagi dating ternyata mempunyai hobi mengumpulkan penggemar. Dan ternyata Maya ini adalah tipikal orang yang hobi mengumpulkan penggemar. Dia bilang tidak ada yang salah dengan itu, dia bilang bahwa dia mengumpulkan penggemar itu karena dia ingin mengambil hasil positif dari semua penggemarnya. Positif disini adalah pintar, berpengetahuan luas, punya wawasan yang cukup, tidak lemot, tidak memalukan, bisa diajak bicara apa saja.
Dari hasil diskusi dan bincang-bincang pada malam itu tampaknya terlihat bahwa ketika kita dating dengan orang seperti itu, kita harus bisa melihat dari dua sisi. Sisi orang tesebut dan sisi kita. Kita harus bisa memilah dan kemudian mengkaji dan berusaha mengerti apakah ini semua bisa berjalan sesuai harapan. Percayalah! bukan hal yang mudah untuk dilakukan tapi juga tidak ada ruginya untuk dicoba. Pilihan ada di anda.
Ketika siaran usai dan saya masih terus memikirkan hal ini. Kadang saya berpikir apakah saya yang terlalu naif atau mungkin juga hati yang tidak bisa membohongi bahwa rasa itu ada?
Taruhlah begini,
Saya dating dengan seseorang yang ternyata punya hobi untuk mengumpulkan banyak penggemar. Seperti disebut diatas, atas nama cinta dan rasa, saya untuk waktu tertentu memilih tentunya menjalani hal tersebut dengan kesadaran akan konsekuensi yang pastinya saya rasa. Tapi seberapa lama hal itu akan bertahan?
Menyadari banyak hal kemudian saya akhirnya memutuskan untuk berhenti. Orang yang hobi mengumpulkan penggemar adalah orang yang memegang kendali tentunya, dia yang akan mengkontrol semuanya, alur cerita, jalannya permainan bahkan mungkin akhir dari cerita tersebut. Sebelum berakhir dengan getir dan pahit, saya pikir saya masih punya kesadaran penuh untuk berhenti.
Rasa sakit, kecewa, pahit dan getir pasti ada. Bohong seandainya dikatakan tidak ada. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya dan berekonsiliasi dengan diri kita sendiri sebelum akhirnya melangkah lagi tanpa harus menoleh ke belakang.
Ah, jelang subuh selalu membuat saya meracau banyak hal tak penting, cukup sudah curahan hati colongan kali ini. Masih ada beberapa cerita lain, pastinya akan saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Bagaimana pun mengeluarkan apa yang menjadi beban akan membuat hidup lebih ringan dan bisa melihat situasi menjadi lebih baik.
Peraduan hangat tampak sudah memanggil. Gemericik suara hujan di subuh ini seolah membuai diri terkantuk.
Selamat tidur!
Friday, September 03, 2010
TIGA - Sebuah Pemikiran Sederhana akan Tiga Hal
Sepulang dari premiere film Darah Garuda – Merah Putih II, yang mana undangannya pun didapat karena minta dan bukan karena diundang, tiba-tiba saya merasa bahwa ada tiga hal yang entah kok jadi menganggu pemikiran saya. Mungkin tiga hal sederhana dan tidak semuanya buruk.
Pertama adalah pembangunan Gedung MPR / DPR yang katanya bakalan menghabiskan dana triliunan rupiah dan gedung tersebut pun akan dibangun 36 lantai dengan fasilitas tampaknya seperti hotel bintang lima plus fasilitas spa pula didalamnya, sangat hits sekali yaa para wakil rakyat kita ini.
Keadaan ini sungguh berbanding terbalik dengan dunia pendidikan
Kalau saja dana pembangunan gedung tersebut dialihkan kepada sektoral-sektoral yang kiranya significant bisa membantu kemaslahatan orang banyak, pastinya banyak pihak yang akan membantu, memberikan aspirasi dan memberikan rasa penghargaan tinimbang dijadikan bahan hujatan, celaan dan hinaan semata. Mungkin memang mentalitas yang ada di gedung itu haus akan hujatan daripada pujian atau penghargaan ? Wallahualam!
Ketika banjir menjadi permasalahan yang kerap datang setiap lima tahun sekali, ketika bencana alam menjadi hal yang sangat dramatis dan butuh dibantu, ketika Indonesia bagian timur seolah tertinggal jauh (walaupun ada Menteri Percepatan Pembangunan Wilayah Timur Indonesia), ketika dan ketika dan ketika, itu semua hilang lenyap tak ada jejak dan menjadi bahan – bahan yang tak perlu dibahas, ditelaah, diteliti.
Apakah gedung 36 lantai itu nantinya seperti layaknya hotel bintang
Kedua adalah film Darah Garuda yang baru saja saya tonton beberapa jam yang lalu. Sebuah film trilogy yang sekarang memasuki bagian kedua. Film ini sangatlah nasionalis sekali. Dari judulnya pun kita mengetahui bahwa film ini bercerita tentang sejarah perjalanan bangsa dari beberapa saat sebelum kemerdekaan dan memasuki bagian kedua adalah menjelang atau saat agresi militer Belanda ke I seputaran tahun 1947. Bagian cerita yang buat saya pribadi sedikit mendetail adalah bahwa kisah Darah Garuda ini diambil dari akibat gagalnya Perjanjian Linggajati dan semua aksi ini ada dibawah komando Van Mook. Beberapa hal yang menarik dari premiere film ini adalah kata sambutan yang diberikan oleh Executive Producer Hashim Djojohadikusumo yang merupakan putra dari Begawan Ekonomi Indonesia Sumitro Djojohadikusumo dan juga saudara kandung dari Prabowo Subianto terkesan sangat nasionalis, saya seperti sedang menghadiri sebuah rapat akbar sebuah partai. Acara premiere ini pun dihibur oleh paduan suara yang saya lupa namanya yang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam 3 stanzah yang berbeda yang hanya digunakan pada saat masa-masa lagu ini baru tercipta dan diperdengarkan pertama kalinya pada Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Pertanyaan saya, kenapa harus dua bait yang tak pernah lagi dinyanyikan harus sekarang dinyanyikan kembali ? Kalau jawabannya adalah untuk menggelitik rasa kebangsaan dan juga rasa nasionalisme, well, saya tersentuh dan sempat meneteskan air mata pada bait yang tak lagi pernah diperdengarkan:
Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N'jaga ibu sejati.
Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
S'lamatlah rakyatnya,
S'lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg'rinya,
Majulah pandunya,
Untuk
Boleh bilang saya cengeng atau mungkin sentimentil namun demikian adanya bahwa saya tersentuh akan baik yang mengatakan kita berjanji untuk menjaga
Dalam film ini juga yang membuat saya tercengang adalah ketika di layar lebar tersebut ditulis: Written by … dan …, saya lupa dua nama tersebut namun yang saya ingat adalah dua nama itu adalah bukan nama orang
Untuk ukuran sebuah premiere film, Darah Garuda beruntung memiliki produser yang mungkin kuat. Gemebyarnya premiere sangat terasa. Acara yang dikemas buat saya sempurna. Mudah-mudahan generasi penerus mau menonton film ini tinimbang mencari-cari film Piranha yang dicekal entah kenapa. Mudah-mudahan generasi penerus ketika kemudian melihat film ini bisa mengerti lebih jauh makna dari perjuangan para pahlawan bangsanya membebaskan ibu pertiwi dari tangan penjajahan sehingga mereka sekarang bisa menikmati hidup tanpa harus bersusah payah berjuang hanya sekedar untuk merasakan apa yang dinamakan merdeka. Selamat buat Darah Garuda, saya sudah berjanji pada ponakan-ponakan saya semua untuk menonton film ini bersama – sama nanti pada saat Lebaran.
Hal terakhir yang menganggu adalah ketika membaca sebuah artikel di facebook milik seorang sahabat, Ibnu Rizal, artikel itu berjudul Candi Borobudur Akan Digugat ke Mahkamah Konstitusi.
Saya pikir ini permasalahan baru tentang keberadaan atau apalah yang berhubungan dengan Candi kebanggaan
Hal lain yang membuat saya kemudian juga terhenyak dan terkaget-kaget adalah semua ini didasari atas Matematika Islam. Seumur hidup saya baru kali ini saya mendengar kata Matematika Islam. Apakah ini sebuah ilmu baru ? atau ilmu jaman dulu yang baru ditemukan kembali dan coba diterapkan ? atau apa ? Buat saya matematika adalah satu ditambah satu sama dengan dua, lalu di Matematika Islam satu ditambah satu menjadi berapa ? empat ?
Mungkin nantinya dengan Matematika Islam akan ditemukan satu penemuan baru bahwa sesungguhnya Candi Prambanan adalah tempat Nabi Muhammad melakuan Isra Mi’raj. Wallahualam!
Kicauan burung semakin ramai bersahut-sahutan, inginnya meracau terus tapi saya pikir saya berhenti saja dulu disini. Besok, lusa atau minggu depan jika ada lagi pikiran-pikiran yang menganggu , insya ALLAH saya akan tuangkan dalam bentuk tulisan.
Pamit dulu. Selamat berpuasa!
Sunday, August 15, 2010
Rasa Syukur
Mungkin saya termasuk orang yang iri kepada orang-orang itu tapi terkadang saya bersyukur bahwa saya masih diberi cobaan, itu berarti Tuhan masih sayang sama saya :-)
Monday, June 21, 2010
Catatan Harian - Sebuah Penggalan Kekesalan
Sudah semenjak di rumah sebelum ini gue banyak sekali yang ingin gue omongin sama dia tapi gue tunda karena gue pikir yaa namanya manusia dewasa yang boleh dikatakan beranjak tua sepatutnya akan kembali pada pemikirannya yang dewasa dan ternyata gue salah!
Masalahnya mungkin masalah sepele atau masalah kecil yang seperti dia bilang tapi terkadang hal itu sangat menganggu. Well, hal kecil kalau dilakukan terus menerus yaa lama-lama juga menganggu pandangan mata, menganggu pemikiran, menganggu mentalitas dan juga kualitas pertemanan mungkin. Gue sudah berusaha mentolerir sebisa mungkin tapi yaa mau diapakan lagi, memang udah kadarnya segitu yaa segitu aja!
Rumah ini milik bersama dan kita semua tinggal bersama disini dengan berbagai macam aktifitas yang dilakukan oleh masing-masing yang tinggal di rumah ini. Gue sendiri lebih banyak dirumah dan gue sendiri lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah karena memang saat ini gue nganggur, gue hanya bertumpu pada pekerjaan freelance atau mengerjakan bahan-bahan milik komunitas / perkumpulan. Dia juga sama, sekarang ini statusnya pengangguran dan hanya mengerjakan pekerjaan freelance atau mengerjakan pekerjaan perkumpulan yang menjadi tanggung jawabnya.
Herannya kenapa gue ngerasa dia sama sekali ngga punya rasa memiliki dalam dirinya. Gue selalu beranggapan dia selalu memberlakukan dirinya sebagai tuan atau pun seorang yang memang diminta tinggal disini dan tidak diminta untuk mengerjakan apa pun. Istilah kasarnya adalah juragan. Tidur lebih lambat daripada gue dan bangun tentunya lebih siang daripada gue. For me that's fine, but do me a favour by helping me out with all those home's issues.
Apa sich susahnya bangun tidur liat mesin cuci dan kemudian menjemur pakaian yang ada disana ? Apa susah yaa untuk mengambil jemuran yang kering dan kemudian melipat-lipatnya menjadi satu tumpukan yang rapih dan kemudian nanti bisa dibagikan kepada masing-masing orang pemilik baju bersih itu ? Apa susah yaa untuk melihat kamar mandi dan memperhatikan bahwa sudah waktunya untuk disikat, dibersihkan dan diganti airnya ? Apa susah untuk melihat berapa banyak Aqua yang ada dan harus pesan berapa supaya tidak kekurangan ? Dan apa susah banyak lagi yang kalau ditulis satu demi satu hanya akan membuat kepala tambah pusing.
Hidup tak melulu hanya urusan seks dan juga laki gue rasa! Masih banyak hal lain yang perlu dikerjakan dan diperhatikan.
Gue jadi inget film tentang TKW di Hong Kong yang dibuat oleh Lola Amaria beberapa waktu lalu. Film "Minggu Pagi di Victoria Park", kalo karakterisasi dalam film itu, gue adalah Mayang yang selalu ada dalam bayang-bayang adiknya, Sekar. Sekar lebih cantik, lebih pintar, banyak yang suka dan hal-hal lain. Sama halnya dengan disini, gue adalah Mayang, kakak Sekar yang hidup dalam bayang-bayang adiknya.
Well, gue sendiri mungkin udah ngga tau lagi mesti ngomong apa! Satu-satunya cara yang bisa gue lakukan sekarang adalah gue menulis, menumpahkan semua kekesalan gue dan menimbunnya sehingga ngga akan pernah lagi terdengar. Gue hanya cape dan gue butuh dia ngerti bahwa di rumah ini dia itu statusnya sama dengan gue. MENUMPANG!
Jakarta, Senin, 21 Juni 2010
03.54 wib
Rumah Syenang II
Monday, May 31, 2010
PERNYATAAN SIKAP FORUM LGBTIQ INDONESIA
Pembatalan Konferensi ILGA ASIA di Surabaya, 26 – 28 Maret 2010
Pada 26 – 28 Maret 2010 Lesbian, gay, biseksual, transgender/transeksual, interseks, dan queer (LGBTIQ) di Asia sepakat menyelenggarakan Konferensi ILGA ASIA ke 4 di Surabaya dengan tema “LGBTIQ Moving Forward.” Kegiatan ini membahas strategi gerakan dalam mempromosikan dan memajukan hak asasi manusia LGBTIQ kepada publik. Kegiatan ini direncanakan di Hotel Mercure Jl. Raya Darmo, Surabaya. Satu hari sebelum kegiatan dilangsungkan Forum Umat Islam (FUI) menolak. Penolakan meluas dengan pernyataan dari Kementerian Agama, Ketua DPR RI, Wakil Walikota Surabaya, dan Majelis Ulama Indonesia turut memperuncing situasi.
Pihak Kepolisian yang seharusnya memberikan jaminan perlindungan justru melakukan pembiaran terhadap tindakan tersebut. Bahkan beberapa pihak yang mengatasnamakan kepolisian memanfaatkan situasi dengan menekan panitia penyelenggara agar memberikan uang. Demi keamanan, panitia memindahkan acara tersebut ke Hotel Oval Surabaya secara rahasia. Namun akhirnya lokasi acara tersebut diketahui. FUI mendatangi Hotel Oval Surabaya pada Jumat, 27 Maret 2010, pukul 13.30 WIB melakukan tindakan kekerasan yang membuat seluruh panitia serta peserta panik. Jika Kepolisian Republik Indonesia bertindak tegas memberikan efek jera pada pelaku kekerasan LGBTIQ, maka seharusnya kejadian penyerangan seminar hukum dan hak asasi manusia untuk waria di Depok pada Jumat, 30 April 2010 tidak perlu terjadi.
Penghentian konferensi dengan cara kekerasan ini sungguh melukai perasaan LGBTIQ yang bukan hanya berdampak terhadap organisasi dan gerakan LGBTIQ, namun juga individu LGBTIQ serta keluarganya secara meluas baik yang mengikuti konferensi maupun yang mendengar dan atau melihat melalui berita di koran, majalah, tabloid, radio, dan televisi. Seperti perasaan marah, sedih, kecewa, trauma, tertekan hingga kehilangan kepercayaan pada pihak kepolisian dan ketakutan untuk muncul di ruang publik. Bahkan banyak diantaranya mengalami persoalan psikologis dan sosial dengan dirinya sendiri, seperti tidak percaya diri, ragu-ragu dengan identitas gender dan seksualnya, takut untuk berkumpul, berorganisasi dan berada di dalam gerakan LGBT untuk memperjuangkan hak-hak seksualnya.
Berdasarkan pemaparan diatas maka dengan ini kami LGBTIQ Forum Indonesia yang beranggotakan organisasi dan individu LGBTIQ di seluruh Indonesia menyatakan:
1. Bahwa tuduhan LGBTIQ sebagai teroris moral dan perusak moral bangsa merupakan sikap diskriminatif dan telah melukai perasaan LGBTIQ sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
2. Bahwa tindakan kekerasan oleh FUI dengan mengatasnamakan agama dan moral bangsa di Konferensi ILGA Asia - Surabaya adalah tindakan melanggar Konstitusi Negara Republik Indonesia, yaitu:
a. Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945: Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.
b. Pasal 28 G ayat (1) UUD1945: Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
c. Pasal 28 I ayat (2) UUD 1945: Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
d. Pasal 28 F Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
e. Ketentuan Pasal 9 Kovenan Internasional tentang hak-hak sipil dan politik yang telah diratifikasi Indonesia melalui UU No. 12 Tahun 2005, bahwa setiap orang berhak atas kebebasan dan keamanan pribadi.
3. Bahwa pelarangan kegiatan berkumpul dan berserikat sebagai hak setiap warga negara adalah pelanggaran konstitusi sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Pasal 28 E butir ke tiga yang berbunyi: Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
4. Bahwa pernyataan Kementerian Agama RI akan menuntut inisiator Konferensi ILGA ASIA di Surabaya atas dasar penodaan agama dan kesusilaan, hal ini merupakan tindakan diskriminasi terhadap kelompok LGBTIQ.
5. Bahwa pembiaran oleh aparat Kepolisian Surabaya terhadap tindakan diskriminatif kepada LGBTIQ yang menghadiri konferensi ILGA Asia merupakan pelanggaran terhadap Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia No. 8 Tahun 2009 Tentang Implementasi Prinsip Dan Standar Hak Asasi Manusia Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
6. Bahwa sikap beberapa media massa lokal dan nasional tidak membuat pemberitaan berimbang terhadap LGBTIQ sehingga membangun opini negatif kepada masyarakat terhadap LGBTIQ merupakan tindakan diskriminatif.
Berdasarkan tindakan diatas kami meminta KOMNAS HAM dan KOMNAS Perempuan mendesak:
1. Kepolisian Republik Indonesia menindak tegas FUI sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku di Indonesia terkait kasus tindakan kekerasan kepada LGBTIQ dalam Konferensi ILGA Asia di Surabaya.
2. Kepolisian Republik Indonesia melakukan pengamanan untuk menghentikan berbagai tindakan kekerasan oleh kelompok masyarakat tertentu kepada LGBTIQ saat melakukan kegiatan berkumpul dan berserikat di seluruh Indonesia.
3. Pemerintah Republik Indonesia melarang setiap organisasi massa yang melakukan tindak kekerasan kepada warga negara.
4. Pemerintahan Republik Indonesia memberikan tindakan khusus sementara kepada LGBTIQ untuk mendapatkan jaminan dan perlindungan terkait hak-haknya sebagai warga negara.
5. Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia membuat surat teguran kepada media massa yang memberitakan LGBTIQ secara tidak berimbang.
Mengingat:
1. Keberagaman orientasi seksual dan identitas gender adalah bagian dari keberagaman masyarakat Indonesia sejak dulu dan bagian integral dari budaya Indonesia.
2. Hukum di Indonesia menganut prinsip non-discrimination dan equality tanpa terkecuali termasuk kepada kelompok LGBTIQ.
Jakarta, 6 Mei 2010
FORUM LGBTIQ INDONESIA
Thursday, April 08, 2010
Ijinkan
menguntai kehidupanku sekali lagi
mengulangi dari awal
menjalin rantai-rantai kebajikan
meninggalkan kebodohan-kebodohan
ijinkan aku untuk kembali
sekali ini saja ..
Thursday, October 08, 2009
Saturday, September 26, 2009
IDUL FITRI - Sebuah Cerita Sangat Pendek
Seperti biasa setiap Idul Fitri pastilah ada saja tamu yang datang ke rumah untuk bermaaf-maaf-an dan bersilaturahmi dengan Bunda. Beberapa ada teman lamanya yang datang.
Karena saya seorang putranya satu-satunya yang ada di rumah menemani beliau tentunya saat Bunda menerima tamu, saya pun menyiapkan minuman dan penganan Lebaran untuk para tetamu.
Alkisah datanglah seorang tante yang tentunya adalah kawan lama dari Bunda. Saat saya menyajikan minuman dan penganan tersebut di ruang tamu dan bersalaman dengan sang kawan lama ini, terjadilah percakapan kecil antara saya dengan tamu Bunda saya itu:
"Lhoo, ini mas yang di Kamboja ? Sudah balik ? Apa kabar ?"
-Baik, Tante.-
"Kapan nyusul mas-mas dan mbak-mbaknya ?"
-agak tercekat sesaat, .... Err, nanti tante kalau tante sudah menyusul om-
Dan muka Bunda pun berubah dan sang Tante pun tersenyum pahit dan saya berlalu ke belakang.
Anuuu .. eerrrrr ... Om yang merupakan suami sang Tante sudah lama RIP.
Begitu tamunya pulang, sang Bunda tercinta hanya geleng-geleng kepala dan ngomong dengan nada tajam:
"Je ben ereg no manieren zeg"