Tuesday, November 29, 2005

dan aku masih mencintaimu
walau sakit itu akan tetap ada
karena kutahu
aku sendiri ..

Wednesday, November 23, 2005

TAHUKAH ANDA ?

Gouverneurs Generaal van Netherlands Indie

Gouverneurs Generaal 2
GERARD REYNST ( 1614 - 1615)

Van Gerard Reynst (kadang disebut Gerrit Reynst) lahir di Amsterdam, Belanda, tanggal lahir dan tahunnya tidak diketahui. Pada tahun 1599, Reynst merupakan seorang saudagar dan pemilik kapal, dia juga merupakan pendiri (medeoprichter) dan komisaris dari perusahaan dagang Nieuwe of Brabantsche Compagnie. Perusahaan ini pada tahun 1601 beraliansi dengan perusahaan lain membentuk persatuan dagang Amsterdam (Verenigde Compagnie van Amsterdam), dan pada tahun 1602 membentuk Persatuan Dagang Hindia Timur (Verenigde Oostindische Compagnie - VOC). Berdasarkan keputusan dari para koleganya yang juga pemegang saham VOC (de Heren XVII), Reynst diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 20 Februari 1613. Pada tanggal 2 Juni 1613 berangkat dengan armada yang terdiri dari 9 kapal dan dikomandani oleh Steven van der Haghen, yang kemudian menjadi anggota Raad van Indie (Dewan Hindia).

Perjalanan yang ditempuh hingga mencapai pantai Banten cukup lama lebih dari 1 tahun. Pada tanggal 6 November 1614 Reynst mengambil alih kekuasaan VOC di Hindia Belanda dari Pieter Both, pada saat yang sama j uga Reynst mengirimkan armadanya ke Laut Merah untuk negosiasi dagang dengan Bangsa Arab.

Salah satu tugas yang diterima Reynst adalah mengangkat pendeta dan guru untuk bangsa Belanda yang tinggal di Banten, dan juga mencari tempat yang cocok untuk kegiatan tersebut. Penunjukkan pendeta dan guru saat itu memang diperlukan karena sebagian besar bangsa Belanda yang tinggal di Banten banyak yang menganggur dan tidak punya keterampilan, hal ini disebabkan kurangnya kontrol dari pusat. Reynst banyak menghabiskan waktunya di Maluku dan tinggal di kapal.

Peristiwa penting yang terjadi saat pemerintahan Reynst adalah pendudukan Pulau Ai di Kepulauan Banda untuk mengusir Inggris dan mengontrol monopoli pala di Pulau itu. Image hosted by Photobucket.com Reynst berangkat ke Pulau Ai dengan kekuatan sebanyak 900 orang tentara, jumlahnya dua kali lipat dari laki-laki yang ada di pulau itu. Pertempuran terjadi sepanjang malam, akhirnya Inggris melarikan diri dari pulau itu dengan sebelumnya melakukan bumi hangus terhadap ladang-ladang pala diseluruh pulau. Menyangka sudah mendapat kemenangan besar, tentara VOC menjadi lengah akibatnya esoknya tentara Reynst mendapat serangan hebat dari para penduduk Banda dengan menggunakan meriam, 200 tentara VOC tewas akibat serangan ini. Walaupun mendapat serangan hebat, Reynst akhirnya bisa menaklukkan Pulau Ai bahkan sampai ke Pulau Seram. Tahun 1615 dia kembali ke Banten, pada tahun yang sama Reynst membuat persetujuan dagang dengan Pangeran Indragiri, Riau.

Gubernur Jenderal Gerard Reynst adalah orang pertama yang mengusulkan perbudakan di tanah Hindia Belanda, tahun 1615 dia mengirimkan sejumlah besar orang Maluku, Ambon dan Banda untuk dikirim ke Banten dan Jayakarta. Alasannya adalah pekerjaan yang dilakukan oleh para budak lebih cepat dan ongkosnya sangat murah bila dibandingkan dengan para tentara dan pelaut VOC. Salah satu pekerjaan para budak ini adalah memperbaiki Fort Nassau dan membangun Fort Mauritius di Jayakarta, yang dimaksudkan untuk memperkuat VOC dari serangan Inggris, juga membuat gudang-gudang untuk tempat penyimpanan rempah-rempah yang dikirim dari Maluku.

Dikarenakan terserang disentri, Gerard Reynst meninggalkan Banten menuju Jayakarta dan meninggal dunia pada tanggal 7 Desember 1615 di dalam benteng Nassau, Jayakarta, Reynst dimakamkan di Portugese Buitenkerk - Gereja Portugis di luar benteng (tidak jelas disebutkan apakah yang dimaksud Gereja Portugis itu adalha gereja Sion sekarang karena gereja ini baru berdiri tahun 1693, atau Gereja Portugis yang ada dalam benteng - yang sampai abad 19 masih berdiri).

Pengganti Gerard Reynst adalah Laurens Reael.

*disarikan dari berbagai sumber dan dirangkum oleh Hatmanto Sri Nugroho*

Sunday, November 20, 2005

PARTISIPASI 3

Sore jam tiga, sekretaris Athan datang ke Wisma, bersama-sama dia menyusun redaksi untuk MC pada acara malam. Semenjak datang pertama kali dan bekerja di KBRI, setelah membawakan satu acara, kalau tidak salah waktu itu adalah acara serah terima jabatan, saya selalu diminta untuk jadi MC, mungkin karena efek rokok sehingga suara saya terdengar empuk dan renyah (ehm .. boleh dong muji-muji diri sendiri sesekali ... *atau udah keseringan yaa ?*) ditambah lagi dengan aksen Jawa yang sangat 'cetho' jadi nuansa Indonesianya terlihat jelas di setiap acara yang saya bawakan .. (bohong bangeeeeeeetttssssss ..... !!!).

So, setelah selesai dengan urusan naskah menaskah untuk MC, saya ke spa sebentar (teuteup .. mencuri kesempatan dalam kesempitan). Pulang dari spa segera bersiap dan setelah itu langsung meluncur ke KBRI.

Acara belum dimulai ketika saya datang. Menyapa kiri dan kanan, lalu menghampiri sekretaris Athan yang malam itu ditunjuk sebagai MC ( ... "jadi Aga, waktu kamu sms, saya lagi back up MC yang baru pertama kali turun ke lapangan" ... ). Selesai rangkaian acara resmi, maka .. again .. jamuan makan malam dimulai dengan hidangan utama .. anak sapi guling ... *dagingnya aloooooottttt buangggeetttsss ....*.

Saat saya lagi menikmati makan malam, tiba-tiba duduk seseorang dari Pas Pam PM .., ..

Body Guard : "So, are you the one who also played volley this morning ?"

Hary : "Mmmm, yeah. Why ?"

BG : "I remember you"

H : *duuh mudah-mudahan bukan karena jeritan ala pom-pom yang selalu saya kumandangkan*

H : "You did ?"

BG : "Yeah, you were sitting beside me when we had lunch this afternoon"

H : "I am ?"

BG : "Yes. I wanted to talk to you when we ate but seemed you were so silent"

DOOOOOOOOHHHHH .. bencoooooooooooonnnngggg ... !!! *melengking dalam hati dengan gaya D├ęsy* ... kenapa atuh Akang tidak ngomong sama sayah tadi ? ... tahu akang bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar serta lancar pula pun .... gubraks .. gubraks ... gubraks ...

H : *speechless and smiling*

BG : "Why are you smiling ? ... something wrong ?"

H : "Oh No .. I felt like I just hit by a bus"... *mulailah berhiperbola ria*

BG : "Because you thought that I can't speak English ?"

H : *mengangguk malu-malu*

BG : "I see. It's 0kay. It's nice to meet you. If you ever have a problem in Cambodia during your stay, do let me know, I know some guys who can handle things"

H : *mengangguk kembali ... tentunya yaaaa secara situ kan body guardnya His Excellency Samdech Hun Sen*

Setelah makan malam, acara berlanjut dengan hiburan karaoke ... dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia, Inggris dan Khmer. Sesekali diselingi dengan tarian rakyat Khmer yang ditarikan bersama-sama oleh para hadirin yang hadir.

Image hosted by Photobucket.com Again, sebagai banci tampil yang ngga bisa lihat mike nganggur .., saya memberanikan diri (bohong .. padahal mah mengajukan diri tepatnya!) untuk menyanyikan lagu andalan Truly dan beberapa lagu lainnya yang tentunya lagu-lagu era Golden Girls ... .

Acara usai pukul 10 malam dan setelah merokok sebentar, saya naik ke atas karena Om Dubes sedang bekerja dan saya harus menungguinya.

Tahukah anda kebodohan yang terjadi pada malam tadi ? ...

Saya lupa namanya siapa Kang Body Guard itu *duuhh kenapa sich bahasa Khmer harus selalu membelitkan lidah jika ingin diucapkan ?* dan saya lupa nomer telpon yang diberi olehnya ... hwaaaaaaaaaaaaaa .... tadi waktu diberi sok sok ingat ... padahal sudah S2 gini masih aja ngejago .. *sampun sepuh maksudnya* ...

Saya cuman berharap bahwa dia akan sms atau telpon saya. Lhooooo ... kok ngarep ? ..

Partisipasi saya kali ini cukup menyenangkan, juara 3 voli dan dapat hadiah kaos Lacoste.

Saturday, November 19, 2005

PARTISIPASI 2

Untuk saya pribadi, saya terakhir kali bermain bola voli ketika masih menjadi anggota sebuah klub remaja di kompleks di Bandung which it was looooonnnnggg time ago. Setelah dua dekade, barulah kali ini bermain voli kembali. Tim KBRI pertama bermain melawan tim dari Pas Pam PM, dengan disemangati oleh Atase Pertahanan (Athan) RI, kami semua bermain dengan bebas, ngga ada yang namanya trik dan strategi, yang penting bisa menahan smes, bisa membalas smes dan bisa mengoper bola langsung ke kubu lawan. Babak pertama kalah dengan skor 25 melawan 15. Saya .. ehm .. bermain di babak kedua, itu pun dikarenakan sudah memakai seragam dan the one and only person yang belum main.

Masuk ke lapangan dengan penuh percaya diri, saya ditempatkan di posisi tengah dan I hate this position karena pasti selalu dapat bola entah itu dari serve-nya lawan atau dari hasil smes lawan. Namun dengan semangat 45 (sesuai dengan tema pertandingan dalam rangka memperingati HUT TNI ke 60), saya menabahkan diri untuk menerima setiap bola yang masuk dan memukul balik sesuai dengan kemampuan saya dan tentunya dengan dibarengin oleh suara teriakan yang ternyata dari mulut saya sendiri.

Dan yang lebih parah lagi adalah pertandingan ini ternyata diliput oleh stasiun tv lokal untuk disiarkan :-( ... and saya baru menyadarinya ketika setelah main dan duduk dipinggir lapangan sambil beristirahat dan menjadi tim penyemangat ... *duuuhh ngga kebayang nanti di tv dengan gaya pemain voli yang acap kali memukul bola sambil menjerit ala para petugas pom-pom*.

Image hosted by Photobucket.com Menjelang jam makan siang, permainan berakhir dengan Tim KBRI menduduki juara 3 dari tiga tim yang bertanding .. hahahaha. Selesai acara penutupan dilanjutkan dengan makan siang bersama dan sebagai banci sensitif dengan segala bau dan dikarenakan duduknya harus berbaur, maka duduklah saya diantara para pemain dari Pas Pam PM dan Para Komando dengan sejuta enambelas bau yang .. ehm ... cukup membuat anda semua untuk ingin segera beranjak dari tempat makan tersebut. Kembali pidato bergiliran, saling ucap terima kasih, saling puji kekuatan lawan dan saling saling lainnya .. baru kemudian dilanjut dengan makan bersama.

Entah mungkin penampilan yang kurang meyakinkan dan juga saya sendiri masih pasif berkomunikasi dengan bahasa Khmer, sepanjang makan siang berjalan, saya hanya senyum kiri-kanan dan tidak bicara sepatah pun.

Usai makan siang, kami semua kembali ke KBRI untuk bersiap-siap acara malamnya yaitu Malam Syukuran HUT TNI ke 60 di KBRI Phnom Penh.

PARTISIPASI 1

Waktu dulu pertama kali mengambil kerja sebagai Diplomatic Slave ini, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan mengikuti banyak kegiatan layaknya orang-orang yang bekerja di pemerintahan. Acap kali kegiatan pastinya diakhiri dengan entah itu jamuan makan siang, jamuan makan malam, coffee time, afternoon tea atau cocktail party atau breakfast meeting. Well, itulah yang kemudian membuat berat badan saya melambung tinggi dalam jangka waktu satu tahun :-).

Seperti halnya hari ini, .. bangun pagi pukul tujuh kurang seperempat dan dengan kepala pusing karena tidur tidak nyenyak (saya baru pindah kamar dan masih belum familiar dengan kamar baru), saya bergegas mandi, pakai kostum seragam yang sudah ditentukan, turun kebawah, menyeruput kopi (pokoknya bangun tidur harus ada kopi otherwise seharian bisa pusing, mungkin ini efek dari addicted to caffeine kali yaa) dan segera ke depan Wisma menunggu jemputan. Iyaaa .. betul sekali ... hari ini saya termasuk salah satu anggota pemain VOLLEY.

Dijemput tepat pukul 07.15 dan langsung menuju ke markas Para Komando Brigade 911. Hari ini tim KBRI akan bertanding melawan tim Para Komando dari Brigadi 911 dan Pas Pam PM. Ehm, tadinya kita satu tim agak sedikit optimis mengingat dalam pertandingan sebelumnya tim KBRI memenangkan juara 1.

Image hosted by Photobucket.com Ternyata harapan tinggal harapan. Ketika kita datang, seperti biasa disambut dengan upacara pembukaan dan so on dan so on (orang Khmer hobi sekali dengan yang namanya pidato) lalu dimulailah pertandingan pertama antara Tim Pas Pam PM dan Tim Para Komando Brigade 911.

Pada awal permainan kami semua masih semangat memperhatikan jalannya pertandingan namun ketika sudah pertengahan set pertama (sistem yang dianut adalah seperti tenis meja, jadi skornya 25 dan tidak ada pindah bola), barulah satu persatu meringis dan mulai merasakan gejala dari panic syndrome, sakit perut tak menentu, mulas yang datang dan pergi tanpa permisi dan mulai saling tunjuk siapa main pertama dan kedua. Hal ini semua disebabkan oleh tim Pas Pam PM dan tim Para Komando Brigade 911 adalah para pemain voli yang ahli dalam tik dan strategi serta bertubuh tinggi besar. Dengan sejuta seribu alasan, satu persatu tim KBRI pergi dari arena pertandingan. Ada yang pemanasan, ada yang cari makan, ada yang tetap duduk di bangku penonton karena mengagumi para tentara dan body guard tersebut bermain, ada yang asyik sms-an dan ada yang pura-pura ingin ke toilet dan baru kembali setelah permainan tim KBRI dan tim Pas Pam PM bermain babak kedua (bisa dibayangkan berapa lama perginya .. hihihihi).
I do want to meet you
please give me one more chance .. .

Friday, November 18, 2005

TAHUKAH ANDA ?

Gouverneurs Generaal van Netherlands Indie

PIETER BOTH (1609 - 1614)

Tanggal lahir bahkan tahun kelahiran dari Pieter Both tidak diketahui pasti (sekitar tahun 1568 ?), tetapi yang jelas beliau lahir di kota kecil Amersfoot. Masa kecil Pieter Both juga tidak diketahui. Yang diketahui pasti adalah dia berdagang di Italia dan mempunyai perusahaan disana. Perjalanan pertama Pieter Both yang diketahui dilakukan pada tahun 1599 dengan empat kapa mewakili perusahaan Nieuwe of Brabantsche Comapngnie dari Amsterdam menuju Indonesia. Dia kembali pada tahun 1601 degan dua kapa yang penuh muatan.

Tidak lama setelah pulang berlayar, para pedagang yang bergabung dalam Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) meminta dia untuk tinggal di Hindia Belanda sebagai Gubernur Jenderal merangkap juga sebagai Konsul Dagang, dengan tujuan untuk mengorganisasi kebutuhan perusahaan menjadi lebih baik. Akhirnya pada tahun 1609 Pieter Both menjadi Gubernur Jenderal Pertama VOC di Hindia Belanda (Indonesia). Mengapa para pedagang tersebut memilih Pieter Both tidaklah jelas, yang pasti pada tahun 1610 Both berlayar dengan armada yang terdiri dari 8 kapal, dan sepuluh bulan kemudian, pada tanggal 19 Desember 1610 mendarat di Banten, Jawa Barat.

Image hosted by Photobucket.com

Tugas pertama Both adalah mencari tempat yang cocok untuk berlabuhnya kapal dan juga lokasi yang bakal menjadi pusat pemerintahan VOC. Tugas selanjutnya adalah mngatasi korupsi yang selama ini dilakukan oleh para pedagang VOC dan memastikan monopoli rempah-rempah di Maluku jatuh ke tangan VOC. Akhirnya Both menjadikan Maluku sebagai pusat perdagangan, sementara untuk kantor dan pelayanan administrasi dipusatkan di Jawa. Alasannya adalah persediaan pangan lebih melimpah di Jawa dibandingkan di Maluku. Sejarah membuktikan bahwa memang akhirnya pulau Jawa mempunyai kedudukan yang strategis selama penjajahan Belanda di Indonesia. Both membangun sebuah kantor di kota Jayakarta, kemudian menjalin kontrak dengan raja-raja Maluku, membuat perjanjian dengan Timor yang saat itu sudah dijajah Portugis dan menaklukan Tidore.

Pieter Both berhenti menjadi Gubernur Jenderal dan digantikan oleh Gerard Reynst pada tanggal 6 November 1614. Tanggal 2 Januari 1615 dengan menaiki kapal "Banda"sebagai kapal komando, Both meninggalkan Banten dengan armada yang terdiri dari empat kapal membawa muatan senilai 4.5 juta Gulden, tetapi Both tidak pernah sampai tujuan. Pada tanggal 6 Maret 1615 kapalnya karam diterjang badai di lepas pantai Mauritius, Both berusaha mencapai pantai tetapi akhirnya tewas sebelum mendarat di pantai. Untuk mengenang namanya, sampai sekarang nama Pieter Both dipakai sebagai nama salah satu dataran tinggi di Mauritius dengan nama Pieter Bothberg.

Disarikan dari berbagai sumber dan dirangkum oleh Hatmanto Sri Nugroho.

Wednesday, November 16, 2005

KALKULATIF

Entah hari ini tiba-tiba aja inget dengan pengalaman sekitar dua tahun yang lalu, pada saat itu I was unemployee, beneran jobless less less yang pekerjaan hanya bergantung kepada event-event yang berkenan hiring me as their Floor Director or Artist Coordinator.

Pada saat itu saya lagi berhubungan katakanlah dengan A. Kita bertemu dalam satu kesempatan biro iklan melalui internet (duuhhh … you can see how desperate I am), setelah melalui beberapa periode kirim-kiriman pesan dan kemudian bertukar nomer handphone lalu saling kirim sms akhirnya diputuskan untuk bertemu.

Pada dasarnya dia orang baik, masih muda dan penuh dengan pemikiran-pemikiran yang terkadang pun membuat saya amazed dengan segala pertanyaannya. Dia masih berstatus mahasiswa dan sedang giat-giatnya belajar pada waktu itu. Anyway, kemudian setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya diputuskan bahwa kita menjalin hubungan (cieee bahasanya … ngga kuat!). Segala sesuatu berjalan cukup lancar pada awalnya … PADA AWALNYA .. dan kemudian terjadilah tragedi yang membuat semuanya buyar dan akhirnya mengembalikan saya pada posisi bahwa tidak lagi mau percaya pada diri sendiri tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan, saya hanya ingin menceritakan tentang sesuatu yang selalu membuat saya tersenyum dan bersyukur atas apa yang ada pada diri saya sekarang ini.

Dia meninggalkan saya tanpa memberitahu sebab musababnya, itu pun saya tahu dari sahabat terbaik saya yang kebetulan saat itu melihatnya dan bertanya padanya … jadi ceritanya begini :

Suatu sore di salah satu Plaza di bilangan Jakarta Selatan, rencananya saya dan sobat terbaik saya itu ingin minum teh berhubung memang kondisi keuangan sangat mencekik dan akhirnya kita harus berhemat tapi tanpa mengurangi rasa ingin ketawa bareng-bareng dan saling tukar cerita, akhirnya kita keukeuh untuk tetap menjalankan tradisi minum teh kita itu sambil menggussip berita seputar teman-teman kita.

Pada saat itu I only had around 15 thousands rupiah kalo ngga salah, setelah dihitung-hitung maka kalo masih mau ada sisa dan untuk survive besok maka saya hanya bisa beli teh hangat saja tanpa yang lain-lain. Pada saat saya mau pesan that hot tea itulah saya lihat A dengan seseorang berjalan dan terlihat sangat intimate. Saya tidak mau berprasangka apa pun tadinya, saya hanya mikir, katanya dia mau belajar karena ujian dan sekarang kok dia ada di Plaza ? so then begitu my good friend kembali dari toilet, I told her tentang A ini …

D : “Orangnya dimana sekarang ?”
H : “Tadi sich jalan ke arah food court”
D : “Okay, you stay here and I found out what’s actually been going on”
H : “Okay.”

So pergilah D mencari A di area food court. Sambil menunggu D kembali, saya duduk dan mulai merokok sambil tentunya meniup-niup the hot tea yang entah kenapa kok hari itu rasanya panas banget.

Sepuluh menit kemudian datanglah D dan teh saya itu belum juga dingin.

D : “I think it’s better for us to move, I mean not sitting here”
H : “Why ?”
D : “Because I told A that I am not with you and I don’t want A to see you”

Walaah, ngga berusaha untuk jadi orang pelit tapi mengingat I have spent half of my money that I have untuk beli teh hangat dan duduk-duduk santai sambil ngobrol ngalor ngidul dan sekarang harus pindah gara-gara A.

H : “Gini yaa, I am not trying to be calculative but I have spent half of my money untuk beli this hot tea”

Dan dengan bodohnya saya minum pula teh panas itu dengan tergesa-gesa yang mengakibatkan lidah saya melepuh dan bibir saya panas serta mulut saya seperti naga yang baru saja mengeluarkan semburan apinya.

Lalu kita pindah dan D menceritakan hal ihwal tentang siapa yang bersama A dan juga hubungannya dengan saya.

Until now I still remembered tentang itu semua, anytime I talk with D melalui sms, telpon ataupun waktu ketemu kemaren waktu saya pulang ke tanah air the quote of “I am not trying to be calculative” selalu aja terselipkan dan kita berdua terbahak-bahak.

Kalau tadi diatas saya tidak ingat alasannya kenapa saya tiba-tiba teringat pengalaman dua tahun itu, now I remember .. karena saya hanya punya uang USD 10 dan malam ini ada undangan ajakan minum kopi bareng dengan beberapa teman-teman dari kedutaan asing lain. Saya cuman takut bahwa nanti setelah pesan kopi dan lain-lain tau-taunya harus pindah tempat lagi … oh noooooooooooooooo … tidak untuk kedua kalinya mulut saya harus berkorban lagi.

Thursday, November 10, 2005

dan kusapa pagi ini dengan penuh senyuman,
semoga hari ini semuanya berjalan baik dan lancar
sesuai apa yang diharapkan ..

doa ketika bangun tidur

Wednesday, November 09, 2005

SHALAT ...

sebenarnya ngga ada yang istimewa, cuman aja entah kenapa tiba-tiba tadi malam kok begitu selesai mandi, saya langsung ambil air wudhu dan melaksanakan shalat Isya. Ada kerinduan untuk bisa bincang-bincang dengan Yang Maha Besar, Yang Punya Hidup, Gusti Panutan umat manusia. seperti tadi pun ketika lupa tidak melaksanakan Dzuhur dan Ashar dan baru ingat pada saat Maghrib, seperti ada dentuman genderang yang membuat dada sesak dan merasa bersalah tak berkesudahan. bukan sesuatu yang berlebihan tapi inilah sesungguhnya yang saya rasakan. maksud saya menulis ini pun bukan untuk riya ... tapi sekedar mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran semata ...

terus terang aja, dalam shalat saya tidak meminta macam-macam, saya masih ingat salah satu ajengan pernah berkata pada saya bahwa sesungguhnya yang mulia pada setiap shalat fardhu adalah mengucapkan puji syukur yang tulus kehadirat Illahi Rabbi atas segala yang telah diberikan kepada kita karena sesungguhnya Dia Maha Mengetahui yang terbaik untuk diri kita

karena (lagi-lagi) kata ajengan saya, kalau mau minta ada waktunya sendiri yaitu pada saat shalat hajat atau shalat tahajud.

saya ingat beberapa tahun lampau ketika setiap kali bulan Ramadhan tiba maka tugas keluarga yang dibebankan kepada saya pun saya jalani, ... jaga toko parcel! .. sehari-hari selama menunggu toko itu saya ditemani oleh teman keponakan saya, sebut saja Y. saya tahu dari gelagat dan tingkah lakunya bahwa Y itu sebenarnya bukan orang yang taat beribadah atau bisa melafalkan ayat-ayat Illahi seperti ustadz jeffrey melantunkan kalam-kalam Illahi, .. tidak ... ! .. Y adalah seseorang yang cukup logis dan hedonis. naaah, yang bikin saya heran adalah ketika beberapa saat menjelang hari raya, Y ini mendadak rajin sekali menjalankan shalat lima waktu, terus mendadak rajin puasa (biasanya dari rumah saur tapi begitu sampai toko langsung bikin kopi panas dan menikmatinya dengan sebatang djarum super) bahkan begitu selesai sahur tidak langsung tidur tapi mainan hp untuk menunggu adzan subuh. saya dan keponakan saya tercengang-cengang melihat itu semua. puji syukur bahwa Allah telah membukakan matanya untuk dia.

setahun setelah kejadian itu, saya pulang ke bandung untuk berlibur sesaat dan bertemulah dengan keponakan saya, .. lalu saya bertanya mengenai Y ini, keponakan saya yang saya tanya hanya tersenyum dan yang lebih mencurigakan lagi adalah senyuman itu adalah senyuman melecehkan .. jadilah sebuah tanda tanya besar ...

lalu saya iseng menelpon Y dan saya bilang saya lagi di bandung dan kalau ada waktu mungkin we can have coffee together for the old time sake ... dan jawabannya adalah .. Om, gw sibuk, next time better kali yaa ...

agak terkejut juga saya, lalu saya cerita pada keponakan saya itu, ... keponakan saya tertawa terbahak-bahak, lalu berceritalah dia .. bahwa dulu itu Y mendadak alim karena dia lagi ingin memikat hati seorang gadis pujaannya ... lalu Y itu pun dalam setiap shalatnya selalu berdoa semoga Allah mau membukakan pintu hati si gadis untuknya semata ...

Gubrak .. gubrak .. gubrak ... !!! ... gantian saya yang bengong ...

well, bukan hal yang aneh tentunya .., tapi yang saya sesali adalah ketika semua telah dimakbulkan oleh-Nya ... kembalilah Y menjadi Y yang dulu ...

duuh Gusti kulo nyuwun pangampuro ... mudah-mudahan ini tidak pernah terjadi pada saya. saya tahu bahwa saya masih lalai menjalankan setiap perintah lima waktunya, terkadang dilaksanakan, terkadang tidak, namun saya berusaha untuk selalu mengucap syukur atas segala rahmatan dari-Nya hingga saya bisa kembali bangkit dan meraih kehidupan yang lebih baik dan lebih baik lagi ...

so ... shalat anyone ?
entahlah
sudah berjuta kata coba kurangkai
sudah berjuta huruf kujalin
namun semua seolah hilang
lenyap tak berbekas

bagai dentuman genderang kekecewaan
bertalu tak henti
menghujat diri, meramaikan pasar malam kebodohan
yang kini kujalani

tak lagi ada asa untukmu
tidak untuk satu titik pun

entahlah
sudah berjuta kata coba kurangkai, kujalin
namun ...

dentuman kecewa itu terlampau keras
menghantam tembok sang maha diraja kekecewaan

sakit namun itulah kejujuran
aku tak tahu lagi kebohongan apa yang kan kudengar
....

Tuesday, November 08, 2005

LEBARAN ...

Lebaran tahun ini nampaknya berlalu seperti tahun lalu. Nothing special happens, dan yang lebih menyayat hati adalah inilah untuk kedua kalinya Lebaran di negeri orang dan hanya bisa mendengar melalui telepon suara-suara hingar-bingar ketika menelepon teman-teman atau sanak saudara yang lagi asyik berkumpul.

Kalau ditanya ngapain aja Lebaran kemarin. Well, here goes the story ..
Malam Takbiran ngga kemana-mana, stay at Wisma dan ikutan bantuin Ibu KRT dan Juru Masak bikin persiapan untuk open house di Lebaran hari kedua. So, setelah bantu-bantu, I went directly to my room and continued reading Senopati Pamungkas I that written by one of my favorite author Arswendo Atmowiloto.

Di hari Lebaran yang jatuhnya sama dengan Lebaran di Tanah Air yaitu tanggal 3 November 2005, jam enam sudah dibangunkan oleh Ibu KRT terus langsung mandi dan turun kebawah sambil menunggu saatnya berangkat shalat Ied. Nyatanya Ibu KRT dan Juru Masak belum mandi dan bersiap-siap, alhasil duduk dengan manislah gue di dapur menikmati kopi dan roti.

Jam tujuh kurang seperempat berangkat ke Mesjid Toul Tom Pong dengan Tuk-Tuk. Tahun ini berhubung supir Wisma Indonesia hanya satu yang dinas maka para kawula dalem harus menggunakan tuk-tuk untuk berangkat shalat Ied.

Ketemu dengan beberapa masyarakat Indonesia yang juga akan melaksanakan shalat Ied. Suasana Lebaran sama sekali tidak terasa, entah kenapa kok rasanya hambar dan biasa aja walaupun alunan takbir, tahmid dan tahlil terus dikumandangkan. Om Dubes dan Tante datang ketika shalat hendak dimulai .. ehm, ini sudah menjadi satu hal yang biasa bahwa Duta Besar Indonesia selalu datang tepat waktu alias mepet, padahal sudah diberitahu bahwa harus datang lebih pagian karena hampir semua masyarakat muslim di Phnom Penh akan shalat Ied di Mesjid Toul Tom Pong mengingat Mesjid Besar Boeng Kok terkena imbas banjir dari danau di belakang mesjidnya.

Selesai shalat terus seperti biasa salam-salaman mohon maaf lahir batin, balik ke Wisma, terus melanjutkan sarapan yang tertunda setelah itu terus di kamar ngelanjutin baca lagi. In between telpon ke Indonesia, ngomong sama Bunda dan saudara-saudara yang lagi ngumpul dan tampaknya ramai sekali. Ada perasaan miris tapi I know that I may not regret for what I have decided waktu dulu ngambil kerjaan ini. I tried to keep thinking positive dan nampak susah beneur. Sore keluar sebentar setelah itu bantu-bantu lagi di dapur buat acara besok open house.

Jam duabelas malam masih cekikikan di dapur barengan sama Ibu KRT dan Juru Masak, mungkin this is the only hiburan yang bisa gue rasain untuk bisa ngilangin rasa kangen ngumpul dengan keluarga pas Lebaran.

Siang waktu telpon Bunda, she's so fine terus telpon gue kasihin ke Ibu KRT, begitu selesai ngomong sama Bunda dan telpon sudah ditutup, Ibu KRT bilang "Bunda tadi bilang pengen nangis soalnya udah dua kali Lebaran si Ragil ndak dirumah" .... aduuuhhh ... I am speechless.

Hari kedua Lebaran adalah Open House untuk masyarakat Indonesia yang ada di Kamboja. Sesuai jadwal bahwa Open House adalah pukul 11.30 sampai dengan pukul 16.00. Acara hari itu terbagi atas dua, satu untuk masyarakat Indonesia kemudian jam 18.30 - 20.30 adalah resepsi diplomatik untuk para kepala perwakilan negara asing / organisasi internasional.

Seperti biasa, acara berjalan dengan lancar. Tamu mulai berdatangan jam setengah duabelas dan sebagian besar datang setelah selesai Shalat Jumat. Jam tiga sore boleh dikatakan acara open house untuk masyindo sudah selesai. Langsung beres-beres untuk acara berikutnya jam setengah tujuh, setelah koordinasi dengan pihak dari Le Royale, gue segera bergegas untuk mandi dan ganti kostum tentunya.

Seperti yang terlihat dibawah ini ... hihihihi ...

Image hosted by Photobucket.com

kombinasi antara silk kamboja dan kain parang jawa ...